Ketua KPK Terpilih Berharap Indonesia Tak Lagi Peringati Hari Antikorupsi
Ketua KPK Terpilih, Firli Bahuri. (Foto: Liputan6)

JAKARTA, HALUAN.CO - Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terpilih periode 2019-2024, Firli Bahuri, berharap suatu saat Indonesia tak lagi memperingati Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) yang jatuh setiap 9 Desember. Dengan syarat, negara sudah terbebas dari praktik korupsi.

"Saya berharap suatu saat kita tidak lagi melaksanakan peringatan hari antikorupsi sedunia karena negara sudah bersih dari korupsi dan kita sudah bebas dari korupsi," kata Firli dalam keterangannya, Senin (9/12/2019).

Menurut Firli, Hakordia merupakan hari keprihatinan bagi semua pihak. Sebab, ada hal serius yang semestinya dijadikan perhatian bersama, yakni praktik rasuah.

Di samping itu, kata dia, Hakordia juga memberi makna peringatan (alarm warning) bahwa Indonesia masih memiliki masalah korupsi. Karena, tidak semua negara melaksanakan peringatan hari antikorupsi, terutama negara-negara yang memang tidak lagi menempatkan korupsi sebagai masalah serius.

"Karena memang tidak ada lagi korupsi (zero corruption)," paparnya.

Jenderal bintang tiga Polri itu mengimbau kepada seluruh elemen masyarakat untuk bergandengan tangan mengambil peran, memberantas korupsi sesuai dengan tataran hak, kewajiban, kewenangannya masing-masing, sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 19 Tahun 2019 atas perubahan Undang-undang Nomor 30 tahun 2002 tentang KPK.

Bagi dia, KPK adalah garda terdepan pemberantasan korupsi. KPK juga menjadi tumpuan masyarakat untuk memberantas korupsi yang menjangkiti Indonesia.

KPK, lanjutnya, diamanatkan dalam Pasal 6 Undang-undang KPK untuk mencegah, memonitoring pelaksanaan program pemerintah dan pelayanan publik, serta berkoordinasi dengan seluruh instansi untuk melakukan pemberantasan.

"Tugas tersebut tidak akan efektif tanpa bekerja sama, bersinergi dengan seluruh instansi, elemen bangsa, pimpinan lembaga baik pemerintah, swasta, kalangan dunia usaha, para tokoh-tokoh (agama, pemuda, masyarakat, pendidikan, budayawan)," tukasnya.