Ketika Waria Berdiri di Balik Api
Kekerasan terhadap transpuan kerap terjadi saban tahun di negeri ini. (Ilustrasi: Haluan.co)

Kisah tentang Mira, transpuan yang tewas dibakar di Cilincing adalah satu dari sekian elegi dan tragedi dari kehidupan seorang transpuan. Sosok rentan yang dianggap hidup pada garis remang abu-abu. Di mana moral dan norma justru melumpuhkan kemanusiaan.

KEHIDUPAN waria atau transpuan di Indonesia memang tak jauh dari jalanan serta penolakan. Hal ini erat pula kaitannya dengan paradigma moral dan standar norma sosial yang umum menggema dalam masyarakat kita. Namun, lantas hal ini pun tak menyurutkan langkah transpuan dalam bertahan hidup. Atau sekadar menyambung nafas dalam himpitan sosial dan ekonomi, bahkan psikis.

Awal April 2020, seorang waria bernama Mira dibakar hidup-hidup oleh sekelompok orang di Cilincing, Jakarta Utara. Pasalnya, Mira tertuduh mencuri ponsel dan dompet miliki seorang pengemudi kontainer. Sebelum dibakar, Mira yang pasrah dan tak tahu menahu terlebih dulu dihajar beberapa orang ini.

Sebagian orang ini adalah preman setempat, atau akrab disebut bajing loncat yang tumbuh subur di kawasan itu. Mira sendiri bukan sosok yang asing bagi mereka. Karena sesekali para preman ini juga memakai jasa Mira untuk memenuhi hasrat seksualnya.

Mira yang tak merasa pernah mencuri itu menampik tuduhan mula-mula dari para preman tersebut. Namun sayang, kebuntuan yang didapat justru membuat para preman ini mengobrak-abrik kontrakan semenjana milik Mira. Tak hanya itu, mereka pun membawa Mira ke suatu tempat dan menghajar transpuan malang itu sebegitu rupa.

Waria Ini Ditembak Mati Setelah Keluar dari Toilet Wanita

Seperti pada umumnya orang-orang marah yang tersulut api bersumbu buta, salah satu preman lantas membawa dua liter bensin. Dan tentu, ia menyiramkannya ke tubuh Mira. Sebuah drama yang umum terjadi ketika sekelompok orang tak punya alasan dan cukup bukti untuk menuduh seseorang, maka kekerasan adalah jalan terakhir untuk menutup urat malu. Alhasil, Mira yang merana itu dibakar hidup-hidup di tempat itu, tanpa bisa melawan nasib.

Salah seorang preman mulai gelisah ketika Mira dibakar, dan pertikaian internal pun terjadi. Sebagian dari mereka merasa tindakan terhadap Mira adalah hal yang tak seharusnya. Dan lantas, para preman itu melemparkan tubuh Mira ke sebuah got berair keruh. Di sana kemudian Mira dapat terbebas dari api. Ia sempat bangkit dan pulang ke kontrakannya yang porak-poranda. Namun nahas, ia wafat di Rumah Sakit Koja sehari setelahnya.

Kisah tentang Mira adalah satu dari sekian elegi dan tragedi dari kehidupan seorang transpuan. Sosok rentan yang dianggap hidup pada garis remang abu-abu. Di mana moral dan norma justru melumpuhkan kemanusiaan.

Di Jakarta, kehidupan transpuan bukanlah hal yang sukar ditemui. Salah satu perkampungan transpuan ada di Kampung Bandan, Jakarta Utara. Di mana pernah terkenal sebagai tempat hidup puluhan transpuan yang menyewa kamar-kamar sempit dekat rel kereta api di seputaran Mangga Dua. Kehidupan kelompok marjinal ini pun tak lepas dari stigma yang umumnya dilakukan oleh ormas keagamaan.

Perlakuan kasar dan cenderung abusive kerap diterima para transpuan jika bertemu dengan anggota ormas ini. Meski di sisi lain, warga setempat tak risau dengan kehadiran para transpuan yan gmenyambung hidup di tempat itu. Bahkan, beberapa di antaranya juga berkeluarga dan taat beribadah. Meski identitas mereka sebagai transpuan terkadang hanya berlaku di malam hingga dini hari saja.

Di Kampung Bandan, juga terdapat beberapa insan transpuan yang kurang beruntung. Terasing dari lingkungannya atau kampung halamannya. Bahkan tak jarang yang kabur dari rumah karena tekanan keluarga. Hal ini menjadi umum ketika keluarga justru jadi pelaku awal adanya stigmatisasi pada transpuan, dan lantas menganggap hal ini aib. Tak banyak mereka yang cukup beruntung lahir di keluarga dengan alam pikir kemanusiaan luas. Dan hasilnya, para transpuan ini hidup bersolidaritas dengan kawan-kawan transpuan lain di suatu kota. Jauh dari rumah dan keluarganya.

Pesantren Al-Fatah di Yogyakarta adalah satu dari ruang temu para transpuan dalam menjalani keimanan dalam bentuk apa adanya. Meski beberapa orang yang merasa paling bermoral menganggap para transpuan ini tak layak atas pengampunan, tapi toh mereka tetaplah manusia, dan beriman. Kiranya, tak ada hak bagi manusia manapun untuk memisahkan seorang manusia dengan iman. Apalagi dengan alasan yang terbentuk dari konstruksi sosial, seperti pandangan sumir terhadap para transpuan ini.

