Kilah Reynhard Sinaga, Sodomi Dilakukannya Atas Suka Sama Suka
Reynhard Sinaga. (Foto: Instagram)

JAKARTA, HALUAN.CO - Para pria korban perkosaan menginginkan agar Reynhard Sinaga (36) menderita dan "membusuk di neraka".

Berdasarkan hukum Inggris, identitas korban perkosaan, termasuk nama, tidak boleh diungkap ke publik, kecuali korban memutuskan membuka jati dirinya.

Rata-rata korban pemerkosaan adalah pria kulit putih Inggris berusia rata-rata 21 tahun. Para korban mengaku tak akan pernah melupakan saat polisi mendatangi mereka dan mengungkapkan apa yang terjadi terhadap mereka.

"Saya tidak tahu mengapa mereka perlu bertemu saya, namun saya bisa katakan bahwa saya merasa hancur saat mendengar bahwa saya adalah korban perkosaan setelah dibius dan tindak seksual itu difilmkan oleh seorang pria, yang sekarang saya tahu pelakunya adalah Sinaga," kata seorang korban pria dalam pernyataan kepada Kepolisian Manchester Raya, dilansir dari BBC News, Selasa (7/1/2020).

Perkosa 48 Pria di Inggris, WNI Reynhard Sinaga Divonis Penjara Seumur Hidup

Reynhard, sejak awal persidangan, menolak dakwaan melakukan perkosaan. Ia mengatakan hubungan seksual itu dilakukan atas dasar suka sama suka

"Saya seperti mati rasa, saya sangat terkejut, merasa dikhianati, sangat marah. Tindakannya menjijikkan, tak bisa dimaafkan. Ia secara masif menyalahgunakan kepercayaan saya terhadap manusia," kata korban lain kepada polisi dalam pernyataan yang diperoleh BBC News.

Korban juga berharap, hal terburuk terburuk akan terjadi pada Reynhard. "Saya ingin dia merasakan sakit dan penderitaan seperti yang saya rasakan. Ia menghancurkan satu bagian dari hidup saya," kata korban pria lain.

Reynhard Sinaga dihukum seumur hidup oleh Pengadilan Manchester, Inggris, atas tindak perkosaan dan serangan seksual terhadap 48 korban pria dalam 159 kasus. Tindak kejahatan ini dilakukan selama rentang waktu sekitar 2,5 tahun. Sebagian korban diperkosa berkali-kali oleh Reynhard.

Tindak perkosaan itu semua dilakukan di apartemennya di pusat kota Manchester, yang menjadi tempat tinggalnya sejak 2011 sampai ditahan pada Juni 2017.

Di area seputar tempat tinggalnya terdapat sejumlah klub malam, tempat anak-anak muda berkumpul sambil minum-minum.

Persidangan berlangsung dalam empat tahap, mulai Juni 2018 dan tiga tahap pada 2019, namun Pengadilan Manchester baru mengizinkan pemberitaan setelah hukuman dijatuhkan untuk sidang tahap tiga dan empat pada Senin (6/1/2020).

Reynhard yang datang ke Inggris dengan visa mahasiswa pada 2007 itu, menyanggah telah membius korban dan tetap bersikukuh bahwa yang terjadi adalah hubungan seksual suka sama suka.