Lokasi Ibu Kota Negara Baru di Kalimantan Timur Berisiko Tsunami

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Peta pulau Kalimantan dan Sulawesi. (Ist)

-

AA

+

Lokasi Ibu Kota Negara Baru di Kalimantan Timur Berisiko Tsunami

Teknologi | Jakarta

Kamis, 23 April 2020 10:48 WIB


JAKARTA, HALUAN.CO - Sekelompok peneliti dari Inggris dan Indonesia menyebutkan bahwa lokasi pemindahan ibu kota negara Indonesia di Kalimantan Timur berisiko tsunami.

Para peneliti tersebut menemukan bahwa tanah longsor bawah laut pernah beberapa kali terjadi di Selat Makassar, antara pulau Kalimantan dan Sulawesi.

Konteks: Pemerintah di bawah pimpinan Presiden Jokowi telah memutuskan untuk memindahkan ibu kota negara ke Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Bahkan pembangunan ibu kota negara baru itu dimulai tahun ini dan dalam APBN 2020 sudah dianggarkan Rp2 triliun untuk itu.

Apa katanya: "Masih banyak pekerjaan yang harus kami lakukan untuk menilai situasi ini dengan tepat. Namun demikian, ini adalah sesuatu yang mungkin harus dipertimbangkan sebagai risiko oleh pemerintah Indonesia, meskipun kita hanya membicarakan peristiwa frekuensi rendah, dampak tinggi'," kata Dr. Uisdean Nicholson dari Heriot-Watt University, Inggris seperti dikutip BBC Indonesia, Kamis (23/4/2020).

Jika kejadian tanah longsor yang paling besar terulang hari ini, tsunami akan muncul yang bisa membanjiri Teluk Balikpapan — daerah yang dekat dengan calon ibu kota.

Namun tim peneliti yang terdiri dari ilmuwan Inggris dan Indonesia mengatakan tidak perlu bereaksi berlebihan.

Hasil penelitian:

• Tim penelitian menggunakan data seismik untuk menyelidiki sedimen dan strukturnya di dasar laut Makassar.

• Survei tersebut mengungkap 19 zona di sepanjang selat tempat lumpur, pasir, dan lanau jatuh ke lereng yang lebih dalam.

• Beberapa peristiwa longsor ini melibatkan material sebanyak ratusan kilometer kubik dengan volume yang sangat mampu mengganggu kolom air, dan menghasilkan gelombang besar di permukaan laut.

• Semua Mass-Transport Deposits (MTD) atau longsor berada di sisi barat kanal dalam (3000m) yang melintasi Selat Makassar. Dan mereka juga sebagian besar berada di sebelah selatan delta Sungai Mahakam di Pulau Kalimantan, yang mengeluarkan sekitar 8 juta meter kubik sedimen setiap tahun.

• Tim peneliti menduga material ini terbawa oleh arus di selat dan kemudian tertimbun di perbatasan dasar laut yang lebih dangkal dengan dasar laut yang lebih dalam.

• Sedimen yang menumpuk dari waktu ke waktu akhirnya roboh, barangkali dipicu oleh guncangan gempa bumi setempat hal yang lazim di Indonesia.

"Tanah longsor tersebut berbentuk lengkungan dan sedimen di dalamnya kaotis; bukan lapisan datar, teratur, dan rata yang Anda harapkan. Saya memetakan 19 peristiwa, tetapi itu dibatasi oleh resolusi data. Akan ada kejadian lainnya, yang terlalu kecil untuk saya lihat," ujar Dr. Rachel Brackenridge, dari Universitas Aberdeen kepada BBC News.

Pendapat ahli yang lain:

Ben Sapiie, dari Institut Teknologi Bandung (ITB), mengatakan, penelitian ini memperkaya pengetahuan komunitas geologi dan geofisika Indonesia akan bahaya sedimentasi dan tanah longsor di Selat Makassar.

Masa depan penelitian ilmu bumi adalah menggunakan pendekatan terintegrasi dan multi-disiplin dengan kolaborasi internasional.

Profesor Dan Parsons adalah direktur Institut Energi dan Lingkungan di Universitas Hull, Inggris mengungkapkan bahwa yang menarik di sini ialah bagaimana sedimen ini sedang tertimbun kembali dan menumpuk dari waktu ke waktu di Selat Makassar oleh arus laut.

Riau Terancam Karhutla di Tengah Ancaman Virus Corona

Sedimen ini menumpuk dan kemudian roboh ketika menjadi tidak stabil. Kuncinya kemudian ialah mengidentifikasi titik kritis, atau pemicu, yang menyebabkan longsor.

"Kami melakukan penelitian serupa pada fjord, mengeksplorasi beberapa pemicu dan magnitudo dan frekuensi longsor yang bisa terjadi. Peristiwa longsor terbesar dan tsunami terbesar kemungkinan bakal terjadi ketika laju pengiriman sedimen sangat tinggi tapi pemicunya jarang terjadi, sehingga ketika terjadi longsor volumenya sangat besar," katanya.

Bagaimana selanjutnya:

• Hal yang belum diketahui tim peneliti saat ini ialah kapan tepatnya longsor bawah laut ini terjadi. Estimasi terbaik para peneliti adalah dalam periode geologi saat ini yaitu dalam 2,6 juta tahun terakhir.

• Sampel batuan yang diekstraksi dari MTD bisa lebih memastikan usia mereka dan frekuensi kerobohan lereng — dan para ilmuwan sedang mencari pendanaan untuk melakukan ini.

• Tim juga berencana mengunjungi daerah pesisir Kalimantan untuk mencari bukti fisik dari tsunami purba ini dan membuat pemodelan jenis gelombang yang bisa mengenai garis pantai.


0 Komentar