Maecenas Muslim yang Tumbuh dari Kampung
Ketika di Falcon Picture untuk Kepentingan JPTV (Foto: dok.pribadi)

Menurut Deden ide brilian kelahiran novel Sepatu Dahlan ketika sedang bertapa di toilet. Ini membuktikan, ruang sunyi sering kali menjadi sumber inspirasi bagi para penulis, seniman, maupun pegiat konten, guna melahirkan ide sebuah karya.

SUNGAI Citarik yang mengular dari utara menuju selatan hingga ke muaranya di Pelabuhan Ratu, jadi saksi perkembangan sebuah desa kecil di sisi baratnya. Para pinisepuh yang kali perdana mendiami desa itu menamainya Cikadu. Perpaduan dari dua kata, cai (cahaya) dan kadu (kedudukan). Kata cai yang kadung disalahartikan orang Sunda kiwari sebagai air, akan menemukan kerumitan secara leksikal bila nama itu kita terjemahkan, misal dengan arti kedudukan (sumber) air. Sebab di desa ini, air sangat sulit diperoleh jika mengandalkan sumber bawah tanah.

Bila arti lain dari kadu sebagai durian kita paksakan sebagai terjemahan, makin tidak masuk akal lagi. Tapi jikalau terjemahan versi pertama yang kita pakai, sangat mudah dimengerti secara sosiologis. Desa yang tumbuh di atas bukit karst itu, masyarakatnya bertahan hidup dari bertani, beternak, dan menambang batu.

Beberapa pesantren bercorak salafi, lahir juga seiring waktu berjalan. Dulu masih dominan menggunakan bangunan model k[r]obong. Pengampunya yang setara kiyai bila di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah—lazim disebut ajengan. Para ajengan inilah, yang sejatinya menjadi sumber cahaya bagi warga di sekitar desa.

Salah seorang ajengan itu bernama K.H. Ahmad Zainal Abidin Aminullah, atau Acep Zainal Abidin, warga pendatang yang berasal dari Tegalpanjang-Sukaraja, Sukabumi. Sebelum menjadi kehormatan masyarakat Cikadu, Acep adalah seorang santri kelana—sekaligus putra mahkota dari ajengan terkenal yang pesantrennya berdiri di tepi Kali Cikole, Tegalpanjang. Riwayat kehadiran Acep dimulai dari kilauan pesona mojang geulis bernama Siti Mastoah--akrab dipanggil Aah, yang telah ditinggal wafat ayahandanya, Syahri. Setelah mengikuti pendidikan formal hingga kelas III Sekolah Rakyat, hari-harinya diisi dengan mendaras Al-Quran dan pelbagai keterampilan seperti menjahit, menyulam, dan membordir.

Jika kembang idaman ini sedang menyusuri jalan desa, burung merak pun kalah gemulai. Keanggunannya memikat hati kumbang-kumbang Cikadu, Pelabuhan Ratu, bahkan hingga ke Sukabumi. Keadaan demikian membuat kepala Aki Emud, pening. Betapa tidak, mandor perkebunan karet inilah yang kemudian merawat cucu tercinta sejak menjadi yatim dan sering ditinggal pergi ibunya.

Saban hari ada saja lelaki yang bertandang hendak menyunting sang cucu jelita. Satu yang paling diperhitungkan olehnya yaitu, santri Acep. Hampir setiap hari ia menyambangi Aki Emud. Secara tak terduga, jerih payahnya tidak sia-sia. Ia berhasil merebut hati bunga desa Cikadu itu. Cinta mereka pun bersemi dan mekar di pelaminan, pada 1951.

Empat tahun berselang, Acep yang telah menjelma sebagai ajengan anom, mendapat tugas dari ayahandanya, K.H. Aminullah Zakaria, untuk membimbing santri dengan spesialis bidang ilmu Nahwu, Sharaf, Balaghah, dan Mantiq. Mereka menempati rumah di Pasekon Kidul, Desa Sukalarang, Kecamatan Sukaraja, Sukabumi.

Ajengan anom tetap menekuni ilmu dengan khusyuk, sementara Aah, istrinya, membangun kewirausahaan, mendirikan pengajian Al-Quran bagi anak-anak, membuka jasa menjahit pakaian untuk wanita, mengampu kursus keterampilan membordir, dan berdagang pakaian keliling kampung.

