Kopi Luwak Tanpa Luwak, Ini Temuan Profesor ITB
Kopi luwak sangat digemari dan harganya mahal. (Foto: Istimewa)

BANDUNG, HALUAN.CO - Kopi luwak sangat terkenal dan harganya mahal. Namun, produksinya terbatas karena hewan Luwak termasuk langka dan dalam kondisi tertentu animal abuse.

Menyikapi tersebut seorang peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam presentasinya bertajuk “Eksplorasi Potensi Mikroba Lokal: Dari Laboratorium Hingga Penikmat Kopi” dapat menciptakan kopi luwat tanpa Luwak.

Ya, Prof. Pingkan Adiawati , baru-baru ini, memanfaatkan mikroba isolate yang diambil dari usus Luwak. “Kekhawatiran akan animal abuse terhadap Luwak sebagai agen produksi menjadi masalah. Maka dari itu, penelitian ini dilakukan dengan cara mengambil mikroorganisme isolate dari saluran pencernaan luwak dan diuji coba di laboratorium,” ungkapnya.

Kopi adalah komoditas ekspor unggul Indonesia yang menambah devisa negara adalah kopi. Indonesia merupakan negara produsen kopi terbesar ketiga di dunia pada tahun 2010.

Jenis kopi yang diproduksi petani kopi di Indonesia adalah robusta (73 persen) dan arabika (27 persen) pada tahun 2016. Namun cita rasa kopi Indonesia bervariasi dari Sabang sampai Merauke karena rasa kopi dipengaruhi oleh lingkungan tempat tumbuhnya.

Menurut Prof. Pingkan, fermentasi kopi khas Indonesia ini membuat cita rasa dan aroma semakin bervariasi. Inovasi yang dilakukan Prof. Pingkan adalah membuat fermentasi kopi luwak dengan bakteri sehingga pembuatan kopi luwak dapat dilakukan dengan independen alias tanpa Luwak.

Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kopi yang dilakukan fermentasi dan dipanggang akan meningkatkan polifenol yang bermanfaat sebagai antioksidan. Pemanggangan juga memengaruhi kandungan gula yang akan mengalami proses karamelisasi dan protein yang menambah rasa pahit (bitterness).

“Jadi intinya setelah proses pemanggangan ini terjadi penambahan cita rasa dan aroma pada biji kopi,” jelasnya.

Pingkan menuturkan, terdapat beberapa kendala yang dihadapi untuk mengembangkan usaha tani. Kendala-kendala tersebut yaitu seperti sumberdaya lahan, aspek panen dan pasca panen, serta sumberdaya manusia.

“Saya mengusulkan beberapa strategi yaitu meningkatkan keterampilan petani kopi dengan pembinaan dari lembaga penelitian, pemberdayaan anggoa dan kelompok usaha tani kopi untuk meningkatkan jiwa wirausaha, peningkatan skema pemodalan usaha, pengoptimalan lahan tani, serta bantuan untuk pemasaran produk. Saya yakin jika lembaga penelitian, sponsor, petani kopi dan pemerintah dapat bekerjasama maka akan badan usaha tani kopi yang efisien sehingga manfaatnya dapat dirasakan banyak orang,” paparnya.