Kasus Pembunuhan Hakim di Medan Bermotif Asmara
Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol. Martuani Sormin menyampaikan keterangan pers terkait kasus pembunuhan hakim Jamaluddin di Mapolda, Medan, Rabu (8/1/2020). (Foto: Waspada)

MEDAN, HALUAN.CO - Berdasarkan hasil penyelidikan dan barang bukti diperoleh polisi, kasus pembunuhan hakim PN Medan Jamaluddin bermotif asmara.

“Motif pembunuhan berencana ini masih dilakukan pendalaman. Namun kuat dugaan dilatarbelakangi masalah keluarga dan asmara. Ini masih kita dalami,” ujar Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol. Martuani Sormin, di Mapolda, Medan, Rabu (8/1/2020).

Didampingi Direktur Reserse Kriminal Umum Kombes Pol. Andi Rian dan Kapolrestabes Medan Kombes Pol. Jhonny Edison Isir, Kapolda mengatakan, saat ini ketiga terduga pelaku yakni JP, RF dan ZH resmi menjadi tersangka dan juga ditahan. Ketiganya akan dikenakan pasal 340 pembunuhan berencana, junto pasal 338.

Menurut Kapolda Sumut itu, kasus pembunuhan hakim itu sangat rapi, karena dari hasil forensik korban awalnya disebutkan mati lemas dan tidak ditemukan tanda kekerasan.

“Tapi melalui hasil lab forensik diketahui bahwa pelaku (sebelum pembunuhan) ada berkomunikasi dengan ZH (istri korban)," ungkap Kapolda dilansir Waspada.


Dari hasil pemeriksaan diketahui bahwa istri korban merekrut dua eksekutor untuk menghabisi nyawa korban. Adapun eksekusi dilakukan 29 November di kediaman korban di Perumahan Royal Monaco, Medan Johor. Para pelaku sudah ada di rumah sebelum korban pulang dari kantor.

Menikah Tahun 2011

Sementara, berdasarkan press rilis dikeluarkan Polda Sumut, pernikahan antara korban dengan ZH dilakukan 2011 dan telah dikaruniai seorang anak perempuan. Seiring waktu, ZH cemburu karena ia merasa diselingkuhi oleh korban.

Pada Maret 2019, ZH berniat menghabisi nyawa korban dan meminta seseorang berinisial J membunuh korban, namun J tidak bersedia. Sementara, ZH telah mengenal JP sejak 2018 karena anak mereka satu sekolah dan menjalin hubungan asmara karena sering bertemu.

Selanjutnya pada 25 November 2019 ZH dan JP merencanakan aksi pembunuhan di sebuah coffee shop di kawasan ringroad serta memberitahukannya kepada RF. Setelah bersepakat, ZH pun memberikan Rp2 juta kepada RF untuk membeli handphone kecil, t-shirt, sepatu dan sarung tangan.

Selanjutnya pada 28 November 2019 malam, kedua pelaku pun mendatangi rumah korban dan naik ke lantai 3. Setelah mendapatkan aba-aba dari ZH, keduanya melakukan eksekusi dengan membekap hidung dan mulut korban hingga tewas.