Pada tahun 2016, pesantren ini pernah ditutup oleh sekelompok ormas provokator yang kemudian memunculkan asumsi keresahan warga. Di sisi lain, alasan penutupan Pesantren Al-Fatah pada masa itu adalah tidak adanya izin pendirian serta alasan ­pseudo­-moral lainnya.

Padahal, pesantren khusus transpuan ini berdiri pasca Gempa Jogja 2006 dengan adanya kegiatan transpuan berdoa bersama untuk Jogja. Atau tepatnya mulai dirintis sejak tahun 2008. Saat itu kegiatan pelajaran mengaji dan membaca kitab suci dilakukan secara mandiri di rumah pendirinya, di daerah Notoyudan, Kota Yogyakarta.

Berdirinya pesantren ini bermula dari sebuah ide sederhana, yaitu bahwa hak beragama terbuka bagi semua manusia, termasuk para transpuan. Dan sejak saat itu, satu per satu transpuan bermuara di Al-Fatah. Meski kemudian sang pendiri wafat di tahun 2014, pesantren ini tetap berlanjut dua tahun berselang di daerah Banguntapan, Bantul.

Dalam laporan Survei Kualitas Hidup Waria yang dikeluarkan Pusat Penelitian HIV dan AIDS Unika Atma Jaya Jakarta tahun 2015, disebutkan bahwa sekitar 67 persen dari responden menyatakan pekerjaan mereka adalah pekerja seks. Dan sekitar 12,9 persen mengaku bahwa mengamen adalah pekerjaan utama, sedangkan pekerja seks adalah pekerjaan sampingan. Berikut pula sekitar 30 persen lebih responden mengaku bahwa mereka mengonsumsi zat aditif macam sabu-sabu atau pil penenang. Hal ini kemudian relevan dengan bagaimana kerasnya mobilitas harian seorang transpuan untuk mampu berjalan jauh setiap harinya sebagai pengamen.

Tak hanya itu, dari penelitian yang didanai UNDP (United Nations Development Programme) itu menyatakan bahwa sekitar 50 persen responden pernah mengalami kekerasan secara psikis. Sisanya, 30 persen mengalami kekerasan fisik, dan 20 persen lainnya mengalami kekerasan seksual. Responden yang diambil dari dua rentang umur transpuan ini menunjukkan bahwa kekerasan terhadap transpuan hal yang memiliki rasio tinggi. Sehingga, tak bisa dipungkiri bahwa transpuan memang tak lepas dari stigmatisasi dan kekerasan.

Dwi Sanja dalam tulisannya yang berjudul “Pemahaman Diri Waria Melalui Pengalaman Diskriminasimenyatakan setidaknya ada 37 peraturan daerah yang mendiskrimansi kelompok transpuan. Hal ini di antaranya adalah Perda Kota Palembang No. 2 tahun 2004 yang pada pasal 8 (delapan) mengategorikan kelompok transpuan sebagai bagian dari pelacuran.

Namun di sisi lain, menurut survei Pusat Penelitian HIV dan AIDS Unika Atma Jaya tadi bahwa kurang dari dua persen saja dari kaum transpuan yang bekerja sebagai karyawan. Hal ini tentu tak lepas dari identitas dan stigma umum tentang mereka. Di mana putus sekolah dan kesulitan mencari lapangan pekerjaan menjadi hal biasa bagi kehidupan para transpuan.

Jadi tak heran, mengamen dan menjajakan seks menjadi pilihan terakhir bagi kaum marjinal ini. Meski secara langsung mereka harus terekspos oleh kekerasan di jalanan atau oleh masyarakat setempat. Begitu pula dalam kesempatan mereka mengakses layanan kesehatan juga dipersulit. Termasuk mengajukan keringanan biaya berobat dan lain sebagainya.

Perlakuan terhadap kaum transpuan memang cenderung negatif. Dan hal ini terus mendarah daging dalam masyarakat kita.

Hal ini salah satunya dipengaruhi oleh bagaimana dogma agama yang dicampuradukkan dengan standar moral buatan manusia. Lantas hal itu membentuk sebuah pemaksaan kaidah-kaidah yang melampaui hak hidup seseorang. Termasuk dengan apa yang dialami Mira.

Di Indonesia, ada ribuan sosok seperti Mira yang distigmatisasi saban hari dan tak lepas dari ancaman kekerasan. Tak hanya itu, penolakan dan tekanan juga kerap kali menghampiri sosok-sosok ini. Sedangkan di sisi lain, beberapa orang juga tak segan memakai jasa para transpuan untuk pemenuhan kebutuhan seksual atau hanya hiburan belaka.

Dan tentu saja, hal ini menciptakan hubungan patron-klien yang tak menguntungkan bagi para transpuan. Sebab, bisa saja konsumen mereka justru berubah menjadi ancaman jika hasratnya tak dipenuhi. Atau sekadar ingin melampiaskan kekerasan pada sosok-sosok rentan seperti transpuan ini.

Tak khayal jika kemudian kasus pembunuhan Mira ini lenyap dengan mudah. Sebab sebagai kaum marjinal, hak hidup mereka sama sekali tak bisa digantungkan pada kuasa Tuhan atau kuasa negara. Mereka seolah hanya menggantungkan semuanya pada kaki-kaki lelah yang dipaksa terus berjalan dengan menenggak puluhan obat penenang. Bahkan, kematian mereka pun tak menggugah aparat untuk berlaku adil. Sebab keadilan hanya milik mereka yang beruntung, bukan milik kaum marjinal seperti Mira.


0 Komentar