Ketagihan Impor Alkes di Zaman Corona

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Kominfo menggelar rapid test COVID-19 untuk para jurnalis. (FOTO: Haluan.co/Fajar AM)

JAKARTA, HALUAN.CO - Langkah pemerintah Indonesia yang melakukan impor sebanyak 500 ribu alat rapid test atau tes cepat COVID-19 dari China melalui PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) mendapatkan kritik dari sejumlah pihak.

Di samping diragukan keakuratannya, impor rapid test kit itu dipertanyakan juga karena ternyata ada anak bangsa sendiri yang bisa menciptakan rapid test kit secara massal, bahkan sudah punya pabriknya.

Nama putra Indonesia itu adalah Santo Purnama. Dan nama produknya Sensing Self. Namun sayangnya, perusahaan dia belum dapat izin edar dari Pemerintah Indonesia. Itulah sebabnya pemerintah enggan meliriknya dan lebih memilih impor dari China.

Selain rapid test massal, ventilator juga ternyata berhasil diciptakan oleh anak bangsa sendiri. Yakni Masjid Salman ITB yang bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Unpad, dan ada dari ITS Surabaya.

Tak cukup sampai di situ, BPPT juga ternyata sudah membuat alat ventilator sendiri.

Kenapa ini penting:

  • Indonesia sangat membutuhkan banyak rapid test kit untuk mendeteksi COVID-19 dan ventilator untuk membantu pernapasan pasien COVID-19 di sejumlah rumah sakit rujukan di tanah air. Lalu kenapa harus impor dan jauh-jauh beli dari China yang dipastikan lebih mahal karena harus mengeluarkan biaya logistik. Kenapa tidak mengggunakan produk dalam negeri karya anak bangsa.
  • Selain lebih murah, secara kualitas juga alat-alat kesehatan produk dalam negeri dan karya anak bangsa bisa disejajarkan dengan produk asing. Test kit karya Santo misalnya bisa langsung mendeteksi seseorang positif atau negatif corona dalam hitungan 10 menit. Sedangkan produk China sampai 15 menit hingga tiga jam.
  • Begitu juga ventilator buatan Masjid Salman ITB yang bekerja sama dengan Fakultas Kedoteran Unpad dapat membuat ventilator portabel (Vent-I) seharga Rp12 juta. Begitu juga ITS Surabaya dapat membuat Simple & Low-Cost Ventilator seharga Rp20 juta. Sedangkan ventilator pabrikan dari China atau luar negeri harganya bisa mencapai Rp600-800 juta per unit.

“Teknologi yang kita miliki bukan terletak pada kit atau kertasnya, tapi ada di enzimnya. Enzim itu kalau tidak diperhatikan, misalnya waktu ditaruh tidak dijaga suhunya atau segala macam, enzim itu bisa rusak,” kata Santo Purnama, pemilik test kit Sensing Self seperti dikutip kumparan.

Kelebihan ventilator buatan ITB dan ITS:

Jam'ah Halid selaku Manajer LPP Salman, mengatakan, Vent-I adalah alat bantu pernapasan bagi pasien yang masih dapat bernapas sendiri (jika pasien COVID-19 pada gejala klinis tahap 2), bukan diperuntukkan bagi pasien ICU.

Ketua Tim Ventilator Departemen Teknik Fisika ITS Dr rer nat Aulia MT Nasution mengatakan, ventilator buatan mereka dapat menjadi alat bantu napas bagi penderita COVID-19 yang mengalami gangguan pada sistem pernapasannya. Dibandingkan ventilator yang sudah ada di sejumlah rumah sakit, ventilator ITS ini juga didesain dapat mudah dipindahkan dan diproduksi dengan lebih cepat. Mungkin yang akan menjadi kendala nantinya adalah ketersediaan bahan baku.

