Kita Perlu Tatanan Dunia Baru

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Presiden Brasil, Jair Bolsonaro, memecat Menteri Kesehatan, Luiz Henrique Mandetta, di tengah pandemi virus corona. (Ilustrasi: Haluan.co)

-

AA

+

Kita Perlu Tatanan Dunia Baru

Opini | Jakarta

Sabtu, 25 April 2020 07:05 WIB


Manusia perlu sedikit meningkatkan argumen. Memanaskan rasionalitas yang dingin karena terlalu lama parkir di batok kepala. Menyisakan banyak ruang untuk percaya pada kemanusiaan. Mencopot jubah-jubah identitas kelompok.

MELIHAT keadaan dunia yang tertatih-tatih menanggulangi masalah pandemi COVID-19, sepertinya umat manusia perlu melakukan perombakan besar untuk mencegah masalah serupa ke depannya. Saat ini, negara-negara yang mengalami serangan paling telak adalah negara yang dianggap pusat dunia. Pusat dunia dalam hal peradaban, bukan epicentrum wabah. Walaupun ada benarnya juga disebut epicenter. Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Italia, Belanda dan Spanyol.

Sebelum pandemi COVID-19 menghantam, dunia ini sedang berubah ke arah yang lain. Demonstrasi besar-besaran di berbagai negara. Inggris memutuskan keluar dari European Union. Terpilihnya pemimpin-pemimpin populis di India, Brasil, Filipina dan lain sebagainya. Tapi, nggak ada yang lebih mengejutkan dari terpilihnya Donald Trump di negara adikuasa Amerika Serikat.

Singkat cerita, populisme laku dijual. Kampanye yang memanfaatkan isu-isu SARA mendapat tempat. Identitas politik menguat. Umat manusia mengalami krisis kepercayaan pada mereka yang berbeda. Hanya berharap pada kelompoknya masing-masing. Alhasil, masyarakat terpolarisasi dalam ruang-ruang kecil yang dipisahkan identitas.

Tuntutan dunia yang membuat manusia bergerak cepat dan berbaur satu sama lain ternyata membuat manusia kurang nyaman. Mereka yang nggak kuat beradu cepat dengan tuntutan zaman, memilih untuk berlindung di balik jubah identitas kelompok.

Di lubuk hati terdalam, orang-orang merindukan kemurnian. Kemurnian ras, agama, suku, bangsa dan lain sebagainya.

Fenomena hijrah terjadi di mana-mana. Bukan cuma di Indonesia saja yang tiba-tiba banyak orang yang dulunya bejat dalam sekejap berubah menjadi orang paling alim sedunia. Saking alimnya, sampai-sampai mereka nggak mau bergaul dan tak berhenti menceramahi sang penuh dosa.

Di Amerika, fenomena serupa juga tumbuh subur, tapi orang-orang bukan berubah jadi jenggotan. Mereka meneriakkan supremasi kulit putih dan memandang rendah kulit berwarna. Sampai-sampai pemerintahnya mau membangun tembok di setiap perbatasan untuk memisahkan diri.

Sentimen menguat, argumen menciut. Sensasional meraja lela, rasional tak berdaya.

Berkaca dari Pandemi COVID-19

Kemudian pandemi datang dan memorak-morandakan struktur dan sistem sosial yang ada. Virus corona menyapu bersih semua keributan umat manusia beberapa tahun terakhir.

Satu hal yang pasti: keributan kita belakangan ini sama sekali nggak punya faedah sedikit pun dalam menyelamatkan umat manusia.

Diskursus publik jauh dari esensi. Perdebatannya hanya berkutat siapa yang lebih murni agamanya, siapa yang lebih murni kebangsaannya dan lain sebagainya. Berdebat soal mana yang haram dan mana yang halal.

Nyatanya, hal semacam ini hanya memberi makan ego kita saja. Sekali lagi, nggak ada faedahnya sedikit pun. Virus corona membuktikan hal tersebut.

Manusia perlu sedikit meningkatkan argumen. Memanaskan rasionalitas yang dingin karena terlalu lama parkir di batok kepala. Menyisakan banyak ruang untuk percaya pada kemanusiaan. Mencopot jubah-jubah identitas kelompok.

Kini, umat manusia harus bersatu untuk melawan virus ini. Salah satunya adalah dengan berbagi informasi secara global dan menyeluruh. Virus corona yang saat ini menyerang Italia dan Indonesia nggak bisa berdiskusi dan bertukar informasi tentang bagaimana cara yang paling efektif untuk membunuh manusia.

Tapi, dokter Italia bisa memberi pelajaran penting ke dokter Indonesia soal bagaimana caranya mengobati pasien COVID-19. Apa yang ditemukan dokter di Milan pagi ini, bisa menyelamatkan nyawa orang di Jakarta pada sorenya. Pemerintah bisa bertukar informasi tentang kebijakan apa yang mesti diambil. Negara yang kurang terdampak bisa mengirimkan bantuan ke negara yang lebih terdampak.

Masih banyak hal yang membuat manusia lebih unggul dari virus corona. Asalkan kita mau terbuka untuk bekerja sama. Kalau kita egois menutup diri dari kerja sama global, apa bedanya manusia dengan virus corona?

Kerjasama global hanya bisa terjadi jika ada keinginan untuk berbagi informasi, keterbukaan dan kerendahan hati untuk meminta saran dari negara yang lebih berpengalaman.

Mengedepankan argumen dan rasionalitas berarti percaya dengan kerja-kerja nyata sains. Semua kebijakan yang diambil harus berlandaskan data yang jelas. Sains harus menjadi primadona, alasan utama di balik setiap tindakan.

Kita nggak bisa setuju tentang bangsa mana yang terbaik. Kita punya subjektivitas untuk membela bangsa masing-masing. Sampai urat leher putus, kita nggak akan satu suara soal Tuhan siapa yang benar. Satu agama saja sering membuat kita ribut. Pada persoalan ini, kita harus sepakat untuk nggak sepakat. Cukup simpan keyakinan bahwa bangsamulah yang terbaik dan Tuhan-mulah yang paling benar.

Umat manusia seharusnya fokus pada sains. Di mana yang dikedepankan adalah objektivitas. Semua orang yang sehat bisa sepakat soal itu, empiris. Nggak sepakat? Boleh saja. Bawakan bukti yang lebih valid. Yang bisa diverifikasi seluruh orang sehat. Kalau memang benar ya benar, salah ya salah. Objektif.

Dalam sejarahnya, sains sudah banyak mengakui kesalahannya. Teori demi teori runtuh dibantah oleh teori lain yang membawa bukti lebih valid. Sains nggak terobsesi menjadi paling baik atau paling benar.

Mari kita buang jauh-jauh jiwa sentimentil yang menyombongkan identitas kelompok. Mari kita mengabdi untuk kepentingan yang lebih besar, kemanusiaan. Saya berharap ada tatanan dunia baru yang lebih mengedepankan kemanusiaan, kerjasama global dan ilmu pengetahuan. New World Order.

Eh tapi bukan New World Order ala-ala Illuminati atau Freemason ya. Yang begitu hanya ada dalam ilusi pecinta teori konspirasi. Tetapi, dunia baru di mana manusia saling bekerja sama dan bersama-sama menjunjung kemanusiaan.


Penulis sebagai analis sosial dan budaya


0 Komentar