Buah manis dari pernikahan mereka, lahirlah seorang anak cerdas yang kemudian diberi nama Muhamad Ridwan Athoillah Shohibul Hikam. Dari nama itu ingatan kita langsung mengarah pada seorang ulama sufi kampiun asal Mesir, pengarang salah satu kitab babon tasawuf, al Hikam. Nama sepanjang itu kelak disingkat oleh uminya, menjadi Deden Ridwan sahaja. Dua nama yang ia sandang ini, kelak menjadi semacam ajimat keberuntungan dalam perjalanan hidupnya nanti.

Saban ada kesempatan, anak pangais bungsu yang lahir pada 6 Desember 1972 ini sering menemani sang abah berkeliling ceramah mengunjungi umat di tatar Sunda—bahkan hingga sampai ke Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya. Di pesantren ini, Ajengan Zainal Abidin didapuk sebagai santri kinasih Abah Anom Suryalaya (Syeikh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin r.a.). Mursyid Tarekat Naqsyabandhi-Qadiri. Deden yang tumbuh dalam suasana keluarga Islam tradisional, ternyata malah mengalami sentuhan peradaban modern yang lebih cenderung menggunakan pendekatan rasional. Hal itu ia rasakan secara nyata kala uminya tetap memasukkan ia ke Sekolah Dasar Negeri Tonjong I. Sejak 1979 hingga 1985, Deden kenyang disuguhi pengalaman bersentuhan dengan kitab kuning klasik dunia Islam dan kitab putih yang ia baca-pelajari di sekolah modern.

Buah Jatuh Tak Jauh dari Pohonnya

Setamat dari SD, Deden melanjutkan sekolah menengah pertamanya ke Madrasah Tsanawiyah Pondok Pesantren Darul Mutaallimin di Sukaraja, Sukabumi, asuhan K.H. (Mama) Yusuf Thobari. Gelar mama yang tersemat pada nama itu, adalah bukti posisinya sebagai ulama kharismatik dan dihormati lantaran keluasan ilmu. Secara rantai sanad guru-murid, Mama Thobari merupakan murid K.H. Aminullah Zakaria, yang tak lain adalah kakek Deden dari jalur ayah. Fenomena semacam ini khas lingkungan pesantren. Termasuk model santri jempolan yang menikah dengan putri kiyainya. Dengan menjadi santri, sesungguhnya Deden sedang mengulangi rekam jejak abah serta akinya.

Ada sebuah kisah menarik yang dialami Deden ketika nyantri di bawah bimbingan Mama Thobari. Waktu itu, ia termasuk santri muda/kecil, masih tingkat dasar (sorogan). Setara dengan siswa kelas 2 MTs/SLTP. Sesekali ia mengikuti pengajian tingkat menengah yang langsung diampu Mama Thobari.

Pada sebuah malam Senin yang mencekam, di masjid lantai dua yang beralaskan kayu, semua santri duduk berkumpul. Kiyai mereka muntab, karena semua santri yang memenuhi ruang masjid yang cukup besar itu, tidak bisa menjawab/menjelaskan salah satu bait kitab Alfiyah karangan Ibn Malik. Kitab Nahwu paling terkenal di jagat pesantren.

Suasana berubah hening membeku. Para santri kolot (senior) bungkam seribu bahasa. Dilumat oleh ketakutan dan rasa bersalah. Mereka semua tertunduk. Tak ada yang berani menegakkan kepala, apalagi melihat ke depan—menatap wajah Mama Thobari yang sedang merah. Waktu sudah menjukkan pukul 21.00 Wib. Sebagaimana tradisi yang sudah berlangsung lama di pesantren ini, sebelum pengajian dituntaskan, shalat Isya berjamaah belum bisa ditegakkan. Dengan kata lain, seluruh santri belum bisa kembali ke asrama/kamar masing-masing. Sementara pada saat yang sama, perut mereka sudah memainkan irama keroncongan.

Dalam suasana nan mencekam itu, tiba-tiba terdengar suara Mama Thobari yang menggelegar bak guntur di siang bolong.

“Deden mana?!”

Sorot mata Mama Thobari tajam, mencari-cari santri ingusan, berbadan kecil, berkopiah hitam yang sudah lusuh.

Santri yang dicari pun mengacung. Tangannya bergetar. Ia duduk di pojok kiri baris kedua. Mama Thobari berusaha mencari-cari posisi santrinya. Setelah ketemu, ia langsung bicara tegas dan keras;

"Bantu santri lain. Kamu baca dan jelaskan hasil mengaji bait kemarin. Cepetan!

