Kepada Hujan, Masihkah Kau Bawa Serta Mantan?
Hujan di bulan Desember. (Foto: Ilustrasi metrotv)

Logika mudahnya adalah, pemanasan global terjadi karena paparan karbon terlalu tinggi pada atmosfer bumi. Sedang harusnya, karbon ini dapat diserap melalui hutan sebagai paru-paru dunia. Di mana hutan menyerap karbon di pagi hingga siang hari dan sekaligus memproduksi oksigen dalam skala besar. 

JAKARTA, HALUAN.CO - Beberapa hari lalu, Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres dalam KTT Iklim COP 25 di Madrid, Spanyol berkata bahwa bumi kita telah mendekati point of no return dalam hal perubahan iklim. Apa maksudnya?

Saking rusaknya bumi akibat segala eksploitasi manusia yang lebih destruktif daripada bencana alam itu, kita sedang mendekati hal dengan sebutan point of no return. Titik di mana kita tak bisa kembali. Duuuuhh kok otewe ambyar ngene….

Point of no return dalam perubahan iklim menjadi titik kulminasi dari proses panjang degradasi kualitas lingkungan. Hal ini memang nampak sepele karena efeknya tidak dirasakan langsung seperti adanya gunung meletus, tanah longsor, gempa bumi atau hati ambyar diputus pacar.

Namun, secara periodik, perubahan iklim menyebabkan banyak hal terjadi. Terutama, kenaikan muka air laut.

Logika mudahnya adalah, pemanasan global terjadi karena paparan karbon terlalu tinggi pada atmosfer bumi. Sedang harusnya, karbon ini dapat diserap melalui hutan sebagai paru-paru dunia. Di mana hutan menyerap karbon di pagi hingga siang hari dan sekaligus memproduksi oksigen dalam skala besar.

Secara langsung, hutan menjadi bio-filter atau filter alami dalam proses penjernihan kandungan karbon di udara. Tapi, degradasi lahan dan berkurangnya cakupan hutan di berabgai tempat di dunia, khususnya daerah tropis, membuat bumi semakin panas. Sumuk koyok kelekmu….

Lantas, jika bumi semakin panas maka suhu harian bahkan tahunan di berbagai benua akan terpengaruh. Hal ini seperti salju yang turun lebih dulu di negara empat musim. Atau kemarau panjang di negara dengan dua musim. Atau, anomali cuaca antara hujan dan panas yang menyengat.

Ditambah, hujan bisa datang sehari saja, tapi banjir datang beriringan. Seringkali, kita menyalahkan pemerintah karena hal-hal ini. Baik karena tidak menyiapkan mitigasi bencana, atau pencegahan terkait konstruksi, dan hal-hal lain.

Namun, seyogianya perubahan iklim bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja. Justru, masyarakat awam menjadi tolok ukur utama dari hal ini. Tidak mau dong kita terjebak dalam perubahan iklim yang tak bisa ditarik kembali, tak bisa diperbaiki, alias tak ada kata untuk balikan. Dijamin modyar anda….


Jika hari-hari ini, kita merasakan gerah atau sumuk pliket gak karuan. Maka bisa jadi ini efek dari beta radikalnya perubahan iklim itu sendiri. Dapat dipastikan, para insan asmara yang kerap hujan-hujanan di atas motor sambil membeli tahu bulat pada gerimis awal Desember akan sejenak menunggu momen ini.

Begitu pula dengan kedai-kedai kopi dengan playlist wajib bertema hujan, mulai dari November Rain-nya Guns N’ Roses hingga Desember-nya Efek Rumah Kaca. Jadi, jangan harap sobat puisi, senja, kopi bisa produktif karena hujan, salah satu inspirasinya nampak terlambat tiba.

Hujan dan segala inspirasinya itu, nampaknya kian lekat membawa kenangan kita pergi dan tak mendekat. Seperti dia yang membawa mantan anda pergi, menuju ke antah-berantah. Lantas hilang pada guguran es abadi di kutub selatan.

Sadar atau tidak, perubahan iklim akan berpengaruh pula kepada para sastrawan, musisi, atau sekadar mahasiswa galau di akhir tahun. Hujan biasanya datang menyegarkan. Menentramkan. Menenangkan. Hingga dalam setiap derak atap yang terhujam butirannya, muncul inspirasi-inspirasi, baik untuk membuat syair puisi, membuat komposisi musik, hingga menyelesaikan skripsi.

Hujan, yang senantiasa secara hiperbola diasosiasikan dengan kerinduan itu, nampaknya tak kunjung rindu membasahi bumi yang kian renta ini. Ditambah, manusia-manusia produsen sampah seperti kita ini.

Lantas, masih kah hujan membawa serta segenap rindu? Dalam sendu yang mendamba pilu. Atau, memang hujan tertahan sekian lama, dan justru kelak datang bersama badai dan banjir yang turut serta. Ah, sepertinya sensasi-sensasi romantis dari hujan akan berubah drastis. Menjadi ode untuk bencana dan kehilangan.

Sebab, kita tak kunjung sadar bahwa tak hanya mantan yang dibawa pergi hujan. Namun selebihnya, kualitas lingkungan hidup kita di bumi ini semakin runyam tak tentu arah. Hingga hujan pun enggan datang tepat waktu. Sedang sumber-sumber air baku mulai berkurang, dan tercemar di beberapa tempat.

Jadi, apakah kita mau terus-menerus menuduh hujan sebagai biang kerinduan? Atau biang bencana? Bukan kah kita, manusia, yang harusnya mawas diri karena perubahan iklim dan tak tentunya cuaca di dua dekade ini? Atau, kita cukup memberi ruang bagi kehilangan, yang kelak diambil alih oleh murkanya alam?