Kapal China Tetap Membandel, TNI Tambah Kekuatan Empat Kapal Perang
Pangkogabwilhan I, Laksamana Madya TNI Yudo Margono. (Foto: Istimewa).

TANJUNGPINANG, HALUAN.CO -Kapal coast guard berbendera China yang mengawal kapal-kapal nelayan mereka tetap membandel melakukan aktivitas penangkapan ikan di perairan Natuna.

Upaya yang telah dilakukan TNI melalui shadowing (mengikuti) melalui komunikasi aktif kepada mereka dengan harapan mereka dapat persuasif keluar wilayah perairan NKRI di Natuna. Namun mereka tidak mengindahkannya.

"Sampai sekarang mereka tetap bertahan dengan alasan bahwa mereka melakukan kegiatan legal sesuai kemauan dia untuk mendampingi kapal-kapal ikan mereka yang sedang melakukan penangkapan ikan,” ungkap Pangkogabwilhan I Laksamana Madya (Laksdya) TNI Yudo Margono, Tanjungpinang, Minggu (5/1/2020), dikutip Haluankepri.com, jaringan Haluan Media Group (HMG) di Batam.

Untuk itu, lanjut Yudo Margono, TNI akan memperkuat pertahanan melalui unsur-unsur dari Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) I dengan tambahan kekuatan 4 KRI kekuatan, sehingga jumlahnya menjadi 6 KRI.

Kekuatan tempur dari 6 KRI dari jajaran Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) tersebut terdiri KRI Sultan Thaha Syaifuddin-376, KRI Sutanto-337, KRI Imam Bonjol-388, KRI Teuku Umar-385, KRI Todak-631, KRI Balikpapan-901, kemudian ditambah satu pesawat udara jenis P-861.

“Besok akan kita laksanakan pengusiran kembali. Selama ini terdeteksi dua kapal mereka dan satu kapal pengawas perikanan, serta kapal penangkap ikan China lainnya di wilayah ZEE sekitar 130 Mil perairan Natuna tersebut,” tegas Yudo Margono.

Ditanya sampai kapan batas waktu yang diberikan pihak TNI terhadap aktifitas kapal-kapal ikan China tersebut, Jenderal TNI bintang tiga ini belum memiliki batas waktu yang ditentukan. Karena, lazimnya memang operasi sehari-hari yang telah digelar di laut Natuna, karena fokus terhadap kerawanan yang tinggi di wilayah perairan itu.

“Kita hanya fokus terhadap kerawanan di wilayah perairan Natuna dengan menambah kekutan yang ada sebagaimana operasi yang telah kita lakukan sehari-hari di wilayah itu sebelumnya. Berapa lama batas waktunya, sampai mereka keluar dari wilayah perairan Indonesia melalui persuasif lebih dulu,” paparnya.

Saat ditanyakan apakah ada kapal asing dari negara lain yang melakukan aktivitas yang sama menangkap ikan di wilayah perairan Natuna, Yudo Margono menjelaskan, sampai kini yang berjarak sekitar 130 mil dari Timur Laut Ranai, Natuna, hanya kapal-kapal Cina.

“Kalau yang lain seperti dari Vietnam, sudah tidak berani masuk lagi ke wilayah perairan Indonesia, karena sudah banyak yang ditangkap dan ditindak tegas. Mereka (kapal asing lain) itu hanya berada di wliayah utara batas landas kontinen,” jelasnya.

Disinggung apakah di dalam kapal-kapal ikan cina tersebut juga ada disusupi oleh unsur kekuatan tentara dari cina selain berada di kapal coast guard mereka, Pangkogabwilhan I ini menyebutkan, sejauh ini pihaknya belum mengetahui lebih dalam tentang hal itu, karena belum sempat dilakukan pemeriksaan.

“Tindakan kita baru sebatas negosiasi dengan mereka agar mengajak kapal-kapal ikan mereka itu keluar dari ZEE Indonesia secara damai dan tidak perlu ada permusuhan. Jadi belum sampai memeriksa kapal-kapal ikan mereka,” terangnya.

Margono juga menyebutkan, pada operasi sekitar tiga tahun lalu, pihak TNI AL juga pernah melakukan penangkapan kapal-kapal ikan cina pada saat berada di posisi lebih jauh dari bagian paling utara.

“Khusus untuk kapal coast guard itu saat ini, sesuai hukum laut internasional, tindakan yang dilakukan dengan cara mengusir mereka,” jelasnya.

Disinggung apakah ada tindakan tegas berupa tembakan peringatan terhadap kapal-kapal China tersebut, Margono menyatakan, hal itu belum perlu dilakukan oleh TNI, melainkan tetap melalui tindakan persuasif, agar hubungan strategis yang sudah terjalin baik antara Indonesia dengan China selama ini.

“Kita akan tetap menggunakan cara-cara yang persuasif. Namun secara diplomatik, permerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri telah melakukan protes keras terhadap pemerintahan China. Sedangkan harapan kita yang dibawah ini, sebaiknya dilakukan secara damai dan sejuk,” pungkasnya.