Tak ayal. Deden menjadi pusat perhatian semua santri yang raut wajahnya tampak terkejut, ditingkahi rasa was-was dan deg-degan, apakah Deden sanggup menjelaskan pertanyaan Sang Guru. Karena kalau tidak, alamat pengajian malam itu belum bisa dibubarkan. Di luar dugaan, Deden langsung menjawab pertanyaan itu dan menjelaskannya dengan fasih. Mama Thobari pun manggut-manggut. Sejurus kemudian ia berkata.

Hade pisan! (Tepat sekali!).”

Pengajian pun langsung ditutup. Suara santri seketika bergemuruh. Satu persatu mereka berseliweran mengambil air wudhu ke lantai bawah. Pundak Deden ditepuk-tepuk santri kolot yang mengerumuninya sambil mengucapkan, “Hade euy. Hatur nuhun nggeus jadi penyelamat.” Keesokan hari, angin menyebarkan cerita itu dari mulut ke mulut, bahkan sampai menembus tembok asrama santri putri. Deden sontak menjadi "selebritis" dalam arti sesugguhnya. Seni berpikir yang ia kembangkan, suatu saat nanti membawanya ke panggung yang lebih terhormat.

Kejadian tersebut sangat membekas dalam pikiran dan relung hati Deden. Sejak itu ia tumbuh percaya diri: berdiskusi, menyelami sekaligus menikmati tradisi intelektual, berpikir kritis dan siap berbeda pendapat. Tradisi ini semakin tumbuh subur ketika ia menimba ilmu di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ciputat, dengan aktif dalam organisasi intra maupun ekstra kampus, serta kelompok studi. Bahkan ketika kakinya mendarat di salah satu universitas tertua Eropa, ia acapkali berdebat dengan para dosen yang bermental kolonial, dan jadi "mentor" sesama rekan mahasiswa jenjang master untuk mendiskusikan tema/judul tesis.

Masih bercorak Islam tradisional, Madrasah Aliyah Negeri 3 Ciputat, jadi saksi ia mengenyam pendidikan menengah atas sedari 1988-1991. Selepas dari Aliyah, Deden sebenarnya diterima di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), jurusan Bea Cukai, dengan beasiswa penuh. Sampai hari ini pun, gengsi sekolah tinggi tersebut masih bertahan. Betapa tidak. Para alumninya dijamin menduduki posisi strategis di lembaga negara. Namun apa lacur, Deden tak berkutik menghadapi kehendak sang abah. Restu yang ia tunggu tak jua tiba.

Sebagai anak muda dinamis dengan darah bergejolak gairah, Deden sempat dirundung murung. Hari-harinya diselimuti mendung kesedihan. Air mukanya tak lagi ceria. Tawanya yang renyah dan cenderung meledak-ledak, seolah lenyap ditelan kegundahan. Pada hari terakhir penentuan keputusan langkahnya ke masa depan, Deden pun luluh oleh bujukan sang ibu. Ia mendaftar di IAIN, Ciputat.

Kini Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah. Manusia berencana, Tuhan yang menentukan. Demikianlah pada kenyataannya. Alhasil Deden diterima sebagai mahasiswa Jurusan Aqidah dan Filsafat, Fakultas Ushuludin.

Sedari paruh awal 90-an hingga 1996, Deden resmi bermukim di kampung intelektual yang mengglobal. Ribuan mahasiswanya yang datang dari segala penjuru Indonesia dan juga negeri manca, menciptakan komunitas epistemik yang khas. Segala corak pemikiran dunia Islam dan Barat, tumbuh subur dalam “mangkuk raksasa peradaban ilmiah.”

Bagi mereka yang tak siap dengan pola seperti ini, cenderung terpinggirkan dari panggung gagasan. Hilang ditelan gelombang zaman baru yang sedang bergerak. Lokomotif dari Mazhab Ciputat ini berlandaskan pada tiga kategori.

Islam Rasional (Harun Nasution), Neo-Modernisme Islam (Nurcholish Madjid), dan Pribumisasi Islam (Abdurrahman Wahid). Ketiga ruh arus pemikiran itu terasa hidup di Ciputat: tradisi berpikir rasional-kritis berbasiskan keislaman, kemodernan, dan keindonesiaan, menjadi kuncinya. Dibincangkan di ruang-ruang kelas, di warung-warung kopi, di organ ekstra kampus semacam Himpunan Mahasiswa Islam, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, di kelompok studi, bahkan di kamar kosan yang seperti disulap menjadi arena perdebatan. Tradisi itu pula yang membuat IAIN Ciputat dijuluki sebagai kampus pembaharu, terbuka, dan menenggang perbedaan.

