Ketua BPIP Sebut Agama Musuh Terbesar Pancasila, Setara Institute: Itu Fakta!

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Ketua BPIP, Prof Yudian Wahyudi. (FOTO: Istimewa)

-

AA

+

Ketua BPIP Sebut Agama Musuh Terbesar Pancasila, Setara Institute: Itu Fakta!

Nasional | Jakarta

Kamis, 13 Februari 2020 11:00 WIB


JAKARTA, HALUAN.CO - Setara Institute membela pernyataan Ketua BPIP, Prof Yudian Wahyudi, yang menyebutkan agama sebagai musuh terbesar Pancasila. Menurut Direktur Riset SETARA Institute, Halili, apa yang disampaikan oleh Yudian merupakan faktual adanya. 

Halili mengatakan, Yudian sebagai pejabat publik telah secara terbuka mengakui bahwa ada kelompok-kelompok minoritas yang selama ini mereduksi agama dengan nilai-nilai yang bertentangan Pancasila.

"Ada sekelompok orang yang mereduksi agama, mengatasnamakan agama, dan mengaku mewakili pemeluk agama mayoritas, telah menggunakan agama untuk memusuhi Pancasila," kata Halili dalam keterangan tertulisnya, Kamis (13/2/2020).

Sebelumnya, Kepala BPIP, Prof Yudian Wahyudi, melontarkan pernyataan publik yang kontroversial dengan menyebut agama sebagai musuh terbesar Pancasila.

Namun, Yudian menjelaskan bahwa konteks pernyataan tersebut adalah adanya kelompok yang mereduksi agama sesuai kepentingannya sendiri dan tidak selaras dengan nilai-nilai Pancasila.

Yudian menyebut, kelompok itu membuat ijtimak ulama untuk menentukan calon wakil presiden. Ketika manuvernya kemudian tak seperti yang diharapkan, mereka pun kemudian kecewa.

Berdasarkan data longitudinal Setara Institute, 2007-2018, ungkap Halili, kelompok-kelompok intoleran telah melakukan sejumlah pelanggaran kebebasan beragama atau berkeyakinan. Dalam 12 tahun, menurutnya, telah terjadi 2.400 peristiwa pelanggaran KBB dengan 3.177 tindakan.

"Data pelanggaran itu menegaskan bahwa individu dan kelompok intoleran telah nyata-nyata melanggar hak konstitusional warga untuk beragama atau berkeyakinan yang dijamin oleh Pasal 28E Ayat (1) serta Pasal 29 Ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 yang nilai dasar normatifnya bersumber dari Pancasila sebagai dasar negara dan sumber dari segala sumber hukum," ujar Halili.

Meski begitu, Setara Institute mengingatkan kepada Yudian bahwa ruang publik merupakan ruang kontestasi wacana, gagasan, dan narasi. Dalam saluran komunikasi publik yang terbuka, menurut dia, Yudian seharusnya lebih berhati-hati dalam melontarkan wacana.

"Sehingga dialektika publik yang berkembang tidak kontraproduktif terhadap kelembagaan BPIP dan efektivitas kerja-kerja BPIP," ungkapnya.

"Daripada melontarkan wacana yang memantik kegaduhan di ruang publik yang melemahkan urgensi pembinaan ideologi Pancasila, sebaiknya Kepala BPIP mengoptimalkan kinerja dalam senyap dan lebih memprioritaskan untuk memobilisasi energi, sumber daya, dan kewenangan institusional BPIP dalam memajukan kesetaraan hak dan kedudukan seluruh warga, membangun perilaku kolektif," lanjut dia.

Tagar #Bubarkan BPIP Jadi Trending Topic

Setara Institute, ungkap Halili, mengajak publik untuk mewaspadai narasi-narasi yang secara sengaja dibangun oleh kelompok-kelompok tertentu untuk mendelegitimasi Pancasila, seraya terus mengawal secara kritis kinerja Yudian dan kelembagaan BPIP.

"Hal itu agar berkontribusi optimal bagi penguatan kebhinekaan dan negara Pancasila," pungkasnya.


0 Komentar