Kantong Bolong: Laku Spiritual sang Filsuf Jawa
Ajaran Kantong Bolong maknanya sangat dalam (Ilustrasi: Istimewa)

Sosrokartono merupakan sosok bumiputera yang sangat pandai dan sering menyuarakan nasionalisme dan kemerdekaan Indonesia.

“Murid gurune pribadi guru,

Murid pribadi pamulangane,

Sengsara sesami ganjarane,

Ayu lan arumi sesami”

(Guru sang murid adalah pribadi murid sendiri,

Murid sang guru adalah pribadi sang guru sendiri,

Bahkan, pelajaran baginya adalah kesengsaraan dan penderitaan sesama,

Pahalanya adalah kebahagiaan sesama hidup)


SETELAH sebelumnya membahas perjalanan pendidikan Sosrokartono, kesempatan kali ini penulis hendak menyampaikan kisah dari salah satu Filsuf Jawa ini melaui salah satu laku-spiritualnya, Kantong Bolong.

Kantong Bolong dalam bahasa dapat dimengerti sebagai sebuah kantong/saku yang bolong sehingga seolah tidak berisi. Makna tersebut kemudian dipahami oleh penulis sebagai laku Sosrokartono untuk tidak berorientasi pada materi.

Tidak berorientasi pada materi maksudnya adalah tidak melihat dari isi dalam saku dan/atau tidak sekadar mengakumulasi nominal yang ada dalam kantong pribadi. Sebagai manusia biasa, tidak relevan tentunya melihat prinsip ajaran Kantong Bolong.

Namun ajaran dari sosok yang tidak ingin disuara-suarake ini patut untuk dijadikan referensi. Sedikit mengingat perjalanan dalam artikel sebelumnya, Sosrokartono merupakan mahasiswa pertama Indonesia yang mengenyam bangku perkuliahan di Negeri Kincir Angin.

Kurang lebih satu dekade bergelut dengan buku, akhirnya beliau mampu menyabet gelar Doktorandus (Drs). Pasca lulus, Sosrokartono tetap meniti karier di Benua Biru. Beliau memulai karier dengan menjadi jurnalis perang dalam Perang Dunia I (PD-1).

Selanjutnya, Sosrokartono menjadi ahli bahasa untuk kedutaan besar negara-negara di Eropa dan sempat bekerja untuk Liga Bangsa-Bangsa (LBB). Deretan karier tersebut menjadi prestasi bertinta emas yang layak disematkan bagi Sosrokartono.

Karier yang cemerlang tersebut seolah menegasikan implikasi bahwa kakak kandung R.A. Kartini ini hidup tanpa bergelimang harta. Namun itu berlaku di kala Sosrokartono melalang buana di daratan empat musim tersebut.

Setelah hampir tiga dekade belajar dan berkarier di Benua Eropa, Sosrokartono memilih untuk menanggalkan karier dan kenangannya di sana. Sosrokartono memilih kembali ke tanah air dan hidup di sebuah kontrakan di daerah Bandung, Jawa Barat.

Di kontrakan yang kemudian diberi nama Dar Oes Salam (baca: Darusalam), Sosrokartono memulai hidup sederhananya. Sosrokartono sempat menjadi kepala sekolah di perguruan Taman Siswa cabang Bandung milik Ki Hadjar Dewantoro.

Mengabdi dalam dunia pendidikan beliau pilih guna melanjutkan cita-cita R.A. Kartini. Kartini merupakan adik tercinta yang telah berpulang menuju keabadian saat Sosrokartono sedang menimba ilmu di Negeri Belanda.

Disisi lain, kepulangan Sosrokartono ke Indonesia juga selalu dianggap ancaman bagi penjajah kala itu. Alasannya sederhana, Sosrokartono merupakan sosok bumiputera yang sangat pandai dan sering menyuarakan nasionalisme dan kemerdekaan Indonesia.

Beberapakali Sosrokartono ditawari jabatan tinggi oleh pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, namun baliau selalu menolaknya. Motif penawaran tersebut agar mengurangi sepak terjang Sosrokartono. Sejak itu, gerak-gerik Sosrokartono selalu dicurigai oleh pihak penjajah.

