Ludruk dan Memudarnya Seni Kolektif di Jawa Timur

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Ludruk sebagai pementasan kolektif sudah mulai pudar.

-

AA

+

Ludruk dan Memudarnya Seni Kolektif di Jawa Timur

Overview | Jakarta

Sabtu, 28 Desember 2019 17:05 WIB


Gedung Cak Durasim di Taman Budaya Jawa Timur adalah salah satu tempat di mana beberapa kesenian tradisional dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur unjuk gigi. Meski tak sesering Solo dan Yogyakarta, tapi setidaknya masih ditemukan geliat seni kolektif di tempat ini. Namun, masihkah kita mengenal siapa itu Cak Durasim? Dan kesenian apa yang dipopulerkannya di Jawa Timur?

MUNGKIN saat ini kita masih kerap menjumpai gedung-gedung kesenian di berbagai kota di Indonesia, namun tak semua gedung kesenian itu kerap menampilkan kesenian tradisional, bahkan tak selalu ada pertunjukan di sana.

Namun, beberapa kota yang memang memiliki basis kultur tradisi seperti Yogyakarta dan Surakarta tentu sepinya pertunjukan justru jadi hal tabu. Di Surakarta sendiri hampir setiap hari dapat dijumpai pergelaran seni kolektif tradisi yaitu Wayang Wong di Gedung Kesenian Sriwedari. Tidak hanya, itu di tempat lain di kota ini juga kerap ditemui pertunjukan seni seperti keroncong di Panggung Gesang atau di Balai Soedjatmoko.

Bahkan Kota Surakarta memiliki dua major event seperti Solo International Performance Art dan Solo International Gamelan Festival. Yogyakarta sendiri, tidak usah kita sangsikan, pameran dan pertunjukan seni tersebar hampir di setiap sudutnya, bahkan pernah suatu kali muncul kiasan yang berbunyi “Jogja UMR rendah, tapi wani party”.

Tapi tentu, perkembangan seni di dua kota itu didukung adanya institut seni yang memang bercokol di sana. Lantas, bagaimana kota-kota di Jawa Timur? Atau secara parsial, bagaimana perkembangan seni kolektif di kota Surabaya sendiri?

Gedung Cak Durasim di Taman Budaya Jawa Timur adalah salah satu tempat di mana beberapa kesenian tradisional dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur unjuk gigi. Meski tak sesering Solo dan Yogyakarta, tapi setidaknya masih ditemukan geliat seni kolektif di tempat ini. Namun, masihkah kita mengenal siapa itu Cak Durasim? Dan kesenian apa yang dipopulerkannya di Jawa Timur?

Cak Gondo Durasim lahir di Jombang, meski kemudian menancapkan tonggak seni pertunjukan, khususnya pada seni teater di Surabaya. Cak Durasim memopulerkan ludruk bersamaan dengan tari remo saat masa penjajahan Belanda hingga pendudukan Jepang.

Tercatat, Dr. Soetomo pendiri Boedi Oetomo adalah salah satu rekanan Cak Durasim. Relasi ini yang kemudian mengantarkan Cak Durasim menjadi seniman cum pejuang. Beberapa sumber bahkan menyebut bahwa Cak Durasim pernah dipenjara oleh Jepang karena membuat Jula-juli (pantun yang ditembangkan) yang menyindir pendudukan Jepang pada masa itu.

Istilah Ludruk sendiri muncul dari berbagai istilah, baik istilah Jawa Ngoko dan Belanda. Fuji Rahayu dalam tulisannya “Perkembangan Seni Pertunjukan Ludruk di Surabaya Tahun 1980-1995 (Tinjauan Historis Grup Kartolo Cs)” mengatakan bahwa istilah Ludruk berasal dari dua kata Jawa Ngoko, yaitu “Molo-molo” yang berarti mulutnya penuh dengan sesuatu dan hendak bicara, dan “gedrak-gedruk” berarti kaki-kaki yang menghentak.

Kata Ludruk sendiri diasosiasikan dengan badut dalam Jawa Ngoko. Sedangkan, menurut buku Soerabaia Tempo Doeloe disebutkan bahwa Ludruk berasal dari frasa bahasa Belanda yang berbunyi Leuk en Druk, yang arti kasarnya bisa jadi being nice and busy alias penakno ae lek onok tontonan apik.

Jika dirunut dari era Cak Durasim membentuk paguyuban Ludruk di Surabaya, maka bisa dikatakan kesenian kolektif yang melibatkan banyak orang ini tumbuh sejak sebelum kemerdekaan Indonesia. Ludruk sendiri pada umumnya berisi perpaduan seni suara, peran, dan tari. Secara pakem, Ludruk menampilkan kidungan atau kemudian populer dengan sebutan “jula-juli” dan juga tari Remo, atau Ngremo.

Namun, kedua hal itu tidak bisa dilepaskan dari lakon-lakon yang diambil dalam pementasan Ludruk itu sendiri. Lakon ini bisa bercerita tentang kisah tradisi suatu daerah, cerita rakyat atau kisah perjuangan, dan tentu disisipi dagelan sebagai pencair suasana.

