Lokalitas Lockdown Yogyakarta: Menutup Jalan, (Mari) Membuka Kesadaran

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Lockdown dilakukan untuk mengurangi reproduksi virus sehingga tidak menjangkiti satu orang. (Ilustrasi: Haluan.co)

-

AA

+

Lokalitas Lockdown Yogyakarta: Menutup Jalan, (Mari) Membuka Kesadaran

Opini | Jakarta

Kamis, 09 April 2020 20:26 WIB


Dalam konteks lokalitas lockdown ini, tiga hal yang tidak dapat dihilangkan atau dihindari: serawung (berkumpul), ngopi, dan nyebat (merokok).

Kengerian yang mencekam melanda segenap malam, kala makhluk itu datang menyerang dan mematikan, dia tak terlihat mata tak bisa diraba, namun sangat mengerikan seluruh manusia, hampir di segenap negeri mereka menutup diri....

Mata dunia terbuka betapa lemah manusia, alaupun sudah digdaya ternyata rapuh adanya....

-- Roma Irama, Virus Corona


SEMENJAK COVID-19 menjadi pandemi global yang meluluhlantakkan berbagai sendi kehidupan masyarakat berbagai negara, lockdown pertama kali dilakukan Pemerintah China ketika terjadi lonjakan signifikan kasus positif COVID-19 di Wuhan sejak 23 Januari 2020. China membatasi akses transportasi; menutup mall, pusat berbelanjaan, dan fasilitas publik; serta larangan interaksi secara massal.

Hasilnya? Penyebaran kasus melambat dan dikonfirmasi bahwa tidak ada lagi kasus infeksi baru. Upaya ini pun lantas diikuti berbagai negara, seperti Inggris, Amerika Serikat, India, dan Italia yang melakukan lockdown nasional. Tapi, saya tidak akan membahas itu terlalu dalam. Cukup hanya sebagai perbandingan dan for your information saja. Dulu pemberitaan kita seakan melirik China, negeri yang waktu itu bak model tampil di atas catwalk dan menjadi sorotan dunia internasional.

Kini, jangankan untuk membahas persoalan COVID-19 di lintas negara dan benua, kita mulai parno, panik, dan takut dengan kasus virus ini yang begitu signifikan di negeri kita sendiri. Hampir tiap pagi saya selalu membuka Line. Bukan untuk membaca chat group, tapi melihat jumlah kasus orang yang positif Corona.

Per 4 April 2020 ini, kasus terkonfirmasi sudah sebanyak 2092 kasus dan orang yang meninggal karenanya sebanyak 191 orang. Pemerintah Pusat—dalam hal ini Presiden—mengimbau masyarakat untuk bekerja, belajar, dan beribadah di rumah. Bahasa kelas atasnya: Work from Home.

Tuntutan dan desakan untuk lockdown nasional sebagai upaya menanggulangi COVID-19 datang dari berbagai politisi, kelompok masyarakat, dan akademisi. Tentu saja, ini adalah buah simalakama bagi pemerintah saat ini. Antara menyelamatkan nyawa manusia alias rakyat atau nyawa negara yaitu ekonomi. Saya pun juga tidak bisa menafikan bagaimana seandainya opsi lockdown diputuskan.

Mall perbelanjaan akan senyap, jalanan lengang tanpa asap, dan fasilitas publik yang riuh berganti sunyi. Saya pun merasa demikian, dua minggu sejak kasus COVID-19 meningkat, mencari warung makan di Yogyakarta saja mulai susah. Bahkan aa’ burjo langgangan saya mengeluh, “baru dua orang yang beli”.