Kawah candradimuka IAIN Ciputat itulah yang turut membentuk karakter seorang Deden. Apalagi ia sendiri aktif di kelompok studi bernama: Flamboyan Shelter. Di kelompok studi ini, semua pemikiran dikaji dan didiskusikan secara kritis. Memperkaya wawasan, dan memperkokoh sikap-mental para punggawanya.

Tak ayal, hasil pergulatan selama menjadi mahasiswa IAIN, dibuktikan Deden dengan menerbitkan sebuah buku berjudul: Melawan Hegemoni Barat: Ali Syariati dalam Sorotan Cendekiawan Indonesia (1997). Dalam buku tersebut, Deden bertindak selaku editor sekaligus pemberi pengantar panjang. Seiring perjalanan waktu, nun di lubuk hati Deden, akhirnya IAIN Ciputat menempati posisi yang sangat bermakna. Membekas. Menentukan arah perjalanan hidupnya.

Lima tahun kemudian, bekal teramat kaya itulah modal utama Deden mengenyam studi S2 di Universiteit Leiden, Belanda selama medio 2002-2003.

Menulisi Dunia

Suatu hari yang cerah, Deden yang masih berstatus mahasiswa tingkat akhir, membeli makan untuk ia santap di kosan. Perutnya yang sudah keroncongan tak lagi mau menunda barang sebentar. Setiba di petakan kamar kosannya, isi bungkusan makanan itu pun ludes ia pindahkan ke lambungnya. Setelah ritual bersantap ditunaikan, tatapan Deden tertumbuk pada sebuah tulisan di kertas pembungkus makanan yang baru saja ia beli. Lama ia mengamati dengan teliti. Sejeli mungkin. Ingatannya seolah memantik sebuah informasi penting. Susunan huruf demi huruf yang ia baca itu pun lantas membawa matanya pada dua suku kata dari nama sang penulis: Deden Ridwan. Ia tertawa, geli.

Anekdot semacam itu konon juga dialami oleh beberapa penulis lain. Ya, dalam disiplin literasi yang satu ini, Deden memang terkenal sebagai penulis sejak mahasiswa IAIN. Namanya tidak asing bagi mahasiswa sezamannya kala itu—terutama mereka yang gemar mengikuti perkembangan dunia pemikiran. Selain berkecimpung sebagai aktivis kampus, ia rajin menulis opini di koran nasional seperti Republika, Kompas, Media Indonesia, majalah Panjimas, D & R (Group Tempo), Pelita, Kiblat, dan Jurnal Ulumul Quran. Ditilik dari banyaknya karya tulis yang dihasilkan, ia tergolong penulis produktif.

Gairah membara Deden dalam menulis, masih ia hiasi dengan berhasil merebut beasiswa menulis dari harian Kompas—yang reputasi kualitasnya sama sekali tak bisa diragukan hingga saat ini. Skripsi Deden yang berjudul “Wacana Pembaruan Pemikiran Islam Nurcholish Madjid dalam Pemberitaan Majalah Tempo 1971-1994,” memenangkan beasiswa untuk riset dari Tim Bantuan Penelitian dan Pendidikan Harian Umum Kompas pada 1995—setelah melewati seleksi ketat dan berlapis, serta presentasi menegangkan di depan tim ahli, seperti Daniel Dhakidae.

Daniel yang saat itu sudah beken sebagai cendekiawan Indonesia papan atas yang akrab bergaul dengan Cak Nur dan Gus Dur, malah secara terang-terangan meragukan skripsi yang ditulis oleh Deden. Di hadapannya, tak ada mahasiswa yang benar-benar pantas untuk dipuji setinggi langit. Apa pula yang berasal dari kampus semacam IAIN. Tapi para penggerak Mazhab Ciputat memang berbeda. Deden hanya satu dari sekian banyak pelanjut tongkat estafet yang dititipkan para pembuka jalan intelektual Islam sebelumnya. Beberapa di antaranya adalah Prof. Nurcholish Madjid, Prof. Azyumardi Azra, Prof. Komarudin Hidayat, dan intelektual bohemian, Fachry Ali.

Prof. Azra dan Prof. Komarudin masih aktif menulis opini di surat kabar Kompas, Republika, dan Sindo—hingga saat ini. Tulisan Fachry juga sesekali muncul di Kompas. Sementara Deden sudah lama tidak menulis opini di koran-koran nasional seperti saat menjadi mahasiswa. Waktunya tercurah untuk menyelami industri penerbitan dan menulis pidato-pidato politik serta buku-buku biografi para tokoh nasional. Secara material, menulis buku—tepatnya menjadi penulis profesional yang kerap di belakang layar—memang lebih menjanjikan tinimbang menulis opini.

