Komponen Cadangan Militer: Sejauh Mana Efektivitasnya?
Komcad, Bemper Militer (Ilustrasi: Total Politik)

Komcad adalah bagian yang penting, namun sejauh manakah itu bisa efektif?

KOMPONEN cadangan (Komcad) adalah bagian yang penting, namun sejauh manakah itu bisa efektif? Bagaimanapun juga, itu pun harus diukur efektivitasnya sebagai kekuatan pengganda komponen utama.

Komcad merupakan sebuah pasukan cadangan militer atau sebuah organisasi militer yang terdiri dari warga negara yang menggabungkan peran militer dengan karier sipil.

Konsepsi dari Komcad sendiri juga memang agak beda dengan lainnya. Konsep ini bukanlah wajib militer, sifatnya pun tidak wajib.Keikut sertaannya juga bersifat sukarela dan masih melalui proses seleksi yang ketat. Fungsi komponen cadangan secara umum adalah fungsi mobilisasi dan fungsi demobilisasi.Komcad bisa digunakan untuk memobilisasi perang total atau untuk mempertahankan diri dari invasi. Tapi yang jelas, keberadaan komponen ini bertujuan untuk mendukung penguatan TNI.

Metamorfosa TNI sejak Era Pendudukan Jepang hingga Kini

Belakangan ini, Kementerian Pertahanan (Kemenhan) telah mengumumkan pendaftaran pelatihan militer untuk Komcad. Rencananya, pelatihan tersebut ditargetkan dengan jumlah 25 ribu orang dan mulai pada Juni 2020.

Namun, tampaknya keberadaan Komcad masih perlu diukur efektivitasnya. Pasalnya, perang saat ini juga tidak bisa terlepas dari teknologi. Kecanggihan teknologi turut mempengaruhi negara dalam posisi perang.

Hal tersebut bisa dilihat dari beberapa peristiwa serangan militer yang telah terjadi. Contohnya, kematian Mayor Jenderal Qasem Soleimani, petinggi Garda Revolusi Iran, akibat serangan pesawat nirawak, drone MQ-9 Reaper itu adalah salah satu bukti bahwa teknologi canggih bisa turut membantu operasi militer.

Atau pun juga, serangan bom atom yang ada di Hiroshima dan Nagasaki pada 6 dan 9 Agustus 1945. Hanya dalam waktu sekejap, bom atom mampu menewaskan setidaknya 129 ribu jiwa di negeri Sakura itu.

Itu juga menjadi bukti bahwa kecanggihan teknologi mampu menewaskan banyak orang dengan sangat efektif.

Kiranya, perlu diselaraskan bagaimana efektivitas Komcad tersebut dengan kecanggihan teknologi militer yang terjadi kini. Kemenhan menyadari bahwa dunia sedang tidak aman. Isu perang dagang yang sempat terjadi dan sarat dengan tendensi politik; konflik Timur Tengah di Suriah; atau pun juga wabah virus corona yang merebak hingga kini.

Prabowo Subianto tampaknya masih memegang prinsip Si Vis Pacem, Para Bellum: siapa menginginkan perdamaian, bersiaplah untuk perang. Dan, ia meyakini pribahasa tersebut masih tetap relevan untuk digunakan saat ini.

Atas dasar itu, Kemenhan sebetulnya menyiapkan Komcad sebagai upaya berjaga-jaga. Akan tetapi, rasa-rasanya perekrutan Komcad ini masih belum cukup memuaskan.

Pasalnya, perekrutan Komcad hanya mengambil 25 ribu orang, sementara jumlah populasi Indonesia sebesar 238 juta, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) per 2015.

Jika pun kita tempatkan posisi ideal prajurit TNI sebanyak 1 persen saja dari populasi, setidaknya ada 2,3 juta tentara yang perlu dipersiapkan.

Jumlah tentara saat ini hanya sebesar 438 ribu yang aktif, katakanlah kita bulatkan 500 ribu. Jumlah tersebut pun masih jauh dari target Kemenhan untuk menguatkan militer Indonesia secara ideal. Perlu sekali penambahan jumlah rekrutmen secara bertahap.

Namun, kita juga bisa menaruh harapan untuk Komcad ini sebagai upaya mendukung penguatan militer Indonesia dari sisi sumber daya manusia. Setidaknya, itu bisa meningkatkan posisi cadangan militer Indonesia yang menurut global fire power, berada di peringkat 16.

Posisi tersebut masih berbeda jauh dengan Vietnam, yakni sebanyak 5 juta orang. Posisi tersebut juga masih jauh dari Korea Selatan sebanyak 3,1 juta orang; India, sebanyak 2,1 juta orang. Karenanya, kita patut toleran dengan menyoal Komcad ini.

Namun harus diingat, untuk memperkuat militer di Indonesia, perlu juga untuk menguatkan komponen militer yang lain, terutama perangkat teknologi perang. Komcad pun masih perlu dipertanyakan efektivitasnya, lantaran masih jauh dari ekspektasi yang idealnya. Tapi setidaknya, hal ini baik untuk dimulai. (AK)