Namun, saat Pemerintah Pusat belum memutuskan untuk menerapkan lockdown, masyarakat lokal di Yogyakarta telah memulainya lebih dulu. Lingkungan RT/RW/ Desa atau kampung di beberapa wilayah telah masif menutup ruas jalan kampung mereka. Metodenya pun bermacam-macam. Ada yang menggunakan besi portal, bambu, kursi kayu, anak tangga, roda, pot tanaman, dan lain sebagainya. Di pembatas jalan masuk tersebut juga dituliskan hal-hal yang sarkastik soal imbauan agar stay at home dan social distancing dengan piloks berwarna merah, seperti:

“boleh keluar asal di dalam”

lek kangen iso video call ga isa mlebu”

anti Corona

ora isa mlebu, iki urusane nyawa

LDR-an wae sek ya, ga usah ketemuan #stay at home

Fenomena lockdown ini tentu tidak didasari izin legal pemerintah, tetapi dibangun atas kesadaran kolektif warga. Barangkali ini adalah sebuah ‘semangat otonomi desa’. Saya mencoba membangun dua asumsi dalam lokalitas lockdown Yogyakarta ini. Pertama, ini adalah bentuk semangat masyarakat dalam membangun resistensi atau ketahanan masyarakat ketika terjadi wabah penyakit. Masyarakat telah memiliki kesadaran dan upaya komunal untuk menjaga diri dan masyarakat kampung mereka.

View this post on Instagram

Proses social distancing memang diperlukan sebagai langkah preventif dalam mengurangi dampak pandemi penyakit atau virus menular. Hal ini bisa dilakukan dengan mengurangi kontak dengan kerumunan manusia dan juga kontak dengan orang lain yang berasal dari wilayah lain dengan dampak infeksi signifikan. . Selain isolasi diri, social distancing dianggap mampu secara efektif menahan laju berkembangnya penularan virus dari satu tempat ke tempat lain. Sebab, tak sedikit orang yang tak tahu bahwa dirinya membawa virus atau tidak. . Namun, dalam praktik manusia, hal ini masih susah didapat atau dilakukan. Salah satu penghambatnya adalah kebijakan. Hal ini menjadi penting karena kebijakan yang kurang tepat dapat menyebabkan proses social distancing menjadi kacau. . Berita selengkapnya di haluandotco/klik link di bio . Follow @haluandotco | @haluantv | @totalpolitikcom | @teknologi_id | @row.id | @neuronchannel | @hipotesamedia . . #haluanmediagroup #beritadunia #pojok #haluandotco #haluan #infoupdate #viral #lagiviral #trendingtopic #trending #infotrending #pojokhaluan #dirumahaja #haluanupdatecorona #janganpanikhadapicorona #bersatucekalcorona

A post shared by Haluan Media (@haluandotco) on

Saat negara belum memutuskan berlaku atau tidaknya lockdown, masyarakat ‘desa’, meskipun dapat kita uraikan sebagai lingkungan RT/RW, desa, kampung, perumahan, telah memiliki kebijakannya sendiri untuk melakukan lockdown lokal. Masyarakat memiliki usaha sendiri untuk membangun ketahanan itu sebagai wujud keotonomiannya.

Kedua, saya cukup meyakini bahwa tidak semua masyarakat memahami esensi lockdown. Esensi yang saya maksud disini bukan berarti saya merendahkan motif masyarakat terkait pemberlakuan lockdown lokal. Saya bermaksud bahwa fenomena lockdown lokal ini tidak didasari kajian-kajian akademik. Misalnya, menurut Imperial Collage London, lockdown bertujuan untuk R˂1.

Artinya, lockdown dilakukan untuk mengurangi reproduksi virus sehingga tidak menjangkiti satu orang. Masyarakat hanya memakai istilah lockdown untuk membatasi akses keluar masuk warganya dan warga luar yang akan masuk ke kampung. Dengan demikian, membatasi pergerakan orang diyakini akan memutus persebaran kasus COVID-19 secara efektif.

Dari kedua asumsi yang saya bangun, keduanya mempertemukan pada yang dimaksud representasi simbolik. Dosen sastra saya menyebut itu dunia yang penuh tanda. Lockdown lokal tersebut saya kira juga bukan sebuah pembangkangan masyarakat kelas rumput pada pemerintah. Sebab, bagaimana pun keputusan lockdown atau tidak berada pada tangan pemerintah pusat.

Masyarakat hanya sekadar meminjam istilah lockdown yang riuh diberitakan media sosial dan media massa. Lokalitas lockdown ini hanyalah tanda yang memperingatkan masyarakat agar dapat membatasi diri, pengawasan terhadap keluar masuk orang, yang pada akhirnya dapat mengurangi rantai persebaran kasus virus COVID-19 ini. Hal ini lumrah, mengingat Yogyakarta termasuk zona merah.

