Karier Boris Johson, Mantan Wartawan Jadi PM Inggris
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson. (Foto: Axios)

INGGRIS, HALUAN.CO - Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson berhasil menang telak dalam pemilu parlemen yang digelar Kamis (12/12/2019) lalu.

Berdasarkan penghitungan suara, partai Konservatif yang dipimpin Boris berhasil meraih 341 kursi dari total 650 kursi parlemen. Sementara pesaing terberat Konservatif, Partai Buruh pimpinan Jeremy Corbyn, hanya mampu meraup 200 kursi parlemen.

Hasil pemilu ini memiliki implikasi besar untuk proses Brexit yang berliku di Inggris, dimulai dengan referendum Uni Eropa 2016.

Boris Johson, sebelum terjun ke dunia politik ia adalah seorang wartawan. Ia menapaki karier dari reporter, asisten redaktur, hingga editor sebuah majalah.

Boris pernah menjadi reporter The Times pada 1987. Namun, dia dipecat karena mengarang sebuah kutipan. Dia kemudian melamar ke The Daily Telegraph, sebagai koresponden yang meliput Komunitas Eropa pada 1989-1994.

Pada 1994-1999, dia sudah menjabat sebagai asisten redaktur (asred). Jabatan terakhirnya sebagai wartawan adalah editor sebuah majalah hingga 2005.

Meski sebagai asred atau redaktur, pada 1997, Boris sudah terpilih sebagai kandidat Konservarif untuk Clwyd South di House of Commons. Namun, dia kalah telak oleh petahana Partai Buruh Martyn Jones.

Setelah itu, pria kelahiran Dia lahir di New York City, Amerika Serikat, 19 Juni 1964 ini mulai muncul di berbagai acara televisi, dimulai pada 1998 dengan program BBC. Sikapnya yang kikuk dan komentar yang terkadang tidak sopan membuatnya menjadi populer di acara bincang-bincang Inggris.

Meski sering muncul di program televisi Inggris dan menjadi politikus terkenal di negara itu, karier politik Boris sempat jatuh bangun.

Pada 2004, Boris diberhentikan dari posisinya sebagai Menteri Seni Bayangan, setelah desas-desus muncul dari perselingkuhan antara dirinya dengan seorang jurnalis. Terlepas dari teguran publik seperti itu, Boris terpilih kembali ke kursi parlemen pada 2005.

Boris kemudian maju sebagai calon wali kota London pada Juli 2007. Pada 1 Mei 2008, Boris dinyatakan menang. Pada 2012, Boris terpilih kembali sebagai wali kota.

Lalu dia kembali ke Parlemen dan memenangkan kursi London barat Uxbridge dan South Ruislip. Dia pun mempertahankan posisinya sebagai wali kota London.

Ketika Theresa May menjadi pemimpin Partai Konservatif dan PM Inggris, dia menunjuk Boris sebagai menteri luar negeri. Boris mempertahankan kursinya di House of Commons dalam pemilihan umum yang dipanggil Mei untuk Juni 2017, dan ia tetap menjadi menteri luar negeri ketika May mengubah kabinetnya.

Dari perjalanan panjang Johnson, dia akhirnya terpilih menjadi Perdana Menteri Inggris lewat Partai Konservatif yang memenangkan mayoritas suara parlemen.

Saat berkarier dijalur politik, Boris terus menulis. Dari tulisannya itu banyak karya yang sudah di keluarkan Boris diantaranya Lend Me Your Ears (2003), kumpulan esai; Seventy-two Virgins (2004), sebuah novel; dan The Dream of Rome (2006), survei sejarah Kekaisaran Romawi.