Krakatoa Erupsi di Zaman Corona Bikin Cerewet Warganet

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Ketika Anak Krakatau erupsi selalu mengingatkan kedahsyatan ledakan induknya yang mengguncang dunia. (Ilustrasi: Haluan)

-

AA

+

Krakatoa Erupsi di Zaman Corona Bikin Cerewet Warganet

Overview | Jakarta

Sabtu, 11 April 2020 11:10 WIB


Krakatau yang nun jauh di Hindia Belanda ternyata dampaknya sangat dahsyat bukan hanya untuk masyarakat lokal tetapi juga warga dunia. Abu vulkanik dan material lainnya yang disemburkan ke langit menyebabkan suhu bumi turun. 

KRAKATOA alias Gunung Krakatau di Selat Sunda sempat tandas setelah letusan hebat yang nyaris dunia seperti kiamat. Tidak hanya bencana kemanusiaan juga telah mengubah iklim dunia.

Kini, ahli warisnya, Gunung Anak Karakatau, setiap tahun bertambah tinggi 6 meter. Dan suatu saat kemungkinan Anak Krakatau yang seolah menyembul dari dalam lautan yang tenang dan anteng akan meledak kembali seiring semakin seringnya erupsi.

Krakatau meletus pada Senin, 27 Agustus 1883 pukul 10.02 WIB yang diikuti tsunami dan menyebabkan 36.000 jiwa meninggal baik pribumi atau bangsa kolonial yang ada di sekitar Anyer.

Soal titimangsa ini, para pengamat dan peneliti serta geolog pun tak pernah silang pendapat. Mereka semuanya sepakat. Sebuah kenyataan yang sebetulnya langka karena pada dasarnya dalam kasus-kasus yang lain pengamat atau para ahli kerap beda pendapat soal detail, pada waktu itu.

Seperti diceritakan dalam buku yang ditulis Simon Winchester, Krakatoa: Saat Dunia Meledak 27 Agutus 1883, tanda-tanda Krakatau akan meledak sebenarnya sudah diketahui gejalanya. Sayangnya, yang paling sensitif dengan peristiswa alam itu hanya binatang.

Misalnya digambarkan saat itu ada seekor gajah sirkus di Batavia yang awalnya jinak dan terlatih tiba-tiba ngamuk. Sementara di daerah Anyer dan sekitarnya ayam betina berhenti bertelur, ular yang berhibernasi keluar liang, tikus kebingungan masuk lubang sehingga mudah ditangkap dan anjing melolong tanpa sebab.

Kejadian itu sudah terdeteksi oleh warga sekitar empat pekan sebelum Krakatau meletus. Sementara masyarakat Anyer dan sekitarnya beraktivitas seperti biasa, petani pergi ke ladang, pedagang berjualan di pasar dan para pejabat kolonial serta keluarganya masih di rumah menikmati sarapan dan minum kopi.

Ledakan Krakatau sebenarnya tak lebih dahsyat dari letusan gunung purba Toba atau Tambora di Hindia Belanda serta Taupo di Selandia Baru dan Katmai di Alaska.

Yang membedakannya, menurut Simon, pada saat Krakatau meletus revolusi teknologi informasi tengah terjadi seperti dibangunnya jaringan kabel bawah laut, telegraf dan merebaknya agen pemberitaan Eropa di Batavia.

Informasi dengan mudah tersebar secara masif termasuk peristiwa meledaknya Krakatau. Inilah yang disebut ahli komunikasi Marshall McLuhan sebagai global village (desa dunia). Apalagi di Batavia banyak orang Eropa tinggal atau menetap, tidak hanya orang Belanda. Krakatau dan Eropa pun seolah bertetangga padahal jaraknya ribuan kilometer.

Krakatau yang nun jauh di Hindia Belanda ternyata dampaknya sangat dahsyat bukan hanya untuk masyarakat lokal tetapi juga warga dunia. Abu vulkanik dan material lainnya yang disemburkan ke langit menyebabkan suhu bumi turun.

Dunia gelap gulita pada siang hari dan membuat petugas pemadam kebakaran di Amerika Serikat bersiaga 'perang' seolah menghadapi kiamat.

Sepertinya, ketika corona merebak, perkumpulan gunung aktif pun ingin mencuri perhatian. Awalnya Gunung Merapi, kemudian Anak Gunung Krakatau yang membuat warganet heboh karena dentumannya konon terdengar sampai Jabodetabek, mungkin juga nanti Gunung Agung di Bali atau Gunung Sinabung di Tanah Karo.

Paling tidak mereka ingin mengalihkan perhatian sementara masyarakat yang tindakan dan pikirannya tiap hari direcoki oleh urusan corona, sang jasad renik yang sampai saat ini belum ada penawarnya. Sampai-sampai tagar #dentuman dan #krakatau menjadi trending topic di Twitter. Kendati soal dentuman itu disangkal berasal dari Anak Krakatau oleh Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi.

Atau juga mungkin mereka ingin mengingatkan masyarakat dan elite agar waspada karena bencana itu bukan hanya corona tetapi juga sewaktu-waktu alam pun bisa meledak.

Ilmuwan sudah mengingatkan, bangsa Indonesia hidup dalam cincin api. Memang indah, subur tapi sekaligus menyimpan ancaman.

Dalam buku Ring of Fire: Indonesia dalam Lingkaran Api karya penulis dan produser film dokumenter asal Inggris, Lawrence Blair dan saudaranya Lorne Blair, Indonesia seolah hidup dalam dua sisi mata uang, bencana dan keberkahan.

"Gunung meletus itu jangan dianggap hanya bencana tetapi itu juga berkah yang tak ternilai bagi negeri ini. Kita hanya diminta bersabar karena akibat Gunung Sinabung meletus jeruk medan jadi subur dan para penambang di kaki Gunung Merapi tak pernah kehabisan pasir," kata Mbah Rono sebutan untuk Surono, mantan Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), suatu waktu.

Mungkin satu hari ini kita sejenak melupakan corona.


0 Komentar