Kata Kivlan, Duit Rp50 Juta dari Habil untuk Makan Siang 10 Ribu Orang
Mayjen TNI Purn Kivlan Zen. (Foto: Haluan/Tio)

JAKARTA, HALUAN.CO - Mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis AD Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen menjelaskan, dalam dakwaan pada 8 Maret 2019, diungkapkan bahwa dirinya di toll Taman Mini memberi Iwan uang Rp50 juta untuk membeli senjata dan 10 juta kepada Tajudin untuk operasional.

"Uang 50 juta adalah untuk dana demo pada tanggal 12 maret 2019, bukan untuk beli senjata apalagi Iwan sudah punya senjata sejak tanggal 5 Maret 2019," kata Kivlan saat membacakan eksepsinya dalam sidang lanjutan terkait kasus dugaan kepemilikan senjata api ilegal di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (22/1/2020).

Kivlan Zen Sebut Senpi Laras Panjang Hanya Cocok Bunuh Tikus

Kivlan menegaskan, bagaimana mungkin ia memberi uang Rp50 juta untuk beli senjata. Sebab, Iwan sudah punya senjata sejak 6 Maret 2019, bahkan sejak februari 2019. Kemudian, Tajudin menunggu dalam mobil di depan pertigaan jasa marga tidak bersama Iwan.

" Terdakwa tidak pernah memberi tajudin 10 juta untuk operasional, seperti pada waktu rekonstruksi, tidak ada adegan terdakwa memberi tajudin 10 juta. Kenapa dakwahnya seperti itu?" tanya Kivlan.

Pria yang sudah berusia 73 tahun itu kembali menerangkan isi eksepsinya. Dalam dakwaan, pada 10 Maret 2019 Iwan bertemu Habil Maranti dan diberi Rp10 juta, 15 Maret 2019 diberi lagi oleh Habil Maranti sebesar Rp50 juta.

Dana dari Habil Maranti tersebut, kata Kivlan, adalah untuk menambah kekurangan pemberian uang waktu di Rumah Makan (RM) Padang pada 9 Maret 2019 dan toll Taman Mini pada 8 Maret 2019. Kemudian, digunakan juga untuk memberi makan siang demonstrasi 12 Maret 2019 yang berkekuatan 10.000 orang.

"Pada jawaban termohon Polda pada Prapid tertanggal 23 Juli 2019 bahwa terdakwa waktu di RM Sederhana meminta Iwan agar besok memenuhi Habil Maranti dan terima tambahan dana untuk demo, sedangkan Iwan menemu Habil Maranti tanggal 10 Maret 2019. Berarti pertemuan terdakwa dengan Iwan di RM Sederhana adalah tanggal 9 Maret 2019 bukan 9 Februari 2019, dimana terdakwa berada di Sukabumi saat itu sehingga tidak mungkin terdakwa berada di dua tempat dalam waktu yang bersamaan," tegas Kivlan yang membacakan eksepsinya sambil terbaru-batuk.

Ia juga meminta agar video yang viral tentang testimoni Iwan pada April 2019 dan CCTV di RM Padang Kelapa Gading didkawakan memberikan uang 1.5000 $ pada maret 2019 agar dibuka hari ini.

Karena, dalih Kivlan, dana baru diterima Rp10 juta dari Habil Maranti pada 10 Maret 2019 dan Rp50 jutanya pada 15 Maret 2019. Maka dana tersebut tidak bisa dipakai untuk demo 12 maret 2019.

"Disamping itu demo tidak dilaksanakan oleh Iwan, maka dana yang diterima Iwan adalah 145 juta +50 juta + 60 juta = 225 juta. Tidak terpakai untuk demontrasi 12 Maret 2019," tukasnya.