Kehidupan dan Kuliah Lapangan Multiperspektif Khas Burjoan
Jangan bayangkan burjo seperti ini (Ilustrasi: Haluan.co)

Sebagai mahasiswa perantau dari luar Yogya, saya harus menyadarkan diri pada kebudayaan kota ini. Pepatah mengatakan bahwa dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Katanya.

SAYA masih teringat pertama kali menginjakkan kaki di Yogyakarta untuk kepentingan administrasi kampus, yang bagi saya terbilang unik adalah warung makan dengan banner berwarna merah, kuning, biru, dan hijau bernama “Warmindo”. Lalu di bawahnya berderet jajaran menu makanan. Orang – orang yang berkunjung ke “Warmindo” ternyata menghabiskan waktu cukup lama. Sementara itu, saat makanan di piring sudah masuk ke perut dan siap diolah oleh sistem pencernaan, mereka masih sedia untuk terus bersua.

Seiring waktu berjalan dan saya menjalani perantauan di kota ini, saya makin tak asing dengan warung – warung yang menjamur dan hampir ditemui di pinggir jalan besar, di lorong kampung, di dekat kampus, yang menahbiskan dirinya sebagai “Warmindo”.

Dalam bayangan saya yang barangkali terkesan lugu, mereka ini awalnya didirikan oleh satu orang di berbagai tempat (cabang) atau bagaimana? Lambat laun saya memahami dari teman – teman kost atau perkuliahan bahwa nama warung tersebut khas disebut burjo. Konon, awalnya mereka menjual bubur kacang ijo sehingga timbul akronim burjo.

Barangkali, mengingat bubur kacang ijo belum tentu mengganjal perut lapar mahasiswa, maka mereka juga menjual indomie sehingga disebut warung makan indomie warmindo.

Barangkali itu adalah sejarah. Tapi bukan sejarah tentang burjo, melainkan sejarah tentang asumsi, pandangan, dan pemahaman saya tentang burjo yang menjadi citra budaya khas mahasiswa di Yogyakarta.

Ada adigum menarik bahwa memori itu melekat, namun sejarah itu menempel. Sejarah masih bisa digonta-gantikan untuk kepentingan legitimasi. Dan, tentu saja sejarah pemahaman saya terkait burjo menjadi legitimasi dalam memandang burjo itu sendiri.

Saya pernah berpandangan bahwa burjo atau warmindo itu warung makan yang kotor, pedagangnya banyak dan kelihatannya masih belia, orang – orang nongkrong sembari ngudhut (red: merokok), ramai saat malam, dan berbagai citra buruk yang saya lekatkan pada burjo. Sejarah itu mendekam dalam pikiran saya sampai semester pertama menjalani hidup merantau di Yogyakarta.

Beberapa waktu lalu, ternyata sudah sekitar lima kali saya makan di burjo. Bermula dari rasa bosan mendengarkan kuliah ceramah selama dua jam dengan seratus lebih mahasiswa, saya mengikuti ajakan teman. Seperti yang sudah melekat, tentu ada banner dengan warna dominan merah, diikuti vector biru, hijau, dan kuning.

Burjo itu mengambil nama salah satu tanaman keras. Tidak usah sebut nama. Sebab hakikat manusia itu adalah makhluk visual, sudah barang tentu pandangan pertama akan menjadi penilaian subjektif. Nyaman, bersih, sedikit ramai, pelayannya sopan. Saya memesan nasi sarden, bubur kacang ijo, dan segelas teh hangat. Entah teman-teman saya memesan apa. Mungkin dua puluh menit pesanan kami datang. Enak, murah, terjangkau, sesuai selera, pas. Begitulah subjektivitas saya berikutnya bekerja.

Usai meruwat perut khas burjoan tersebut, pandangan saya justru tertuju pada banner berwarna merah yang terpampang di dinding depan meja makan pengujung yang kira-kira berukuran 2 x 3 meter, berisikan daftar menu dan harga.

Saya teringat salah satu teman kuliah bertanya pada seorang dosen sekaligus profesor linguistik (bahasa), “Pak, mata kuliah linguistik apa ada kuliah lapangannya?”, profesor jebolan Australia itu menjawab, “Kamu belum paham materi saja sudah tanya ada kuliah lapangan atau tidak, kalau pun ada mungkin kamu hanya tingak tinguk cari jangkrik.”

Saya berani bertaruh jika harus memilih lapangan bagi kuliah linguistik, maka burjo bisa menjadi arena kuliah lapangan itu. Betapa tidak, pada banner itu menu – menu makanan dituliskan dengan aneka rupa bentuk bahasa. Untuk menyingkat menu makanan yang panjang dan memakan tempat, maka lahirlah bubur kacang ijo (burjo), indomie tanpa telur (indomie tante), indomie telur (intel), nasi telur (nastel), dan extra joss susu air (josua).

Bagi orang awam, itu menjadi strategi pasar untuk menarik orang makan di burjo karena penyajian dan keunikannya. Namun, bagi orang yang mempelajari bahasa, fenomena itu laik sebagai kajian morfologi atau seluk beluk pembentukan kata. Pemendekan kata pada menu makanan tersebut disebut abreviasi.

Pembentukan kata dan atau frasa burjo, indomie tante, intel, nastel, josua, setidaknya menunjukkan bahwa dalam masyarakat kita sejatinya hidup dalam berbagai fenomena kebahasaan. Dalam konteks sosiolinguistik, untuk memudahkan penutur dalam mengucapkan beberapa kata atau frasa, masyarakat melakukan pemendekan satuan – satuan kebahasaan sehingga timbul pelafalan burjo, indomie tante, intel, nastel, josua.

