Kiara Sebut Ekonomi Nelayan Kian Terpuruk Imbas Corona
Ilustrasi Nelayan. (Foto: Pikiran Rakyat)

JAKARTA, HALUAN.CO - Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara), Susan Herawati mengatakan, dampak virus corona (Covid-19) langsung terasa pada kehidupan ekonomi masyarakat. Banyak masyarakat terutama yang bergerak di ekonomi kecil mengeluhkan dampak buruk perekonomian yang turun drastis jika dibandingkan dengan hari-hari normal. Hal serupa terjadi pada perekonomian nelayan Indonesia.

"Pemerintah tampak tidak mempertimbangkan aspek ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput. Ekonomi masyarakat mandek terutama dirasakan oleh banyak keluarga nelayan di Indonesia," kata Susan dalam keterangannya, Jumat (27/3/2020).

Susan menjelaskan, di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, nelayan terpaksa menjual hasil tangkapan dengan harga murah atau turun lebih dari 50 persen dari harga biasanya.

Hal tersebut, kata dia, karena banyak pabrik pengolahan yang ditutup untuk mencegah mencegah penularan Covid-19.

Sugeng Trianto, seorang nelayan di Kendal, mengatakan, pabrik biasanya membeli ikan hasil tangkapan Rp40.000/kg, kini dijual hanya Rp15.000-Rp20.000/ kg. Tak hanya itu, produk olahan kelompok nelayan, berupa keripik kerang yang normalnya adalah Rp15.000 kini hanya dijual Rp5.000/ bungkus.

"Kondisi ini semakin memperpanjang kesulitan yang dialami nelayan. Sebelumnya, nelayan di Jawa Tengah, khususnya di Kabupaten Kendal baru, saja melewati musim paceklik,” kata Susan.

Dikatakan Susan, penderitaan para nelayan tak sampai di situ. Saat harga ikan turun, harga sembako di pasar justeru naik. Sementara pendapatan nelayan terus turun pasca massifnya penyebaran Covid-19.

Hal serupa terjadi di Muara Angke, Jakarta. Setelah ditetapkan sebagai episentrum Covid-19, tempat pelelangan ikan (TPI) di Muara Angke sepi dan akan ditutup sampai waktu tak ditentukan. Akibatnya, banyak nelayan di kawasan itu memutuskan tidak melaut.

Susan mengutip pengakuan salah seorang nelayan Muara Angke, Rois. Rois mengaku penyebaran Covid-19 membuat kehidupan para nelayan semakin sulit. Kondisi nelayan Muara Angke, khususya Gang Kerang Hijau, sekarang semakin sulit persediaan untuk logistik harian.

Susan mengatakan, nelayan di Muara Angke harus menghitung perbedaan pemasukan dan pengeluaran yang sangat besar. Ia mengatakan, jika nelayan memaksakan diri untuk melaut, maka lebih banyak pengeluarannya daripada pemasukan dari menjual ikan.

Dampak kebijakan penanganan Covid-19 juga dirasakan betul oleh kelompok nelayan di Pulau Pari, Kepulauan Seribu DKI Jakarta. Setelah Jakarta ditetapkan sebagai episentrum Covid-19, pariwisata di Pulau Pari tutup sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan.

Perekonomian masyarakat yang tergantung kepada pariwisata mulai melemah. Masyarakat mulai khawatir jika stok bahan pokok dan pangan utama mereka di Pulau Pari mulai menipis, karena pasokan mereka sangat tergantung dari Jakarta.

“Pada saat yang sama, penyeberangan perahu akan segara ditutup untuk mencegah penyebaran Covis-19,” ucap Susan.

Berdasarkan fakta-fakta tersebut, Susan kebijakan penanganan Covid-19 yang dijalankan oleh pemerintah Indonesia sangat tidak mempertimbangkan aspek ekonomi. Terkhusus kehidupan keluarga nelayan dan pelaku perikanan lainnya, yang jumlahnya lebih dari 8 (delapan) juta rumah tangga.

Menkop Siapkan Stimulus untuk UMKM di Tengah Corona

Menurut Susan, pemerintah seharusnya memberikan prioritas untuk melindungi keluarga nelayan yang terdampak kebijakan penanganan Covid-19. Pemerintah harus mengalokasikan secara khusus dana perlindungan dan pemberdayaan nelayan.

"Pasal 12 UU 7 Tahun 2016 memberikan sejumlah mandat kepada Pemerintah, diantaranya memberikan perlindungan kepada nelayan berupa penyediaan prasarana usaha perikanan, memberikan jaminan kepastian usaha, memberikan jaminan risiko penangkapan ikan, serta menghapus praktik ekonomi berbiaya tinggi," tukas Susan.