Ketika Sebuah Buku Kumpulan Cerpen Dicokok Polisi

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Penangkapan terduga kaum anarko yang merencanakan kerusuhan di Tangerang menyimpan kejanggalan ketika salah satu barang buktinya berupa buku kumpulan cerpen karya Eka Kurniawan. (Ilustrasi: Haluan.co)

-

AA

+

Ketika Sebuah Buku Kumpulan Cerpen Dicokok Polisi

Overview | Jakarta

Senin, 13 April 2020 14:35 WIB


Tindakan corat-coret tembok sebagai protes umum terjadi. Tetapi asumsi soal penggerakan massa untuk menjarah atas nama suatu ideologi bernama anarkisme, nampaknya terlalu tajam jika digaungkan di masa sekarang.

BELUM lama ini polisi dibuat panik oleh coretan dinding bertuliskan “Sudah Krisis, Saatnya Membakar". Aktor vandalisme di balik tulisan ini konon adalah kelompok anarko. Dan sontak polisi merasa perlu memberangus kelompok ini dengan menangkap aktor-aktor di balik vandalisme dan sekaligus menjaring barang bukti yang mereka punya. Aksi vandalisme yang dilakukan sekelompok pemuda di Tangerang itu lantas menjadi pokok buruan Polda Metro Jaya dalam sepekan terakhir.

Berbagai asumsi muncul ke permukaan, terutama yang paling menakutkan adalah rencana penjarahan pada tanggal 18 April 2020 oleh para pemuda itu. Para pemuda yang mendaku anarko ini lantas menjadi bulan-bulanan pihak kepolisian. Sehingga mereka pun dicokok aparat pada 10 April 2020 dengan beberapa barang bukti tulisan-tulisan provokatif.

Kalimat-kalimat itu antara lain bertuliskan 'Kill the Rich', 'Sudah Krisis, Saatnya Membakar', dan 'Mau Mati Konyol atau Melawan. Tak cukup dengan itu, dua hari kemudian kepolisian kembali menyisir relasi sekumpulan pemuda yang dicap anarko ini dan mendapati sejumlah barang bukti.

Di antara sejumlah barang bukti itu ada buku-buku yang ikut disita. Termasuk di sana ada buku “Aksi Massa” karya Tan Malaka, dan “Corat-coret di Kamar Mandi” karya Eka Kurniawan, serta beberapa buku lain yang tentunya tak ada karya Pierre-Joseph Proudhon.

Lantas, hal ini menjadi bercandaan khazanah percuitan Twitter dalam semalam. Sebab nampaknya pihak kepolisian tak begitu paham mengenai buku-buku tersebut. Ya karena buku-buku semacam itu nampaknya bukan bacaan para taruna kepolisian di masa pendidikannya dulu. Jadi wajar kalau buku kumpulan cerpen karya Eka Kurniawan pun menjadi barang bukti.

Padahal, buku kumpulan cerpen tersebut berisi dua belas cerita pendek itu bukan berisi prinsip dan teori tentang anarko atau macam-macamnya. Namun memang salah satu cerpennya bercerita tentang coretan dinding toilet yang berisi protes terhadap pemerintah. Hal ini relevan, karena kumpulan cerpen ini terbit di awal pasca reformasi. Sehingga, kisah-kisah protes terhadap pemerintah sebelum masa Orde Baru memungkinkan untuk menjadi labirin inspirasi bagi penulisnya.

Lantas, buku kumpulan cerpen ini hanya relevan dengan perilaku vandalisme pada taraf corat-coretan protes saja, tapi tidak ada suatu ideologi yang tertanam di dalamnya. Kepopuleran buku ini sudah berjalan setidaknya hampir dua dekade. Buku Corat-coret di Kamar Mandi yang terbit pertama tahun 2000 ini pun lantas diterbitkan kembali empat belas tahun kemudian.

Sedangkan buku Aksi Massa karya Tan Malaka memang akrab di kalangan para demonstran dari masa ke masa. Anehnya, salah satu tulisan dalam buku ini justru berkebalikan dengan semangat anarkisme.