Dalam tataran kebahasaan yang lebih rinci, fenomena ini menjadi kajian fonologi atau fonotaktik. Bahwa, untuk membentuk pemendekan itu, masyarakat menggabungkan suku kata – suku kata. Misalnya, kata intel diambil dari suku kata in pada kata indomie dan tel pada kata telur. Itu sebabnya tidak salah jika ada teori mengatakan bahwa bahasa adalah anak kandung peradaban. Bahasa itu melekat dalam kehidupan dan berbagai fenomena di masyarakat.

Sambil menyantap makanan – makanan yang saya pesan, minuman saya sudah raib membasahi tenggorokan. Tentu saja, saya ingin memesan lagi, toh, saya dan teman – teman juga nyaman berlama – lama di lesehan burjo. “Mas, saya nambah es teh lagi, ya, satu” , “Es teh aja, aa’”. Saya mendengar pembeli di sebelah saya juga memanggil mereka dengan sapaan aa’. Saya tidak menggunakan sapaan itu karena tidak pernah dan mungkin belum terbiasa.

Saling Silang Budaya dari Warung burjo dan Warteg

Saya belum mendeklarasikan diri sebagai penggemar makan di burjo garis keras. Saya sedikit membatin, toh, saya memahami arti bahwa aa’ panggilan untuk kakak laki – laki dalam bahasa Sunda. Mungkin ini menjadi ciri khas melekat yang menjadi identitas dan petanda sejarah bahwa burjo pada mulanya didominasi oleh orang – orang Kuningan, Jawa Barat.

Aa’ burjo tersebut memahami sapaan ketika saya memanggilnya dengan bahasa Jawa mas yang berarti juga panggilan untuk kakak laki - laki. Ini menjadi pembahasan setidak – tidaknya menjadi ruang dielektik bagi berbagai kebudayaan. Kebudayaan – kebudayaan yang diwujudkan dalam penggunaan bahasa tersebut memiliki struktur mental untuk saling memahami. Saya dan aa’ burjo itu menyadari bahwa kami saling menyapa dengan sapaan bahasa masing – masing untuk memanggil kakak laki – laki. Meskipun sapaan ini sebatas bentuk penghormatan dan menghargai karena tidak saling mengenal secara intim.

Praktik jual beli dan pesan memesan makanan di burjo adalah cermin realitas masyarakat kita yang multikultur. Pluralitas atau keberagaman bahasa sebagai unsur kebudayaan melahirkan tatanan – tananan untuk saling bersilang budaya. Pemahaman dan penerimaan antarbudaya yang plural ini menimbulkan kesadaran yang dikenal dengan multikulturalisme.

Percakapan multilingualitas antara saya sebagai entitas Jawa dan aa’ burjo sebagai entitas Sunda seakan menjadikan burjo lebih dari sekadar ruang pesan memasan, tetapi menjadi laboratorium dialektik multikulturalisme tersebut.

Begitulah burjo. Bahkan, dari memandang banner saja seolah saya mendapati kuliah lapangan anak ekonomika dan bisnis. Menu makanan yang daftar harganya sudah diganti dengan berbagai macam metode, mulai ditempeli kertas, diselotip, dicoret, ditulis dengan spidol ukuran papan, dan sebagainya. Juga gorengan – gorengan yang diletakkan di depan etalase makanan—tempe, mendoan, tahu isi, pisang goreng—yang jika diamati irisannya begitu kecil sementara adonan tepung yang tebal.

Para aa’ burjo itu mungkin sedang memberi kuliah pada saya bahwa sedang ada penyesuaian dengan kapitalisasi pasar dan roda pergerakan ekonomi. Barang – barang pokok sedang naik harga. Untuk menyesuaikan pangsa pasar dan tidak perlu menaikkan harga, maka dibuatlah gorengan beradonan tebal supaya pembeli tidak melepaskan kesetiaannya sebagai pengagum gorengan burjo garis keras.

Momen pertama makan di burjo begitu unik. Sebab burjo bukan hanya sekadar warung makan, tapi warung bertukar kabar - Riqko Nur Adi

Para gerombolan mahasiswa, lelaki dan pacarnya dengan wajah manyun mungkin cemburu buta, atau jomblo kawakan yang memikirkan nanti mau punya anak berapa, mungkin juga maba yang sok asik melepas masa SMA, mereka saling mendongengi kehidupan.

Akademik perkuliahan, masalah akhir bulan, dan skripsi yang tak kunjung kelar mungkin akan menguap bersama aroma bubur kacang ijo yang diseduh oleh sang aa’ atau sedap indomie tante dan nikmatnya segelas es teh. Demikianlah burjo menyadari dirinya sebagai ruang untuk saling berbagi tentang kehidupan.

Untuk itu pula, burjo memiliki penyesuaian dan kesadaran untuk berdinamika dengan masyarakat melalui keunikan – keunikan tertentu. Keunikan menu makanan, keramahan aa’ burjo dengan bahasa khas Sunda, gorengan, apapun itu, burjo tanpa disadari telah mendeklarasikan diri sebagai arena kuliah lapangan yang multiperspektif.

Dan dengan bangga, saya mendeklarasikan diri pula sebagai mahasiswa yang telah mengikut kuliah lapangan multiperspektif khas burjoan tersebut.


0 Komentar