Ventilator BPPT: Menteri Riset dan Teknologi sekaligus Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Bambang Brodjonegoro mengungkapkan bahwa konsorsium yang dipimpin oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tengah mengembangkan ventilator portabel. Saat ini tengah memasuki tahapan pengujian oleh berbagai pihak. Tahapan tersebut dimulai dari para dokter, kemudian Kementerian Kesehatan, selanjutnya tahapan pengujian di rumah sakit.

"Dan tim yang dipimpin BPPT saat ini sudah sampai dalam tahap membuat portable ventilator yang sudah diuji antara dokter, dan saat ini sedang diuji oleh Kementerian Kesehatan dan sehabis ini diuji di rumah sakit," kata Bambang dalam video conference yang disiarkan Youtube channel Kemenristek/BRIN, Senin (6/4/2020) sore.

Efektivitas alat test kit China:

  • Spanyol, Italia dan Ceko mengeluhkan alat test kit yang diimpor dari China rusak. Situs berita Ceko, Expats.cz, melaporkan, hingga 80 persen dari 150 ribu portabel, alat uji coronavirus cepat China yang dikirim ke Republik Ceko tak berfungsi.
  • Alat tes dari China yang dapat mengetahui hasil dalam 10 atau 15 menit itu, kurang akurat dibandingkan alat tes lainnya. Karena tingkat kesalahan yang tinggi, negara akan terus bergantung pada tes laboratorium konvensional, yang mereka lakukan sekitar 900 sehari.
  • Kementerian Kesehatan Republik Ceko membayar USD546 ribu untuk 100 ribu test kit, sementara Kementerian Dalam Negeri membayar 50 ribu lainnya.

Tanggapan Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)/Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia, Dr Hermawan Saputra SKM, MARS:

  • Seharusnya lebih memprioritaskan sumber daya anak sendiri, keluarga sendiri bahkan orang Indonesia sendiri. Mereka harus diprioritaskan.
  • Rapid test apapun jenisnya selama dia menjadikan serelogi atau pemeriksaan darah untuk deteksi antibodi sebagai model pemeriksaanya, maka tidak akan seefektif PCR. Tetap dibutuhkan tapi lebih bagus swab tenggorokan yang melalui pengambilan sampel dan pemeriksaan dengan PCR. Rapid test selama ini hanya 36-45 persen tingkat efektivitasnya, tetapi kalau ada yang lebih efektif 70-80 persen untuk Immunoglobulin itu bagus.

Soal ventilator buatan ITB dan ITS: Kalau memang mau memproduksi dalam negeri sebenarnya tinggal mendorong dan memfasilitasi, memberi aggaran, program dan pengawasan. Banyak ahli dan pakar-pakar dari Indonesia di berbagai perguruan tinggi. Mereka hebat-hebat. Apapun bisa dibuat oleh Indonesia. Jangan terjebak dengan standar atau lisensi. Karena mengurus standar atau lisensi tidak tepat dengan masa kedaruratan masyarakat seperti ini. Masa kedaruratan ini harus dilakukan betul-betul untuk kebutuhan dalam negeri dan kebutuhan yang mendesak. Tidak perlu harus pakai standar WHO yang diuji dengan kaliber sedemikian hebat.

"Ini menyangkut kecepatan menolong nyawa. Artinya memang negara-negara lain juga melakukan upaya yang sama. Jadi jangan sampai negara lain berupaya untuk memprioritaskan nyawa warganya, sementara kita sibuk mencari dari negara lain. Jangan impor-impor terus lah. Padahal dalam negeri pun secara teknologi dan sumber daya kita bisa," tegas Hermawan.

Indonesia di Ambang Badai PHK Corona

Saran Hermawan: Pemerintah harus segera melakukan verifikasi, teknologi dan kesiapsiagaan produksi dalam negeri. karena masa yang kita hadapi dengan COVID-19 ini akan berlangsung masih berbulan-bulan. Jadi kalau bisa diproduksi dalam negeri secara cepat dengan standar yang bagus. Pemerintah harus punya tim khusus untuk pengembangan teknologi terkait dengan kebutuhan alat pemeriksaan dan juga tindakan COVID-19 ini.

Penulis: Tio Pirnando


0 Komentar