Namun demikian, mangan ra mangan penting kumpul. Begitu lah semboyan masyarakat desa membuktikan jika mereka adalah kelompok komunal. Tapi hal ini justru membuat jiwa nyinyir saya meronta-ronta. Ibaratnya saya harus memutari kompleks perumahan (kost) dulu sebelum keluar untuk membeli makan atau keperluan lain, sebab ruas jalan yang lebih dekat sudah di-lockdown. Tapi, ada yang lebih membuat saya nyinyir saat bersepeda motor.

Bagaimana tidak, lokalitas lockdown ini di beberapa tempat hanya lah ajang tutup jalan dan pamer spanduk bertuliskan slogan-slogan buatan yang mungkin dipikirkan setengah jam sebelum kain putih disemprot piloks warna merah. Dalam konteks lokalitas lockdown ini, tiga hal yang tidak dapat dihilangkan atau dihindari: serawung (berkumpul), ngopi, dan nyebat (merokok).

Kalau ketiganya sudah dilakukan, maka yang terjadi adalah serawung sinambung, yaitu berkumpul alias nongkrong untuk merekatkan persaudaraan, katanya. Oh ya, termasuk kawanan ibu-ibu yang pastinya menjadi rutinitas kehidupan, yaitu Focus Group Discussion atau ghibah.

Lockdown yang ramai dilakukan masyarakat Yogyakarta, seperti di Pogung, Demangan, Condongcatur, Caturtunggal, Klebengan, Klitren, Piyungan, dan beberapa wilayah lain, tak ubahnya hanya sebatas ‘tindak tutup jalan’.

Ini seperti momen orang punya hajatan, entah nikah atau khitan, yang harus menutup jalan tapi di dalam lingkungannya masih terjadi kerumuman yang melibatkan perkumpulan orang secara massal. Ini seperti ibarat kita menutup rumah supaya singa tidak masuk, tapi kita tidak sadar jika ada macan yang bersembunyi di dalam rumah itu.

Kekhawatiran bahwa ‘singa’ atau orang luar bisa membawa penularan virus rupanya telah menutup pemikiran dan kesadaran masyarakat bahwa ‘macan’ atau orang dalam kampung itu juga bisa menjadi carrier atau sumber penyebaran virus. Memang tidak semua kampung melakukan tindakan ‘konyol’ seperti ini. Ada pula kampung yang sudah menerapkan protokoler kesehatan, seperti pendataan penduduk masuk, penyemprotan disinfektan, dan pojok pencucian tangan di beberapa titik kampung.

Pada akhirnya, saya menyadari bahwa fenomena lokalitas lockdown ini merupakan upaya masyarakat untuk sigap dan gegap dalam mengatasi COVID-19 yang seakan menjadi huru hara di negeri kita. Tindakan lockdown lokal seharusnya tidak hanya disikapi sebagai tindakan menutup jalan, tetapi juga momentum menggugah kesadaran. Upaya preventif, seperti membatasi kerumunan sosial, cuci tangan, menjaga kesehatan, dan sejenisnya, perlu terus diberlakukan sebagai cermin kesadaran kita seiring dengan upaya lockdown tersebut.

Kalau lockdown hanya dipahami sebagai menutup jalan kampung dan di dalamnya masyarakat sibuk berkerumun, saya kira itu adalah tindakan naif yang seakan menyempitkan ruang kehidupan kita. Kalau mau berkerumun atau serawung, ya, sebaiknya buka saja portal jalan supaya tidak sia-sia. Saya sebagai anak kost merasa ini justru menjadi penyempitan ruang meskipun kehidupan saya juga sudah sesempit kamar kost. Artinya, kita boleh saja menutup jalan, tapi mari kita juga membuka kesadaran.

Dan, jangan lupa. Mari kita mencabik langit dengan doa agar Tuhan segera meringkus makhluk kecil yang telah menggegerkan jagat semesta.


0 Komentar