Kemdikbud Apresiasi Temuan Alat Bantu Penderita Tuna Rungu Karya Enam Mahasiswa PENS
Alat bantu untuk tuna runga karya mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya. (Foto: Kemdikbud)

JAKARTA, HALUAN.CO - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI mengapresiasi temuan alat bantu bagi penderita tuna rungu karya enam mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS). Alat bantu tersebut dinamakan Tulibot.

Dalam akun instagram resminya, Rabu (18/12/2019), Kemdikbud RI mengapresiasi sekaligus mengajak masyarakat untuk terus menjadi insan yang kreatif dan inovatif.

Melalui temuan alat itu, mahasiswa PENS berhasil meraih medali emas dan hadiah utama dalam "Engineering Education Festival (E2Festa) 2019" di Incheon, Korea Selatan pada akhir November 2019 lalu.

Perhelatan tahunan itu diikuti oleh 22 universitas dari seluruh dunia seperti China, USA, India, Singapore, Thailand, Malaysia, Hongkong dan masih banyak lagi.

Enam mahasiswa pencetus gagasan tersebut adalah Mochammad Ilham Maulana, Moch. Rifki Ramadhani, Yudha Sadewa, Muhammad Alan Nur, Muhammad Abdul Haq dan Namira Rizqi Annisa. Mereka dibimbing oleh Dwi Kurnia Basuki, MKom dan Artiarini Kusuma MT selaku dosen pembimbing.

Tulibot merupakan kombinasi antara aplikasi, smart glasses dan smart gloves. Cara kerja alat itu adalah dengan mendeteksi suara melalui aplikasi yang kemudian diterjemahkan menjadi kata-kata dan dapat ditampilkan melalui kacamata pintar.

Jika penyandang tunarungu ingin merespons, bisa menggunakan sarung tangan pintar yang bisa berbahasa isyarat "American Sign Language (ASL)". Selanjutnya hasil tersebut akan ditranformasikan menjadi suara.

Dosen pembimbing Dwi Kurnia seperti dilansir dari pens.ac.id menyatakan puas karena bisa meraih medali emas dalam event bergengsi itu serta mengalahkan universitas di kancah internasional. Ia berharap produk Tulibot bisa lebih disempurnakan dan dapat digunakan oleh penyandang tunarungu.


Penulis: Melda Riani