Khawatir soal Keamanan Data, BNPT Larang Penggunaan Zoom

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Ilustrasi aplikasi meeting online Zoom (Foto: Istimewa)

-

AA

+

Khawatir soal Keamanan Data, BNPT Larang Penggunaan Zoom

Teknologi | Jakarta

Selasa, 28 April 2020 21:27 WIB


JAKARTA, HALUAN.CO - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melarang penggunaan aplikasi konferensi video 'Zoom' bagi pegawainya. Alasan utama dari pelarangan tersebut lantaran kekhawatiran soal keamanan data BNPT.

Mengapa ini penting: Larangan itu dikeluarkan BNPT melalui Surat Edaran Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Nomor 8 tahun 2020 tentang Larangan Penggunaan Aplikasi Video Conference Zoom di Lingkungan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme terkait Pengamanan Informasi Data, tetanggal 24 April 2020.

Konteks:

⦁ Keamanan data di aplikasi Zoom masih sangat rentan, dana hal itu diakui sendiri oleh Zoom mengenai adanya celah keamanan dan mereka berjanji akan memperbaiki.

⦁ Aplikasi ini ternyata tidak melakukan enkripsi untuk panggilan video yang dilakukan pengguna. Sistem keamanan Zoom hanya mengandalkan protokol Transport Layer Security (TLS).

⦁ Hal tersebut memungkinkan pesan atau informasi yang disampaikan lewat Zoom berpotensi dicuri atau disadap oleh peretas.

Apa katanya: "Agar semua unit kerja di lingkungan BNPT tidak menggunakan aplikasi video conference Zoom pada saat mengadakan rapat dengan pihak internal maupun eksternal," demikian pelarangan tersebut tertulis dalam surat edaran yang ditandatangani Sekretaris Utama BNPT Adang Supriyadi.

Larangan penggunaan Zoom: Ruang lingkup surat edaran ini meliputi seluruh pegawai di lingkungan BNPT dengan dasar Arahan Pimpinan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme terkait keamanan data dan informasi pada seat pelaksanaan konferensi video.

⦁ Para pegawai BNPT diminta menggunakan aplikasi lainnya yang telah terjamin enkripsinya dalam setiap pelaksanaan rapat konferensi video seluruh pejabat dan staf yang masih menginstal aplikasi Zoom Meeting pada perangkat laptop maupun smartphone diminta agar menghapus aplikasi tersebut untuk menghindari terjadinya potensi pencurian data atau scamming.

⦁ Pelarangan itu sehubungan dengan tidak adanya jaminan keamanan data dari pihak penyedia aplikasi Zoom dan adanya duplikasi traffic yang dilaporkan pihak penyedia aplikasi Zoom ke server yang berada di negara lain yang dapat dimonitor oleh pihak yang tidak berkepentingan.

Daftar kerentanan keamanan:

⦁ Kerentanan keamanan Zoom lainnya adalah Zoom ketahuan menginstal server web rahasia dalam laptop Mac pengguna. Zoom juga gagal menghapus server tersebut saat pengguna telah menghapus Zoom. Akibatnya, Apple ikut turun tangan mengatasi hal ini.

⦁ Zoom juga dikabarkan diam-diam mengirimkan data ke Facebook tanpa sepengetahuan pengguna. Data tetap dikirim sekalipun pengguna tak punya akun Facebook. Padahal, aplikasi itu tidak membeberkan akan melakukan praktik berbagi data kepada Facebook dalam kebijakan privasinya.

⦁ Setelah aplikasi diunduh dan digunakan di ponsel atau tablet, aplikasi Zoom bakal terhubung ke Facebook Graph API. Kebijakan privasi Zoom tidak menjelaskan soal jenis pembagian data tersebut. Perusahaan itu hanya mengatakan berbagi data dengan pihak ketiga tanpa menyebutkan nama Facebook secara khusus.

⦁ Zoom juga sempat dikritik lagi karena fitur pelacakan peserta rapat. Saat diaktifkan, host atau penggelar rapat dapat memeriksa apakah peserta menjauh dari laptop selama panggilan.

⦁ Seorang peneliti keamanan menemukan bahwa Zoom bisa menginstal aplikasi di Mac tanpa interaksi pengguna. Teknik tanpa interaksi ini juga digunakan oleh malware di macOS.

