Kartini, Gagasannya Menembus Cakrawala Dunia

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Kartini, gagasannya menembus cakrawala dunia

-

AA

+

Kartini, Gagasannya Menembus Cakrawala Dunia

Sejarah | Jakarta

Selasa, 21 April 2020 19:32 WIB


Gagasan Kartini tak hanya berskala nasional, tetapi juga internasional. Para pejabat, ataupun intelektual mancanegara, turut menghormatinya sebagai emansipator perempuan.

WAFATNYA Raden Ajeng Kartini pada 17 Sepember 1904 bukan berarti tak meninggalkan hal yang berarti. Gagasannya mempengaruhi banyak orang, baik nasional maupun internasional.

Pada tahun 1913, didirikan suatu Yayasan swasta bernama Kartini Fonds, atau “Yayasan Kartini.” Yayasan ini kemudian mengurusi pendidikan berbahasa Belanda bagi kaum wanita Jawa, lalu Pemerintah Kolonial memberikan subsidi untuk belajar bahasa tersebut.

Sekolah-sekolah Kartini yang didirikan yayasan ini di Jawa mempunyai peran penting pada masa mendatang. Kartini dikenang sebagai tokoh emansipasi wanita yang pertama dan tokoh kebangkitan nasional.

Namun tak hanya itu, ternyata, pemikiran-pemikiran Kartini mengenai emansipasi wanita melintasi dan melampaui batas-batas regional: tak sebatas Batavia belaka, tetapi merentang hingga melintasi bentangan negeri-negeri Asia dan Eropa.

Buah utama pikirannya ada pada surat-surat Kartini yang dikumpulkan oleh JH Abendanon, lalu diterbitkan dalam buku Door Duisternis tot Licht (1911)—yang kelak diterjemahkan Armijn Pane menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang.

Buku itu menceritakan bagaimana perjalanan hidup Kartini—yang kelak menginspirasi perempuan-perempuan Indonesia. Berbagai keluh kesah, gagasan, dan ide Kartini tentang bagaimana mengemansipasi perempuan dari segala ketertindasan hidup terkuak dalam buku itu.

Door Duisternis tot Licht kemudian dibagikan kepada orang-orang banyak untuk menginspirasi gerakan emansipasi perempuan. Gagasannya mampu mendobrak batas-batas budaya, yakni kolonial dan tradisional, secara kritis dan proporsional dengan penuh kebijaksanaan.

Buku terbitan Abendanon itu mendapat sambutan positif yang luas.

Sejarawan Yuda B. Tangkilisan mencatatnya dalam tulisan Sekilas Tentang Representasi Raden Ajeng Kartini dalam Ranah Persepsi, Pemahaman, dan Pemaknaan dari Perspektif Mancanegara.

Di Indonesia sendiri, perjalanan hidup Kartini direkam dalam beberapa karya.

Muncul karya-karya tentang Kartini dari beberapa sastrawan dan penulis, seperti roman Panggil Aku Kartini Saja milik Pramudya Ananta Toer (1962/2003); Kartini: sebuah Biografi milik Sitisoemandari Soeroto (1976); dan Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya milik Sulastin Sutrisno (1979).

Kartini juga dicatat dalam penulisan sejarah Indonesia.

Bahwa, sosok dan perjuangan Ibu Kartini dibahas dalam genre penulisan seperti Sejarah Pergerakan Nasional dan Sejarah Perempuan. Beberapa sejarawan seperti Petrus Blumberger, J. Pluvier dan D. W. G. Koch menuliskan nama Kartini.

Pemberantasan Penyakit Era Awal Suharto

Generasi berikutnya meliputi berbagai sejarawan terkemuka, seperti Harry J. Benda, R. van Niel (1984) dan W. Wertheim, Heather Sutherland (1983), Akira Nagazumi (1989), John Legge, John Ingleson (1983), Benedict Anderson, William Frederick (1989), Susan Abayesekere dan lainnya.

Generasi yang lebih muda lagi juga masiih menuliskannya, seperti Keith Foulcher, Frank Dhont (2005), Joost Cote (1992, 1995).

Sementara dalam konteks dunia, Kartini diperhitungkan sebagai pemikir emansipator perempuan yang diperhitungkan. Karyanya diterjemahkan ke berbagai bahasa asing, lalu menjadi bahan diskusi.

Seorang intelektual, Jean Gelman Taylor, menegaskan bahwa surat-surat Kartini diterjemahkan dalam banyak bahasa. Kartini, sebutnya, menjadi subyek dalam artikel dan buku-buku oleh penulis beberapa negara. Kehidupannya dikreasikan dalam novel dan sinema.

“She is remembered, is honoured as a national heroine, and her birthdate is marked for public celebration. She has been introduced into the nation’s mythology as a precursor of the nationalist revolution. Schools are founded in her name,

(Dia dikenang, dihormati sebagai pahlawan nasional, dan tanggal lahirnya ditandai untuk perayaan publik. Dia telah diperkenalkan ke dalam mitologi bangsa sebagai pelopor revolusi nasionalis. Sekolah didirikan atas namanya), ” ungkap Jean.

Seorang akademisi, Agnes Louise Symmers, meluncurkan terjemahan Bahasa Inggris Door Duisternis tot Licht di New York pada 1920.

Sastrawan Belanda terkemuka, Louis Couperus, juga memberikan kata pengantar pada terjemahannya yang mengalami cetak ulang beberapa kali.

Pada 1926, penyebaran buku itu mampu menjangkau negeri Arab dengan terjemahan Arab yang berjudul Alhajat Alkadimat Walruh Alhadissya: Bikalam Raden Adidjin Kartini.

Kemudian, buku ini sampai ke negeri Sakura. Pada 1955, terbit terjemahan buku itu yang berjudul Hi Kariwa Ankoku wo Koete: Kartini no Tegami.

Selanjutnya, masyarakat Prancis disuguhkan terjemahan karya itu dengan judul Lettres de Raden Adjeng Kartini: Java en 1900.

Pada perayaan 100 tahun Kartini, berbagai perwakilan negara juga memberikan apresiasi dan penghormatan terhadap dirinya.

Duta Besar Australia, YM TK Critchley, menyatakan bahwa Kartini adalah wanita muda yang kakuatan dan karakternya berani, dan bebas dalam cara berpikirnya.

“Adalah penting untuk membaca tulisan-tulisan Kartini dan mengagumi betapa ia telah diilhami oleh idealisme, patriotisme dan semangat kemanusiaan yang luhur,” kata Critchley.

Duta Besar Kerajaan Inggris, TJ O’Brien, menyebut pentingnya Kartini sebagai tokoh nasional sudah tidak diragukan lagi.

Sejarah kehidupan Kartini, baginya, telah memberikan penghargaan, “di mana kecakapan kaum perempuan serta kesanggupannya, dilaksanakan di bawah pemerintah baru Republik.”

SS. Iqbal Hosain, Duta Besar Pakistan, meninjau Kartini sebagai pelopor emansipasi wanita Indonesia. Kata dia, Kartini menjadi nama yang seringkali menjadi sumber inspirasi bagi kaum perempuan Pakistan.

“Kartini pejuang besar Indonesia, sayang sekali telah wafat pada usia muda yaitu 25 tahun, namun sahamnya untuk emansipasi wanita besar sekali, sangat berharga dan menjadi contoh teladan,” kata duta besar itu.

Begitulah, Kartini tak sekadar hidup. Hanya dengan surat-surat yang ia tulis, dia mampu menggugah banyak orang di segala penjuru dunia. Kehadirannya menginspirasi dalam mewujudkan keadilan yang diimpikan. (AK)


0 Komentar