Keajaiban Sistem Skoring Yang Dapat Memprediksikan Hidup Atau Meninggalnya Pasien Corona
Virus Corona Telah Merenggut Banyak Nyawa (Sumber: Futurism)

Sudah hampir kurang lebih 4 bulan dari awal virus corona terdeteksi. Walaupun semakin banyak hal yang kita pelajari tentang virus ini, masih terdapat banyak kontroversi dan tanda tanya meliputi virus ini. Namun, satu hal yang pasti, para klinisi dan peneliti telah menemukan sistem skoring yang dapat meningkatkan resiko kematian seorang pasien corona.


SEBERAPA banyak dari Anda yang pernah membaca artikel mengenai dokter-dokter di Italia yang kewalahan menangani pasien Corona di Italia. Dilansir dari The Atlantic, dokter-dokter di Italia telah membatasi rentang usia pasien Corona yang dapat masuk ke ruang perawatan intensif (Intensive Care Unit atau dikenal juga dengan ICU). Mengapa demikian?

Seiring dengan bertambahnya pasien dengan corona, para dokter dan peneliti mulai berusaha untuk mengembangkan alat-alat yang dapat membantu mereka untuk menentukan prognosis atau luaran seorang pasien dengan corona, salah satunya adalah sistem skoring. Sistem skoring merupakan sebuah aplikasi matematika dalam dunia medis yang digunakan untuk memperkirakan derajat atau seberapa parah sebuah situasi klinis dalam sebuah penyakit. Banyak sekali sistem skoring yang sudah banyak digunakan seperti dalam bidang stroke, radang apendiks, dan gangguan darah.

Akibat seriusnya corona ini dan jumlah pasien corona yang meninggal terus meningkat, para klinisi berusaha untuk menciptakan sistem skoring untuk melihat seberapa besar persentase pasien itu dapat hidup sehingga perawatan pasien tersebut dapat disesuaikan.

Yang pertama ada algoritma Brescia-COVID Respiratory Severity Scale (BCRSS). Sistem ini belum divalidasi secara eksternal dan digunakan di Italia untuk menilai dan memberikan rekomendasi pengobatan untuk pasien dengan corona. Sistem ini menilai ada atau tidaknya komponen dari sistem skoring ini yang terdiri dari mengi atau pasien tidak dapat berbicara dalam kalimat penuh ketika beristirahat atau dengan aktivitas minimal, laju nafas di atas 22 kali per menit, tekanan oksigen di dalam arteri (PaO2) kurang dari 65 mmHg atau saturasi oksigen dibawah 90% dan hasil x-ray paru-paru memburuk. Semakin banyak komponen skoring yang positif, semakin darurat kategori pasien tersebut sehingga perawatan dan pengobatan pasien semakin intensif.

Berikutnya ada skoring MuLBSTA untuk pneumonia viral. Sistem ini diciptakan oleh seorang profesor dalam bidang infeksi tropis di Shanghai dan skor ini juga belum divalidasi secara eksternal. Alat ini diciptakan untuk untuk memprediksi mortalitas (kematian) seorang pasien corona. Sistem ini menilai apakah terdapat infilitrat multilobular pada x-ray paru, hitung limfosit absolut, infeksi bakteri yang sekunder, status merokok, usia >60 tahun dan riwayat hipertensi. Kelemahan dari sistem ini adalah sistem skoring ini dispesifikasi untuk pneumonia viral dan tidak khusus untuk corona.

Sistem skoring yang berikutnya adalah Modified Sequential Organ Failure Assessment atau disingkat menjadi mSOFA. Skor ini merupakan adaptasi dari skor SOFA dan digunakan untuk menilai mortalitas seorang pasien dalam waktu 30 hari dan sistem skoring ini diadaptasi dari sistem skor SOFA untuk pasien corona. Komponen yang dinilai adalah SpO2 (saturasi oksigen)/ FiO2 (fraksi volumetrik oksigen di udara yang terhirup), kuning, hipotensi, skala koma glasgow dan kreatinin. Semakin tinggi skor mSOFA, semakin tinggi persentase kematian dalam waktu 30 hari.

Berikut Fakta Mengenai Matahari dan Virus Corona Yang Perlu Anda Ketahui

Dari ketiga sistem skoring diatas, dapat dilihat terdapat beberapa faktor resiko yang memprediksikan seorang pasien corona untuk meninggal dunia seperti sesak nafas berat, usia yang tua, komorbiditas seperti hipertensi dan merokok, sesak nafas yang berat serta perburukan hasil x-ray paru-paru. Perlu diingat bahwa sistem skoring ini hanya digunakan untuk para klinisi dan perlu ditunjang dengan interpretasi dan pengalaman para klinisi di lapangan!

Penulis : Gilbert Sterling Octavius

Instagram : @NeuronChannel; @gilbertsterling

Youtube : Neuron Channel



0 Komentar