KPAI Sesalkan Guru SMA 'Gebuk' Siswanya karena Tak Pakai Ikat Pinggang
Gedung SMAN 12 Kota Bekasi. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, HALUAN.CO - Video berdurasi 14 detik yang merekam seorang oknum guru memukuli muridnya memakai tangan kosong, viral di media sosial. 

Belakangan diketahui, peristiwa tersebut terjadi di SMAN 12 Kota Bekasi, Jawa Barat. Dalam tayangan itu, tampak sejumlah murid berbaris di lapangan. Sebagian dari mereka berdiri dan dipukuli secara bertubi-tubi oleh oknum guru, tersebut. Diduga, alasannya karena para murid tidak memakai ikat pinggang dan terlambat masuk sekolah.

Terkait itu, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan Retno Listyarti mengatakan, pihak akan turun langsung ke lokasi untuk melakukan pengawasan dan diagendakan akan bertandang ke SMAN 12 Kota Bekasi pada Jumat besok.

"KPAI segera pengawasan langsung ke SMAN kota bekasi terkait kasus kekerasan fisik pada Jumat, 14 Februari 2020," kata Retno dalam keterangannya, Kamis (13/2/2020).

Menurut Retno, KPAI juga akan menggelar rapat bersama Pemprov Jawa Barat serta organisiasi perangkat daerah (OPD) terkait guna membahas permasalahan tersebut.

"KPAI akan melakukan rapat koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan OPD terkait untuk membahas kasus kekerasan fisik di SMAN kota Bekasi," tuturnya.

KPAI juga mendorong Inspektorat Provinsi Jawa Barat untuk melakukan BAP terhadap pihak sekolah, termasuk pelaku dan manajemen sekolah. Hal ini sebagaimana diatur dalam PP No. 53 tahun 2014 tentang Disiplin PNS, memgingat ada pelanggaran terhadap UU Perlindungan Anak.

Retno menduga, kejadian ini bukan pertama kali terjadi. Bahkan, murid yang menjadi korban mungkin lebih dari lima.

Dibully Guru dengan Sebutan Lonte, Siswi SMKN 1 Anambas Ini Putus Sekolah

Ia menjelaskan, pihak sekolah mungkin menerapkan sistem kekerasan dalam mendidik siswanya. Karenanya, diduga masih ada murid lain yang menjadi korban kekerasan serupa.

"KPAI juga meyakini bahwa perbuatan yang viral ini bukan sekali, tetapi seringkali dilakukan oleh pihak sekolah atas nama mendidik dan mendisiplinkan siswanya. Diduga kuat, korban tidak hanya 5 siswa jika bentuk pendisiplinkan seperti ini merupakan kebijakan sekolah," tukasnya.