Ketika sudah menjadi sarjana, ia menguji ketangguhan diri dengan bekerja di Pusat Jaringan Penelitian (Pusjarlit) IAIN Jakarta (1996-1998); Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF) sekaligus Redaktur Jurnal Ulumul Quran (1998-2000); dan Dewan Redaksi Majalah Perta Jakarta (2000-2009). Sepanjang 2002 hingga 2015, Deden berkarir di Group Mizan. Di perusahaan bonafide ini, rekam jejak karirnya dimulai dari Penerbit Hikmah, lalu Noura Books, hingga Expose Communication—sebuah perusahaan konsultan branding dan layanan komunikasi. Di Mizan, ia merintis jalan suksesnya dari lantai bawah bagian redaksi, lantas menjabat manajer eksekutif, general manager, hingga CEO (Chief Executive Officer).

Pada era ini, Deden tak hanya berkiprah sebagai seorang penulis. Ia juga melahirkan banyak buku laris yang berasal dari idenya. Buku hasil kreasi dan terbitannya laku keras di pasaran. Sebut saja, Doa Ajaran Ilahi karya Jejen Musfah dan Anis Maskur (2000), Aa Gym dan Fenomena Darut Tauhid (2001), Sepatu Dahlan; Trilogi Novel Inspirasi Dahlan Iskan (2012), novel Athirah; Kisah Ibunda M. Jusuf Kalla (2013), dan The Next One: Biografi Dahlan Iskan (2014).

Novel Sepatu Dahlan malah bisa dikategorikan buku fenomenal. Hanya dalam waktu dua bulan saja, novel tersebut ludes terjual 40.000 eksemplar. Selama satu tahun terjual lebih 250.000 eksemplar. Tak hanya itu, peluncuran novelnya di Bundaran Hotel Indonesia, selain diliput hampir seluruh media nasional, juga mendapat perhargaan rekor Museum Rekor Indonesia karena dianggap terunik dan terheboh. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Novel ini diangkat ke layar lebar, dan Deden bertindak sebagai produsernya.

Menurut Deden ide brilian kelahiran novel Sepatu Dahlan ketika sedang bertapa di toilet. Ini membuktikan, ruang sunyi sering kali menjadi sumber inspirasi bagi para penulis, seniman, maupun pegiat konten, guna melahirkan ide sebuah karya.

Kelompok Penerbit Mizan telah mampu menghadirkan buku bergizi tinggi, baik secara kualitas isi maupun kemasannya. Deden merupakan satu di antara awak Mizan yang memberikan sentuhan isi dan kemasan buku-buku bagus tersebut.

Menurutnya, industri buku bukan hanya peristiwa ekonomi, tapi juga peristiwa budaya.

Tak hanya sekadar menaklukkan pasar, namun melayani manusia agar melek literasi demi membangun peradaban. Sampai saat ini, perjalanan karir Deden sepertinya tidak pernah jauh dari ranah kepenulisan. Entah sebagai peneliti, editor, penulis, penerbit buku, konten kreator, maupun produser film.

Ayah tiga anak yang suka tertawa lepas dan juga bercita-cita menjadi ulama-intelektual ini juga konseptor novel Merdeka Sejak Hati: Kisah Lafran Pane karya A. Fuadi (2019); kreator novel Athirah; Kisah Ibunda M. Jusuf Kalla karya Alberthine Endah (2013); konseptor buku Politik Hukum Pilkada Serentak karya Tjahjo Kumolo (2016); konseptor buku-buku karya Prof. Yasonna H. Laoly (2019); dan secara tidak langsung turut mendandani penulis fenomenal Andrea Hirata dengan sebuah pet hitam yang sampai kini terus melekat di kepalanya. Rambut ikal penulis asal Belitong itu pun jadi kian elok dipandang mata.

Membangun Perusahaan Sendiri

Setelah bergelut di dunia literasi selama dua dasawarsa, Deden pun tiba di persimpangan jalan hidupnya. Sebuah keputusan besar mesti ia ambil: tetap bertahan di Mizan atau terjun bebas ke dunia baru yang lebih menantang. Setelah berdialog panjang dengan orang-orang tercinta di sekelilingnya, dan mengikuti kata hatinya yang terdalam, Deden memutuskan berhenti sebagai karyawan. Ya, “anak emas” Haidar Bagir sang pendiri Mizan ini, akhirnya mendirikan perusahaan sendiri. Meski sudah hidup mapan bersama Mizan dengan posisi strategis, ia tertantang menekuni bisnis konten dengan memanfaatkan pelbagai pelantar media; writer enterpreuneurship, konten kreator, ideator, hingga rumah produksi.

