Luhut Harus Bisa Bedakan antara Sahabat, Investor dan Pencuri
Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti (Foto: Istimewa)

JAKARTA, HALUAN.CO - Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang dikenal tegas terhadap kapal-kapal asing yang mencuri ikan di perairan Indonesia, termasuk di Laut Natuna dengan kebijakan yang terkenal 'penenggelaman kapal' kecewa dengan sikap Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. 

Susi menilai pernyataan Luhut mengenai kapal Coast Guard China memasuki teritori laut Indonesia tanpa izin di wilayah perairan Natuna agar masalah itu tidak dibesar-besarkan karena China memiliki investasi besar di Indonesia, harusnya bisa dibedakan. Susi meminta Luhut agar masalah persahabatan antar negara, menjaga investor hingga menindaklanjuti pencuri sumberdaya ikan harus dibedakan.

"Kita jaga persahabatan antarbangsa. Kita undang investor untuk investasi. Kita jaga investor. Dan kita akan tetap menghukum pencuri sumber daya perikanan kita. Kita bedakan tiga hal itu dengan baik dan benar," kata Susi, Selasa (7/1/2019).

Susi menilai menjaga hubungan baik antarnegara bukan berarti harus mengalah. Menjaga hubungan baik tercipta dengan saling menghormati.

"Hubungan baik antarnegara adalah karena dalung (saling) menghormati," tambahnya.

Selama menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi juga kerap berseteru dengan Luhut selaku Menteri Bidang Kemaritiman yang menolak kebijakan penenggelaman kapal. Luhut meminta Susi menghentikan penenggelaman kapal, karena membuat investor takut.

Namun, upaya penghentingan penenggelaman kapal tersebut ditolak Susi hingga berakhirnya masa jabatannya. Susi tak diangkat lagii sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, dan posisinya digantikan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Edhy Prabowo. Sementara Luhur B Panjaitan tetap menjadi Menteri bidang Kemaritiman dan kewenangannya ditambah masalah investasi.

Tak Ada Tawar-Menawar dengan China soal Natuna, Luhut 'Melunak'?

Sebelumnya Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan meminta jangan terlalu membesar-besarkan masalah di Natuna. Menurutnya, kejadian ini menjadi bahan introspeksi pemerintah karena kurang menempatkan kapal penjaga di Natuna. Luhut menegaskan pemerintah pun sedang melakukan peningkatan mutu pada Badan Keamanan Laut.

"Sebenarnya enggak usah dibesar-besarin lah. Kalau soal kehadiran kapal itu, sebenarnya kan kita juga kekurangan kemampuan kapal untuk melakukan patroli di ZEE kita itu. Sekarang memang coast guard kita itu. Bakamla sedang diproses supaya betul-betul menjadi coast guard yang besar sekaligus ddengan peralatannya," ungkap Luhut, di Jumat (3/1/2020).

Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) I TNI Laksamana Madya TNI Yudo Margono mengatakan, TNI saat ini lebih mengupayakan persuasif untuk mengusir kapal nelayan asing yang mencuri ikan di Perairan Laut Natuna, Kepulauan Riau (Kepri) dilakukan terhadap kapal penjaga pantai China (China Coast Guard) dan nelayannya.

Sebab, kebijakan Menteri Keluatan dan Perikanann Edy Prabowo tidak melakukan penangkapan, apalagi menenggelamkan kapal pencuri ikan, yakni cukup diusir agar menjauh dari wilayah Perairan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia.

Berbeda dengan kebijakan dengan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, yang saat itu Yudo Margono masih menjabat sebagai Panglima Koarmada I, yakni ditangkap dan akhirnya ditenggelamkan. Dimana saat itu, sebagai Panglima Koarmada I dia menangkap dua kapal China yang mencuri ikan di Natuna menggunakan kapal Pukat Harimau.

Yudho mengaku, piaknya telah melakukan upaya persuasif mengajak kapal penjaga pantai China membawa nelayan-nelayannya meninggalkan perairan Natuna. Menurut dia, sesuai aturan seharusnya nelayan China tersebut ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku. Sementara kapal penjaga pantai memang hanya diusir keluar dari perairan Indonesia.

Besok, Jokowi Akan Gelar Pasukan di Natuna

Sejak Susi Pujiastuti tak lagi menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, digantikan oleh Edhy Prabowo pada Oktober 2019 lalu, pencurian ikan di Natuna kembali marak dilakukan oleh nelayan asing asal Vietnam, Thailand dan China. Sebab, kebiijakan Edhy Prabowo tidak lagi menenggelamkan kapal, tapi kapal yang ditangkap akan diberikan ke nelayan Indonesia.

Bahkan Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI beberapa waktu lalu, bahkan memergoki kapal China Coast Guard tak hanya mengawal kapal nelayan China, tetapi juga mengawal kapal nelayan Vietnam yang sama-sama tengah mencuri ikan di Laut Natuna.

"Tapi kita lakukan upaya damai. Meminta mereka keluar dengan sendirinya, di samping upaya negosiasi juga dilakukan Kementerian Luar Negeri Indonesia dengan China," ujar Laksamana Madya TNI Yudo Margono, Minggu (6/1/2019).

Dia mengemukakan, pukat harimau di Indonesia dilarang oleh pemerintah melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 2 Tahun 2015. Terakhir kali nelayan China menggunakan pukat harimau di laut Natuna sekitar pada 2016 silam, di mana saat itu TNI menangkap dua kapal negara asing tersebut.

Sejak penangkapkan itu, lanjutnya, tak ada lagi nelayan China yang berani menangkap ikan di Natuna. Namun, sekarang mereka datang kembali menjarah potensi laut Indonesia.

"Bahkan aktivitas nelayan mereka kini didampingi dua kapal penjaga pantai (coast guard) dan satu pengawas perikanan China," ucapnya.

Yudo menegaskan, TNI juga telah menggelar operasi dengan menurunkan dua unsur KRI guna mengusir kapal asing tersebut keluar dari Natuna. Operasi ini, kata dia, tidak memiliki batas waktu sampai kapal China betul-betul angkat kaki dari wilayah maritim Indonesia.

"Fokus kami sekarang ialah menambah kekuatan TNI di sana. Besok (hari ini) akan ada penambahan empat unsur KRI lagi untuk mengusir kapal-kapal tersebut," ungkapnya.

Kapal-kapal China diketahui masih bertahan di perairan Natuna hingga Minggu (5/1/2019). Kapal-kapal tersebut berada di 130 NM Timur Laut Ranai, Natuna.

Pangkogabwilhan I TNI Laksamana Madya TNI Yudo Margono memerinci, jumlah kapal China yang masih bertahan di Natuna yakni, dua kapal, satu kapal pengawas perikanan, dan 30 kapal nelayan.

Yudo menyatakan, kapal nelayan China menangkap ikan dengan menggunakan pukat harimau yang ditarik dua kapal di laut Natuna, Kepulauan Riau.

"Berdasarkan pantauan kami dari udara, mereka memang nelayan China yang menggunakan pukat harimau," kata Yudo Margono.