Aksi massa tidak mengenal fantasi kosong seorang tukang putch atau seorang anarkis atau tindakan berani dari seorang pahlawan. Aksi massa berasal dari orang banyak untuk memenuhi kehendak ekonomi dan politik mereka

Begitu ujar salah satu bapak bangsa ini dalam Aksi Massa. Tan Malaka secara ide tak percaya dengan anarkis karene bertentangan dengan semangat khalayak untuk memenuhi tuntutan ekopol. Sehingga, aksi massa menurut Tan Malaka bukanlah ajang kepahlawanan dengan membuat kekacauan. Bahkan sebagai seorang Marxist, Tan Malaka tentu bertentangan dengan Proudhon.

Sebab pada masanya, Karl Marx dan Proudhon juga bersitegang oleh karena persoalan seteru tentang Filsafat Kemiskinan dan Kemiskinan Filsafat. Sejak saat itu, kaum Marxis dan Anarkis berpisah di tengah jalan.

Sedangkan anarki yang merupakan paham yang tak mengakui adanya kepemilikan. Baik secara privat, maupun negara. Sebab, pada dasarnya anarki tidak memercayai adanya pemerintahan dan konstitusi negara dalam bentuk undang-undang. Oleh karena itu, peraturan dan ketertiban bukanlah sesuatu yang berarti bagi kaum anarko.

Namun persoalan kemudian adalah bagaimana kemudian buku-buku tersebut menjadi barang bukti bagi kepolisian? Atau memang karena sesungguhnya pemahaman kepolisian tentang anarkisme juga terbatas?

Sebab, tindakan corat-coret tembok sebagai protes umum terjadi. Tetapi asumsi soal penggerakan massa untuk menjarah atas nama suatu ideologi bernama anarkisme, nampaknya terlalu tajam jika digaungkan di masa sekarang. Sebab, anak-anak muda yang telah dicokok polisi ini juga belum tentu paham-paham amat dengan ideologi tersebut. Atau bisa saja hanya menikmati euforia sambil memanfaatkan krisis COVID-19 yan terjadi belakangan.

Bahkan, secara logis juga teramat muskil terjadi sekumpulan anak muda yang masih labil dalam berideologi bisa memengaruhi masyarakat tertentu untuk menjarah. Sebab dalam sejarah bangsa ini, penjarahan-penjarahan yang terjadi di tengah prahara 1998 dahulu justru tidak diawali dengan antek-antek anarko. Justru diyakini aksi penjarahan di Mal Klender pada tahun itu diprovokasi oleh orang-orang tertentu yang tentunya bukan anggota sindikasi anarko.

Corat-coret sebagai protes memang tak hanya sekali muncul di masa seperti ini. Sebab, setiap harinya juga di tembok-tembok kota mudah ditemui tulisan-tulisan semacam ini. Tak hanya di kawasan metropolitan seperti Jabodetabek, tetapi juga di kota-kota lain bahkan kota kecil sekalipun.

Namun, mungkin tulisan semacam itu memang berbahaya di masa sekarang. Sebab kepanikan warga bisa menjadi bumerang untuk hal-hal yang tak diinginkan, seperti konflik horizontal. Meski di sisi lain penjarahan juga sulit terlaksana jika larangan berkumpul dijalankan dengan ketat.

Sehingga, proses penegakan hukum terhadap para pemuda yang diduga kaum anarko di Tangerang dengan cara menyita buku-buku tadi nampaknya hanya riak kecil. Dan kemudian muncul kepanikan karena pada masa-masa ini memang kritik terhadap pemerintah amat berisiko jika dilakukan. Dan kepanikan masyarakat justru lebih bersumber pada lambannya kebijakan dalam menghadapi krisis, bukan pada corat-coret di tembok yang dapat dengan mudah dihapus.

Pun secara substantif, dua buku yang disita juga tak berisi tentang ideologi dasar anarkisme. Jadi, aneh rasanya jika di masa ini ada perampasan buku cerita pendek dengan alasan kontra pemerintahan.

Atau jangan-jangan, buku-buku tersebut ikut diciduk karena bersampul merah dan salah satunya bersampulkan botol terbakar khas bom molotov? Atau malah karena ada nama Tan Malaka yang pahlawan nasional itu? Hmmm, jangan-jangan aparat juga tak tahu kalau Tan Malaka itu pahlawan nasional, dan Eka Kurniawan itu cerpenis ulung….


0 Komentar