Apa yang akan ia kerjakan, sesungguhnya tak jauh beda dengan basis industri garapan Mizan. Bedanya, kali ini ia ingin merasakan benar-benar menjadi pemilik dan pendiri, hingga bisa menyelami secara utuh riuh rendah industri kreatif, bukan sebagai bawahan. Deden merasa sudah cukup memiliki kemampuan dan jaringan memadai untuk memasuki dunia bisnis industri konten.

Terhitung sejak 2015, ia mulai berduet dengan koleganya sewaktu di Mizan. Ia pun menduduki posisi selaku Pendiri dan Chief Executive Officer Reborn Initiative (PT Samudra Energi Kreatif). Lingkup jasa perusahaan ini adalah seni memoles merk, pengumuman layanan publik, rumah cerita dan produksi, audio-visual, dan kampanye kreatif di media sosial.

Sebelum terjun langsung mengelola Reborn, Deden sempat berlabuh sebentar di Falcon Picture, perusahaan film raksasa milik pengusaha India, yang sukses dengan Dilan, My Stupid Boss, dan Bumi Manusia. Selepas dari Falcon, Deden juga sempat menjadi Tenaga Ahli Unit Kerja Presiden Bidang Pembinaan Pancasila (UKP-Pancasila), yang dipimpin Dr. Yudi Latif. Tiga tahun setelah Reborn didirikan, Deden terlibat kampanye “Muslim Ngefriend” sebagai bagian dari gerakan Convey Indonesia yang dipelopori PPIM UIN Jakarta-UNDP. Saat itu ia dipercaya sebagai Direktur Kampanye Publik.

Atas kiprahnya itu, Deden dan Reborn diganjar penghargaan bergengsi oleh UNDP sebagai “The Highest Online Outreach” (2018). Kini, Deden tidak hanya menulis dan melahirkan buku, tetapi juga memproduksi video klip dan bahkan membuat film. Video klip J-Rock tentang Wudhu (2017), web-series Negeri 5 Negeri (2019), dan kini film Demi Waktu; Surat Lafran Pane (on progress) adalah contoh produk di mana Deden terlibat sebagai produser-nya. Ia dan timnya berusaha membaca tren zaman, belanja ide, dan mengembangkan antusiasme dan kemerdekaan pikiran. Hanya dengan cara inilah perusahaannya akan bertahan dan tumbuh berkembang. Deden meyakini bahwa, “kreativitas itu tak pernah mati ditelan waktu.”

Jika ditarik benang merah, kesadaran literasi dalam diri Deden sudah tumbuh sejak ia masih kecil. Karena sering kali menyaksikan abahnya mendaras kitab kuning seorang diri (mutholaah) dengan suara keras. Baik itu di masjid, madrasah, rumah, semua yang dibincangkan adalah hikmah yang terkandung dalam kitab kuning. Sedari kisah-kisah kocak lagi konyol yang mengandung kebijaksaan, pun yang memeram keindahan ilmu sejati. Abahnya juga punya kebiasaan menukil sebuah kitab, mensyarah (mengomentari), dan bahkan menerjemahkannya dalam bahasa Sunda, kemudian dicetak/diterbitkan dan dijual secara mandiri ke para santri dan masyarakat luas. Inilah benih DNA (Deoksiribonukleat) yang terwaris dalam diri Deden terkait industri perbukuan dan segala turunannya.

Abahnya juga pernah menjadi "asisten intelektual" Pangersa Abah Anom, Suryalaya. Kitab Miftah al-Shudur, salah satu karya penting Abah Anom, ditulis dengan metode dikte: Abah Anom bicara, Abah Zainal menuliskannya. Kemudian setelah itu, terjadi diskusi intensif di antara mereka, sampai akhirnya kitab tersebut sepakat untuk dicetak dan disebarluaskan.

Riwayat tersebut pun selaras belaka dengan dinamika pekerjaan Deden yeng lebih banyak menjadi konsultan atau mitra kreatif-intelektual banyak tokoh nasional dalam menghasilkan karya. Di ranah inilah Deden layak ditahbis sebagai Maecenas Gagasan.