Jurus Mengatasi Krisis Ekonomi saat Corona

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
ilustrasi krisis ekonomi (Ilustrasi: Total Politik)

-

AA

+

Jurus Mengatasi Krisis Ekonomi saat Corona

Total Politik | Jakarta

Minggu, 12 April 2020 11:01 WIB


Beberapa jurus untuk mengatasi krisis ekonomi saat corona melanda terlampir di sini.

MEREBAKNYA virus corona di berbagai belahan dunia kini menimbulkan permasalahan serius.

Covid-19, nama resmi virus itu, telah banyak memakan korban. Setidaknya 8 ribu jiwa telah melayang dan 207 ribu orang terjangkit COVID. Virus itu juga merebak di 166 negara dunia per 19 Maret 2020.

Tentu, ini tak bisa dipandang remeh. Pasalnya, virus ini membuat negara-negara harus mengisolasi dirinya atau lockdown lantaran menahan wabah yang mematikan itu. Akibatnya, lockdown melumpuhkan aktivitas perekonomian, mengancam kesejahteraan masing-masing negara.

Termasuk di Indonesia. Wabah membuat masyarakat panik dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Belum lockdown saja, virus ini mampu mengistirahatkan aktivitas ekonomi penduduk. Tercatat pada Kamis, 19 Maret 2020, nilai tukar dolar mencapai Rp16.032.

Karena itu, jika persoalan ini dibiarkan terus-menerus, tentu akan mengancam keberlangsungan ekonomi tanah air. Jadi, apa yang harus dilakukan pemerintah untuk menanggulangi krisis selama corona melanda?

Perlu diperhatikan, ada beberapa instrumen atau program yang bisa dimaksimalkan negara untuk mengatasi krisis, sekaligus meminimalisir resiko ekonomi.

Elemen itu seperti anggaran belanja, Bantuan Langsung Tunai (BLT), program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), bantuan pangan nontunai, pajak, dan listrik.

Hal yang pertama dilakukan pemerintah adalah memprioritaskan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sementara untuk menuntaskan persoalan corona. Caranya, mengalihkan anggaran dari infrastruktur ke penanganan wabah dalam bentuk pembelian alat-alat kesehatan.

Untuk saat ini, keberadaan anggaran untuk infrastruktur belum dibutuhkan lantaran bersifat jangka panjang. Anggaran untuk penanganan wabah corona jauh lebih penting demi keselamatan rakyat.

Selanjutnya, pemerintah perlu menerapkan BLT guna memicu keberlangsungan hidup rakyat. BLT adalah program yang pernah digunakan pada era Susilo Bambang Yudhoyono dengan bentuk bantuan uang langsung secara tunai. Ada pun anggarannya bisa diambil dari anggaran pengalihan infrastruktur tersebut.

BLT harus diprioritaskan untuk rakyat kecil. Dengan adanya BLT, setidaknya dana tersebut bisa menyokong kehidupan rakyat sehari-hari. Meskipun ada kritik terhadap program ini, tetapi pemerintah telah memiliki pengalaman empirik dengan program ini sehingga lebih bisa diterapkan.

Selain itu, pemerintah juga perlu mendorong orang-orang yang belum ikut BPJS untuk ikut BPJS. Pemerintah bisa memberikan insentif potongan beberapa bulan seharga premi kelas 3 sebagai bentuk stimulus agar dapat menarik minat BPJS.

Diharapkan nantinya stimulus ini bisa meningkatkan jumlah kepesertaan dan pembayaran iuran BPJS. Sehingga, ini bisa lebih mempermudah negara bisa mengumpulkan uang tambahan guna membiayai kesehatan untuk pasien-pasien yang sakit.

Dalam segi pangan, pemerintah juga harus bisa memberikan program bantuan pangan non tunai, terutama pengendalian harga kebutuhan pokok lewat operasi pasar.

Peningkatan stok beras menjadi penting karena rakyat pasti membutuhkan stok pangan untuk sehari-hari, mengingat distribusi barang juga terbatas lantaran wabah corona.

Corona: Lockdown versus Penyelamatan Ekonomi Nasional

Selain kebutuhan pangan, pemerintah perlu menyediakan stok untuk kebutuhan kesehatan dan jaga diri, seperti sabun dan masker. Gunanya untuk mendukung upaya rakyat dalam hal pelindungan diri dari penyebaran penyakit.

Selanjutnya, pemerintah perlu menggratiskan listrik untuk ukuran 450-900 VA selama merebaknya wabah masih berlangsung.

Listrik adalah hal yang vital dalam kegiatan rakyat. Terlebih dengan listrik 450-900 VA, kebanyakan yang menggunakan ukuran listrik itu adalah rakyat kecil.

Sementara, rakyat kecil yang tak punya cukup modal adalah sasaran paling utama yang paling rawan dalam merebaknya wabah ini. Dengan menggratiskan listrik, setidaknya itu bisa mengurangi beban rakyat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Terakhir, meniadakan pajak, terutama untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Keberadaan peniadaan pajak penting untuk mempertahankan keberlangsungan usaha kecil dan menengah.

Hal ini penting lantaran keberlangsungan merebaknya wabah corona berpotensi mengakibatkan matinya usaha kecil dan menengah. Penjualan akan menurun karena tidak ada rakyat yang mau membeli produk lantaran takut terinfeksi.

Rakyat cenderung untuk menyimpan uang dan menjaga stok barang. Akibatnya, usaha-usaha tersebut bisa mati secara permanen.

Pengenaan pajak terhadap usaha kecil dan menengah tatkala wabah corona merebak akan melumpuhkan ekonomi mereka. Sebab, pajak itu akan sangat membebani mereka; ditambah corona, beban menjadi berlipat ganda. Untuk itu, pemerintah harus mendorong usaha kecil dan menengah agar tetap hidup selama wabah corona melanda. (AK)


0 Komentar