Karena tidak ingin membebani yang lain, Sosrokartono memilih untuk tidak melanjutkan pengabdiannya sebagai kepala sekolah. Beliau memilih untuk melanjutkan padepokan Dar Oes Salam yang digunakan untuk wahana belajar dan praktik pengobatan.

Di sinilah banyak masyarakat yang menganggap bahwa Sosrokartono memiliki keahlian luar biasa. Meskipun tercatat pernah belajar tentang Psikometri (ilmu dalam rumpun medika) di Perancis, metode pengobatan yang dilakukan Sosrokartono terbilang langka dan unik saat itu.

Beliau sering disebut dokter air putih dan manusia alif. Hal ini dikarenakan proses/metode pengobatan yang beliau lakukan selalu melalui perantara air putih. Air tersebut biasanya diletakkan di atas meja yang berada di bawah lukisan berlafalkan “Alif” dalam bahasa Arab.

Beberapakali Sosrokartono dimintai tolong untuk melalukan pengobatan di luar kota. Aneh tapi nyatanya, beliau tidak pernah meminta dan enggan untuk diberikan uang/honor atas jasanya. Sekalinya mendapatkan bayaran, hasilnya dibagikan kepada yang membutuhkan.

Prinsip untuk menolong sesama dan tidak ingin mengakumulasi kekayaan menjadi praktik atas ajaran Kantong Bolong yang Sosrokartono yakini. Beberapa kali Sosrokartono memberikan gambaran ajaran tersebut melalui surat-surat yang yang beliau tuliskan.

Namun Sosrokartono menekankan proses kanthi laku (dengan perilaku/dipraktikan) untuk mengamalkan prinsip ajaran tersebut. Karena pada dasarnya, ajaran Kantong Bolong tidak bisa dimaknai sekadar dalam tulisan/bahasa namun harus dalam praktik sehari-hari.

Salah satu ajaran Sosrokartono inilah yang sering dimaknai mengandung amalan Zuhud. Konsep Zuhud pada hakikatnya berupa menjauhkan keduniawian dari hati dan pikiran sehingga mereka tampak kecil dan tak berarti.

Zuhud merupakan bagian/maqam dari Tasawuf. Tasawuf berasal dari kata shafa (bersih) dan shuf (bulu-domba) yang artinya adalah pola spiritualitas untuk pembersihan jiwa. Perumpamaan seperti kaum Zahid Klasik sebagai simbol kesederhanaan.

Prinsip hidup Sosrokartono ini sebenarnya juga mengandung ajaran-ajaran agama. Salah satunya, dalam agama Islam dikenal HR. Ahmad dan Thabrani: “Khaira al-nnasi anfa’uhum li al’nnasi”, yang artinya “Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama (manusia lain)”.

Dalam konsep kejawen atau sering dikaitkan dalam ajaran Hindu, Sosrokartono telah menyampaikan bahwa ilmu tanpo laku iku mati (ilmu tanpa dipraktikkan akan mati). Selain itu, Sosrokartono menekankan pada konsep Catur Murti.

Catur murti mengandung 4 pokok prinsip yang harus diperhatikan. Mulai dari Mikir (berfikir), Rumangsa (merasa/kepekaan), Ngendiko (bertutur-kata), dan Tumindak (berperilaku). Menimbang keempat prinsip tersebut dalam agama Islam juga dikenal sebagai konsep Taqwa.

Oleh karena itu, Kantong Bolong ala Sosrokartono bersandar pada sikap humanis dan religius. Tidak menuhankan kekayaan, harta, jabatan, dan hal-hal keduniawian lainnya. Lebih tepatnya, hakikat kehidupan bertujuan untuk mengabdi kepada sesama manusia.

Begitulah pengalaman sekaligus pengamalan sosok tauladan, Sosrokartono. Bukan tidak mementingkan, melainkan telah selesai dengan materi. Relevan atau tidak dengan kondisi saat ini menjadi seni-tanggapan bagi masing-masing yang membacanya. Dilakukan atau tidak, pilihan.

Rasionalisasi bertindak dan berfikir yang akan menjadi salah satu penuntun. Faktanya, sosok Sosrokartono pernah ada dan dikisahkan sedemikian rupa. Semoga niat dan amalan baik beliau dapat memberikan insight dan inspirasi baru bagi penulis dan pembaca.


Penulis: Selasar Network