Label Musik Ini Bakal Prediksi Artis yang Akan Populer Pakai Jasa Robot
Ilustrasi aplikasi musik. (Foto: Cnet)

JAKARTA, HALUAN.CO - Industri belakangan sedang gencar menggunakan teknologi robot atau artificial intelligence (AI) dalam pengembangannya untuk memudahkan. Tak terkecuali dalam bidang industri hiburan.

Beberapa artis, seperti Björk dan Arca sudah menggunakan teknologi ini untuk membuat aransemen musik baru.

Kali ini, sebuah label musik baru, bernama Snafu Records memiliki ide lain untuk menggunakan AI. Mereka berencana akan menggunakan teknologi ini untuk dapat memprediksi artis mana yang akan bersinar di masa depan.

Snafu mengaku, setiap minggu pihaknya menggunakan algoritma untuk mengikis sekitar 150.000 trek di tempat-tempat seperti Spotify, YouTube, SoundCloud dan Tiktok. Mereka juga mempertimbangkan posting blog, tweet, dan penambahan daftar putar.

Snafu mengklaim, peranti lunaknya dapat mengidentifikasi artis "undervalued" dalam beberapa hari setelah mereka merilis lagu pertama mereka.

Biasanya para ahli baru dapat mendapatkan perkiraan dalam rata-rata empat hingga enam minggu. Snafu mengklaim bahwa AI ini dapat digunakan untuk mempersempit analis mingguan menjadi 15 hingga 20 artis.

CEO Snafu, Ankit Desai mengatakan bahwa label "sweet spot" adalah lagu-lagu yang 70 hingga 75% mirip dengan lagu-lagu di daftar 200 teratas Spotify.

Dengan kata lain, mereka mencari artis yang menciptakan musik yang mirip dengan apa yang sudah populer tetapi cukup berbeda sehingga terdengar segar, seperti diberitakan Engadget, yang dilansir Tek.id, 11 Februari 2020.

Meski demikian, dikarenakan merupakan label baru dan AI mereka masih merupakan teknologi baru, masih tidak ada banyak data untuk menilai seberapa sukses pendekatan ini. Dari 16 artis dalam daftar Snafu, hanya satu artis populer yang terjaring, yakni MishCatt.

Corona Lagi! Sony dan Amazon Batal Pamer di Ajang MWC 2020

Disisi lain, beberapa label lain juga sudah menggunakan pendekatan melalui analitik untuk mengoperasikan bisnis mereka. Alat-alat seperti Chartmetric memungkinkan sebuah perusahaan untuk melihat banyak titik data yang sama, seperti apa yang Snafu lakukan.

Jadi apa yang dilakukan Snafu belum tentu merupakan pendekatan baru. Namun mereka menggunakan metode lama dengan menambahkan kemampuan yang sebelumnya belum diimplementasikan secara luas.

Penulis: Sutrisno Z