Ludruk secara umum dapat berkembang di kawasan yang menggunakan bahasa Arekan. Kawasan berplat motor S, L, W, dan N adalah tempat di mana kesenian ini berkembang. Sebagai seni kolektif, tentu Ludruk melibatkan banyak orang dengan berbagai keahlian.

Di bagian aktor pun dipastikan ada satu atau dua aktor yang bisa berperan lintas gender. Di bagian produksi tentu ada orang-orang yang lihai dalam tata panggung dan seni rupa, hal ini terkait dengan gambaran latar panggung dan hal pendukung lainnya.

Tidak hanya itu, di belakang panggung sendiri masih ada ahli tata rias yang tidak hanya mendandani aktor dalam rupa adanya, namun juga merias aktor lintas gender, dan tentu itu tidak mudah. Dan untuk musik latar didukung oleh para pemain gamelan dengan gagrak Jawa Timuran. Secara pakem, keberadaan penari Remo, aktor lintas gender (laki-laki memerankan perempuan), kidungan atau jula-juli, tarian bedhaya, dan dagelan merupakan substansi pakem dari Ludruk di Jawa Timur.

Kompleksitas keterlibatan orang dalam pertunjukan Ludruk inilah yang menyebabkan keprihatinan jika kesenian kolektif ini pudar. Tentu, sebagai seni kolektif, setiap pergelaran Ludruk membutuhkan banyak orang dengan bidang keahlian berbeda, dan untuk melestarikan hal ini tentu butuh waktu yang tidak singkat.

Berbeda dengan wayang kulit yang dalam proses produksinya hanya melibatkan kolektivitas dalang dan kelompok karawitan beserta pesindennya, beberapa kelompok Ludruk tidak terikat peran pakem seperti peran dalang. Jadi, ketika menanggap Ludruk maka anda menanggap seluruh anggota kelompok, sedangkan untuk wayang kulit, Anda menanggap dalang sebagai seniman utama, dan dalang yang kemudian memiliki koneksi dengan kelompok gamelannya sebagai pengiring.

Ludruk sendiri merupakan memori masa kecil yang kini jarang dijumpai dalam bentuk full-team. Mungkin hanya Cak Kartolo dan beberapa rekannya yang kini lebih sering ditanggap dalam konsep satuan, bukan kelompok. Sedangkan di pelosok-pelosok desa masih banyak kelompok Ludruk yang bertahan.

Terakhir saya menonton pementasan Ludruk adalah di Desa Dawarblandong, Mojokerto, dengan metode yang sangat lawas yaitu menonton dengan membayar tiket masuk pertunjukan sebesar sepuluh ribu rupiah, meski pertunjukkan ini sendiri diadakan di tanah lapang, bukan gedung.

Namun, pementasan ludruk yang saya tonton terakhir itu sudah tidak terikat dengan adanya pemain gamelan sebagai pengiring musik, atau setidaknya tidak dengan instrumen gamelan yang lengkap.

Dalam ingatan saya, pertunjukan Ludruk di Dawarblandong itu sangat sederhana, baik dalam tata panggung maupun tata rias. Saat itu saya sedikit trenyuh melihat masih ada segelintir orang yang profesi utamanya tentu bukan seniman Ludruk, tetapi masih menghidupi kesenian ini.

Pada umumnya para aktor yang bermain malam itu adalah petani dan pedagang pasar, hal itu terlihat dari cara mereka berdialog yang sangat polos. Mungkin, dahulu mereka adalah seniman Ludruk setempat, namun mencoba realistis bahwa Ludruk tidak lagi dapat dijadikan tempat mengadu nasib, maka beralihlah mereka ke profesi lain.

Dari pengalaman itu, lantas saya sempat berpikir, lha lek arek nom-noman saiki nonton Ludruk ae gak tau, lha katene Ludruk isok lestari? Ludruk beda dengan membatik, karena melibatkan banyak orang yang secara kolektif membangun suatu pergelaran, mengangkat kisah-kisah cerita rakyat dan tarian tradisional, menjadi wadah bagi orang dengan keahlian bermacam-macam. Lambat laun, bisa saja orang hanya mengenang Ludruk dari mulut ke mulut, tanpa ada penampilan fisik dari Ludruk itu sendiri.

Meski akhir-akhir ini juga sempat terdengar bahwa muncul kontroversi yang menabrakkan sentimen moralis-religius dengan peran lintas gender dalam Ludruk, namun saya masih yakin sak adoh-adohe kon ate urip alim, kon gak iso urip genok hiburan, lek koen kurang hiburan, sing onok koen dadi sepaneng, terus gampang nesu, lek koen nesu koen gak sido alim, akhire yo mbalek dadi begundal maneh. Dadi yo wes talah, genok salahe nguri-uri seni tradisi gawe anak putu cek gak koyok arek gak duwe udel. Mending anake diajari dolanan jula-juli, daripada dolanan anake tonggo e….

… tuku semanggi nang nJemursari

Tulisane kudu mari, yo tak akhiri….


Penulis: Algonz Dimas B. Raharja


0 Komentar