Ligaku Mencla-mencle
Liga 1 yaang kerap molor dari jadwal (Ilustrasi: Selasar)

Mundurnya jadwal kompetisi tiap musimnya berimbas pada manajemen klub dan timnas. Nasib mereka yang juga berlaga dalam agenda FIFA maupun AFC menjadi berantakan.

PEMBAHASAN kali ini dilatarbelakangi oleh (lagi-lagi) mundurnya jadwal kick-off Liga 1. Untuk kesekiankalinya, perhelatan akbar si kulit bundar harus tertunda tanpa ada pertanggungjawaban yang jelas.

Pada 2017 menjadi musim pertama kenahasan penundaan tersebut. Sekira empat bulan pasca kompetisi berakhir, pihak federasi masih sekadar mewacanakan jadwal perdana. Alhasil, kick-off berlangsung satu bulan setelahnya.

Bukan waktu yang singkat bagi para pecinta bola untuk menahan hasrat menikmati laga si kulit bundar. Tidak hanya barisan suporter, masyarakat yang mengais rezeki dari pertandingan 2×45 menit ini juga harus banyak menyesuaikan.

Pasalnya, PT LIB (Liga Indonesia Baru) terkesan inkonsisten dalam menyusun jadwal kick-off liga. PT LIB merupakan badan yang menaungi Liga 1, 2, dan 3. Setelah sempat dibekukan oleh FIFA dan Kemenpora, PSSI melalui PT LIB hadir sebagai pembaharuan atas badan sebelumnya (baca: PT Liga Indonesia).

Rentetan peristiwa tersebut bukan menjadi alasan untuk PT LIB tidak konsisten dengan tanggungjawab atas pelaksanaan kompetisi profesional. Pembaharuan yang terjadi diharapkan dapat menjawab kompleksitas tantangan yang ada. Bukan sekadar menjadi badan dengan cap “reformis” saja.

Pada Liga 1 tahun 2019, PT LIB menegaskan penundaan jadwal kick-off merupakan permintaan dari sponsor. Belum ada alasan yang jelas terhadap pengambilan keputusan tersebut. Akan tetapi, jikalau hanya sekadar profit oriented yang diperhatikan, tidak bijak kiranya keputusan badan liga tersebut.

Mundurnya jadwal kompetisi tiap musimnya berimbas pada manajemen klub dan timnas. Nasib mereka yang juga berlaga dalam agenda FIFA maupun AFC menjadi berantakan. Ujungnya, prestasi klub dan timnas di kancah internasional tidak bisa optimal.

Menariknya, agenda FIFA dan AFC sudah ditentukan sedari awal atau beberapa waktu sebelum kompetisi di mulai. Seolah tanpa memperhatikan jadwal yang telah disepakati, kompetisi nasional seolah acuh bahkan bernegasi.

Umumnya, 1 klub menjalani 1 kali laga dalam waktu sepekan. Praktiknya, klub menjalani laga bak otot-kawat tulang-besi, yakni 2 kali laga bahkan lebih dalam sepekan. Uniknya, laga dalam sepekan hanyalah berasal dari satu kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia (Liga 1).

Beberapa fakta di atas memperlihatkan ketidakprofesionalan PT LIB sebagai penyelenggara pertandingan. Disiplin dan memperhatikan agenda FIFA atau AFC menjadi pertimbangan penting dalam penyusunan jadwal kompetisi.

Harapan penulis sesederhana: jangan sampai jadwal yang tidak proporsi akan berdampak negatif pada prestasi sepakbola Indonesia.

Setelah berkelana dengan ketidakpastian jadwal Liga 1, bagaimana yang terjadi dengan kompetisi kasta di bawahnya? Perlu diketahui bahwa kompetisi 2020 akan segera dimulai. Jadwal kick-off telah diwacanakan dan akan digelar pada 1 Maret 2020.

Apakah akan mundur lagi? Atau mundur alon-alon? Kita nantikan saja dan sampai bertemu dalam pembahasan lainnya.


Penulis: Selasar Network