⦁ Terakhir ada Zoombombing, hal ini adalah serangan yang dilancarkan hacker berupa gangguan dari luar yang membajak konferensi video dengan mengirim gambar-gambar tidak senonoh atau ujaran kebencian disertai ancaman.

Bagaimana selanjutnya: "Maksud dan tujuan surat edaran ini sebagai pedoman untuk tidak menggunakan aplikasi konferensi video Zoom dan menggunakan aplikasi konferensi video lainnya. BNPT ingin mencegah kebocoran data dan informasi ke pihak yang tidak bertanggung jawab," Sekretaris Utama BNPT Adang Supriyadi dalam surat edaran tersebut.

ITS Ciptakan Robot VIOLETA untuk Sterilkan Ruangan Isolasi COVID-19

Aplikasi meeting alternatif:

⦁ WhatsApp: Selain bisa digunakan untuk chatting, aplikasi ini juga bisa digunakan untuk rapat kerja atau berdiskusi jarak jauh. Anda bisa menggunakan fitur video call ini dengan kapasitas maksimal 4 orang.

⦁ Google Hangsouts Meet: Aplikasi percakapan online milik Google ini mampu melakukan panggilan video dengan 250 pengguna sekaligus dalam sekali panggilan video. Aplikasi ini juga dibekali dengan beberapa fitur Google, seperti dapat menampilkan caption secara otomatis dengan teknologi text-to-speec, dan jadwal meeting yang terintegrasi dengan Google Calendar. Apabila ingin mengundang orang lain bergabung diluar anggota video, penyelenggara percakapan video cukup membagikan meeting code ke orang lain dan orang tersebut dapat masuk dalam meeting dengan memasukkan meeting code yang telah diberikan.

⦁ Skype: Aplikasi milik Microsoft yang dapat menampung 25 orang untuk bertatap muka secara online dalam satu kali panggilan. Skype dapat diakses melalui beragam perangkat, termasuk komputer (PC atau laptop), smartphone, hingga televisi yang memiliki fasilitas pendukung. Selain dapat melakukan panggilan video jarak jauh, Skype juga menyediakan media percakapan berbasis teks secara individu maupun grup. Skype juga mendukung layanan panggilan suara berbayar ke nomor ponsel maupun telepon rumah.

⦁ Facetime: Aplikasi ini dalah produk Apple yang hanya dapat digunakan di semua produk apple seperti iPhone, iPand, dan Pod Touch. Facetime diklaim mampu menampung hingga 32 orang dalm satu panggilan video. Aplikasi ini dapat menggunakan kamera depan maupun kamera belakang untuk memperlihatkan suatu objek yang keapada para peserta dalam grup panggilan video tersebut.

⦁ Slack: Aplikasi percakapan berbasis grup yang bisa digunakan untuk berkomunikasi. Biasanya aplikasi ini digunakan oleh sebuah grup perusahaan atau sebuah tim. Aplikasi ini bisa digunakan untuk berbagi dokumen dan panggilan video hingga 15 orang dalam sekali panggilan.

⦁ Cisco Webex: Aplikasi ini mungkin tampak asing Anda dengar, namun aplikasi ini seringkali digunakan oleh sejumlah perusahaan besar yang masuk dalam daftar Fortune 500. Aplikasi berbasis panggilan video ini memiliki jumlah maksimal peserta panggilan hingga 100 orang. Namun jumlah tersebut bervariasi tergantung paket langganan apa yang digunakan. Fitur di aplikasi Cisco Webex mencakup screen sharing, dukungan Google Assistant dan Google Home Hub, fitur papan virtual untuk menggambar, fitur pengunggah dokumen, hingga fitur untuk merekam percakapan video.

⦁ CloudX Meeting: Aplikasi ini dikembangkan Telkomsel yang diluncurkan pada Januari lalu dan tersedia untuk konsumen korporasi (enterprise). Namun, diketahui Telkomsel dan Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) saat ini sedang mengembangkan platform rapat online pengembangan CloudX Meeting untuk kementerian dan lembaga (K/L) selama masa pandemi Corona sebagai pengganti Zoom.


0 Komentar