Kasus Penyelundupan Garuda Indonesia: Betapa Amboinya Tradisi Titip pada Instansi Kerja
Maskapai Garuda dicemari sang dirut yang kemudian dipecat Menteri BUMN. (Ilustrasi: Haluan.co)

Barang selundupan itu berupa suku cadang Harley Davidson produksi Amsterdam dan sepeda lipat Brompton yang diselundupkan melalui penerbangan dari Prancis. Lantas, kenapa hal ini bisa berujung pemecatan?

JAKARTA, HALUAN.CO - Harley Davidson dan Brompton adalah dua merk tersohor. Satu pihak, Harley terkenal sebagai motor gede yang memiliki previlese di jalan raya. Sebab hanya dimiliki oleh mereka-mereka yang punya jabatan dan penghasilan tinggi.

Sedangkan Brompton adalah merk sepeda lipat dengan harga di atas 30 juta. Kerap digunakan oleh para eksekutif di kota metropolitan. Sepeda lipat ini terbitan Inggris, dan mulai mengaspal sejak tahun 1976 dengan ide brilian Andrew Ritchie.

Bahkan, konon para anggota Kerajaan Inggris memakai Brompton dalam kegiatan sehari-hari di lingkungan istana-istana mereka masing-masing. Bisa dibayangkan betapa amboinya penunggang Brompton ini, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia. Julid mode --- On.

Sayangnya, kabar menggelitik datang dari perusahaan pelat merah tersohor, Garuda Indonesia. Di mana direktur utamanya Ari Ashkara (AA) dipecat oleh Erick Thohir, Menteri BUMN. Pasalnya, AA dengan sengaja nitip barang selundupan melalui salah satu pesawat dari maskapai yang dia pimpin.

Barang selundupan itu berupa suku cadang Harley Davidson produksi Amsterdam dan sepeda lipat Brompton yang diselundupkan melalui penerbangan dari Prancis. Lantas, kenapa hal ini bisa berujung pemecatan?

Pertama, tentu hal ini masuk dalam ranah pidana. Sebab, penyelundupan macam ini langsung berurusan dengan Dirjen Bea dan Cukai. Kita tahu dong kalau membeli barang dari luar negeri itu harus membayar pajak masuk ke Indonesia. Hal ini berlaku bagi semua orang, tanpa terkecuali. Meskipun anda bos besar perusahaan pelat merah. Padahal lho ya gaji besar, masih aja nilep kau bhambaank….

Kedua, hal ini tentu merusak reputasi perusahaan pelat merah sekelas Garuda Indonesia. Salah satu maskapai terbaik di negeri ini. Dan tentu, kesayangan Kementerian BUMN dong. Pantas saja, Erick Thohir langsung tancap gas memecat AA dari jabatan Direktur Utama. Hal ini wajar karena memang tindakan AA menggunakan fasilitas perusahaan untuk kepentingan pribadi, ditambah tindakan penyelundupan bisa merusak kepercayaan publik pada perusahaan itu.

Lantas, apakah hal seperti itu umum di Indonesia?


Tentu hal ini sangat debatable, tapi kita sama-sama tahu, bahwa tak jarang masyarakat kita menggemari budaya “titip”. Baik itu titipan oleh-oleh, hingga titipan barang dari luar negeri. Hal ini umum terjadi pada jamaah haji, hingga rombongan wisata tertentu.

“Eh jeng katanya mau ke Yurop ya? Aku titip tas yang kayak gini dong, kulitnya dari kulit Anoa nih. Mahal kalau di sini. Biar keliatan ori”

Begitu kiranya, seseorang yang erat dengan budaya “titip” memulai aksinya. Padahal, tak jarang, barang-barang itu juga mudah ditemui di Glodok. Atau, bahkan produksi dalam negeri yang kebetulan diimpor ke Eropa. Yah, namanya juga gengsi bou, kalau gak dipenuhi bisa jadi keki tuh…

Parahnya, budaya “titip” ini juga tak jarang ditemui pada instansi kerja, baik swasta maupun pelat merah. Pasalnya, ikatan persaudaraan di negeri ini konon begitu eratnya. Khususnya rasa sungkan pada kolega jika bepergian tanpa membeli oleh-oleh. Atau memang ada atasan yang suka iseng nitip ini dan itu. Apesnya, mungkin pilot Garuda yang dititipi barang selundupan itu langsung mendapat titipan kelas berat dari direktur utamanya.

Apa mau dikata, jika jabatan sudah bicara, mau apa Anda yang terikat struktur fungsional. Meski di luar job desk dan menyalahi aturan, namun rasa sungkan terkadang lebih sulit ditolak daripada integritas. Namun, tetap saja, si empunya jabatan juga tidak tahu diri, halo Paaak, jual beli online udah banyak tau, lebih aman dan nyaman…

Toh, kalau memang mampu membeli barang-barang luks, harusnya berani dong menanggung tanggung jawab untuk membayar pajak. Bukannya menyelundupkan pakai aset perusahaan.

Eh, tapi kan previlese beyond anything Mas?

Oh, iya juga ya. Konon, modal sosial bernama previlese ini memang cukup menguntungkan dan memiliki waktu berlaku jangka panjang.

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat yang punya previlese!!!


Penulis: Algonz Dimas B. Raharja