Laboratorium Wuhan Disebut Terlibat dalam Teori Konspirasi COVID-19, Apa Benar?

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Ilustrasi Laboratorium milik Institut Virologi Wuhan. (Foto: South China Morning Post)

-

AA

+

Laboratorium Wuhan Disebut Terlibat dalam Teori Konspirasi COVID-19, Apa Benar?

International | Jakarta

Rabu, 22 April 2020 13:45 WIB


JAKARTA, HALUAN.CO - Laboratorium Institut Virologi Wuhan, China, yang menerapkan keamanan super ketat di kawasan perbukitan, saat ini menjadi sorotan dunia. Dari laboratorium inilah, diduga berasal virus korona baru (Covid-19) yang kini telah menyebar ke seluruh dunia.

Para ilmuwan China sebelumya menyatakan COVID-19 kemungkinan berpindah dari hewan ke manusia di pasar yang menjual satwa liar di Wuhan, wilayah pertama kali kasus virus ditemukan. Akan tetapi, keberadaan laboratorium di pinggiran kota tersebut memicu teori konspirasi bahwa virus mematikan ini menyebar dari fasilitas tersebut

Mengapa ini penting:

• Keyakinan teori konspirasi ini diperkuat perang klaim antara pejabat Amerika Serikat (AS) dengan China terkait penyebaran COVID-19.

• Otoritas China mengklaim bahwa Corona disebarkan oleh AS lewat militer yang dikirimkan untuk mengikuti olimpade olahraga di negeri tirai bambu itu.

• Pejabat AS menuding, penyebaran dilakukan oleh China. Otoritas AS bahkan berniat melakukan investigasi terkait teori konspirasi kebocoran laboratorium.

Konteks:

• Data real time virus corona Worldometers melaporkan, dari 210 negara yang terpapar, jumlah pasien yang sembuh ada 688.639, jumlah korban jiwa hingga Rabu (22/4/2020) mencapai 177.293.

• Ada 10 negara yang memiliki jumlah kasus terbanyak yaitu AS (817.187), Spanyol (204.178), Italia (183.957), Perancis (158.050), Jerman (148.291), Inggris (129.044), Turki (95.591), Iran (84.802), China (82.758) dan Rusia (52.763).

Worldometers mencatat, Argentina tidak mengalami penambahan kasus hingga Rabu (22/4/2020) pagi. Kemudian, Afrika Selatan, Kazakhstan, Bahrain, Islandia, Slovenia, Afganistan, Ghana, dan Hong Kong, serta beberapa negara lain juga melaporkan tidak adanya kematian baru akibat COVID-19.

Penyebab munculnya teori konspirasi:

• Banyak dugaan bahwa beredarnya Corona jenis baru dibuat dengan sengaja disebarkan oleh laboratorium Wuhan. Ada pula teori yang menyebut bahwa Virus Corona "lolos", entah bagaimana, dari lab tersebut.

• Penyebaran teori konspirasi semakin kuat saat dua peneliti China menerbitkan laporan pada bulan Februari yang berteori bahwa virus itu bisa bocor dari laboratorium di Wuhan.

• Kedua ilmuwan, yang diidentifikasi sebagai Xiao Botao dari Universitas Teknologi China Selatan, dan Lei Xiao dari Universitas Sains dan Teknologi Wuhan, kemudian menarik tulisan mereka lantaran tidak disertai bukti yang mendukung klaim tersebut.

• Antoine Danchin, seorang ahli genetika di Institut Cochin di Paris, mengatakan tidak dapat disangkal bahwa virus Corona baru telah bocor dari laboratorium Wuhan, tetapi virus itu kemungkinan merupakan mosaik tanpa asal tunggal.

Bantahan teori konspirasi:

• Institut Wuhan adalah laboratorium pertama China dengan status BSL-4, yang merupakan tingkat internasional tertinggi untuk keselamatan penelitian bioresearch.

• Laboratorium ini dirancang untuk bekerja dengan kelas patogen yang mematikan dan mudah ditularkan yang dikenal sebagai P4.

• Meski disebut bahwa lab ini khusus patogen berbahaya, belum ada bukti yang menghubungkan lembaga ini dengan kemunculan COVID-19.

• Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan, tidak ada bukti faktual yang menghubungkan COVID-19 dengan pekerjaan laboratorium P4 di Wuhan.

• Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, bukti kuat sejauh ini menunjukkan bahwa virus berasal dari hewan.

• Yuan Zhiming, wakil direktur institut, mengaku bisa memahami mengapa banyak tudingan yang menghubungkan laboratorium dengan penyebaran virus. Namun, itu semua hanya didasarkan pada spekulasi.

• Kata Yuan Zhiming, tidak mungkin virus ini datang dari lab. Karena, para peneliti memiliki peraturan ketat, kode etik untuk penelitian.

• Filippa Lentzos, seorang peneliti biosekuriti di King's College London, mengatakan, sangat sedikit bukti yang mendukung teori kecelakaan laboratorium.

WNI Terpapar Corona di Luar Negeri Terus Membengkak

Mengapa ada teori konspirasi virus:

• WHO mengatakan pada tahun 2004, setidaknya dua pelanggaran keamanan di laboratorium Institut Virologi Beijing yang kemungkinan jadi penyebab wabah SARS.

• Pei-yong Shi, ahli virologi dari University of Texas yang juga di komite penasihat ilmiah institut Wuhan mengatakan, tidak tahu secara spesifik penelitian Virus Corona di laboratorium.

• Penelitian tentang virus memang bisa menjadi pedang bermata dua karena sering melibatkan Teori Konspirasi.

"Anda dapat memanipulasi virus untuk membuat vaksin, mengeluarkan unsur-unsur penyebab penyakit dari virus, tetapi manipulasi ini dapat memicu teori tentang kebocoran yang tidak disengaja atau virus rekayasa. Teori Konspirasi adalah sesuatu yang harus kita tangani," kata Pei-yong Shi dilansir dari South China Morning Post, Rabu (22/4/2020).


0 Komentar