Kemlu Himbau WNI di Irak dan Iran Tingkatkan Kewaspadaan

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Menteri Luar Negari Retno Marsudi. (Foto: Ist)

JAKARTA, HALUAN.CO - Memperhatikan situasi politik dan keamanan di wilayah Irak, Iran dan sekitarnya, Kementerian Luar Negeri menghimbau Warga Negara Indonesia (WNI) di negara-negara untuk erus meningkatkan kewaspadaan.


Kemudian dihimbau uengikuti informasi dan imbauan otoritas setempat, terutama terkait situasi keamanan dan terus menjaga komunikasi dengan Perwakilan Indonesia di negara terdekat

"Segera hubungi Perwakilan Republik Indonesia setempat atau terdekat jika memerlukan informasi dan bantuan," bunyi himbauan Kementerian Luar Negeri itu yang dikutip dari laman Kemenlu.go.id, Rabu (8/1/2020).

Nomor hotline yang dapat dihubungi: KBRI Baghdad: +964 780 6610 920/+9647500365228,

KBRI Tehran: +989120542167, KBRI Kuwait City:+965-9720 6060, KBRI Manama:+973-3879 1650, KBRI Doha:+974-33322875, KBRI Abu Dhabi:+971-566-156259, KBRI Amman: +962 7 7915 0407, KBRI Damascus: +963 954 444 810, KBRI Beirut: +961 5 924 676, KBRI Muscat: +968 9600 0210, KBRI Riyadh: +966 56 917 3990, KJRI Dubai: +971-56-3322611/+971-56-4170333 dan KJRI Jeddah: +966-50360 9667.

Selain itu, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia juga telah mengaktifkan kembali crisis centre dengan nomor +62 812-9007-0027.​

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Indonesi, Retno Marsudi mengungkapkan, jumlah data resmi WNI di Iran hampir 500 orang. Namun menurutnya, jumlah sebenarnya jauh lebih besar dari data yang ada. Sementara yang ada di Irak WNI lebih dari 800 orang.

"Kalau kita total jumlah WNI secara keseluruhan di wilayah tersebut (Timur Tengah), angkanya tidak hanya ratusan ribu, tapi jutaan. Oleh karena itu, kita terus menghitung situasi dan kita sudah melakukan, mulai menggambar, merencanakan rencana cadangan seperti apa," sambungnya.

Dijelaskan Retno, jika situasi di kawasan Timur Tengah semakin memburuk dan tidak terkendali, maka ada kemungkinan WNI yang berada di wilayah Timur Tengah tersebut akan dievakuasi.

Kementerian yang dipimpinnya itu telah mematangkan rencana evakuasi. Dia juga mengatakan telah melakukan konferensi video dengan masing-masing kedutaan Indonesia di luar negeri untuk membahas masalah ini.

"Saya ketemu dengan Panglima TNI membahas pada saat situasi memburuk dan kita harus lakukan evakuasi, maka (mau) tidak mau kerjasama dengan banyak pihak, termasuk dengan panglima. Karena kita punya pengalaman evakuasi WNI dari Yaman, pada saat itu dan kita dibantu penuh, baik oleh Polri, TNI dan BIN dalam segala evakuasi WNI," jelasnya di Jakarta Selasa (8/1/2020).



0 Komentar