Makan Nasi Padang Gak Pakai Tangan, Yang Benar Saja Anda

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Cara makan nasi padang boleh berbeda-beda, tetapi secara kultural makan menggunakan tangan adalah hal umum di nagari-nagari ranah Minang. (Ilustrasi: Haluan.co)

-

AA

+

Makan Nasi Padang Gak Pakai Tangan, Yang Benar Saja Anda

Overview | Jakarta

Rabu, 22 April 2020 16:31 WIB


Usut punya usut, ternyata tradisi makan pakai tangan atau tidak ini juga terpengaruh dari beberapa tradisi di nagari-nagari ranah Minang. Tentu, tak semua masyarakat punya adab makan yang sama.

SUATU kali, saya mengajak seorang kawan dari Cianjur untuk menyantap nasi padang di sebuah lapau semenjana. Lapau adalah jenis lain dari ampera, alias warung dengan masakan khas Minang namun tak semewah Rumah Makan Padang. Satuan terkecilnya lagi biasa disebut Bopet yang hanya fokus pada menu-menu tertentu. Tentu saja, untuk orang luar Sumatra Barat, semua warung dengan sajian khas Minang disamaratakan saja dengan sebutan Rumah Makan Padang. Tapi kali itu, kami benar-benar makan di sebuah lapau, karena tempatnya tersembunyi dan etalase makananya tak menghadap ke jalan seperti umumnya Rumah Makan Padang.

Sebut saja nama lapau itu Palanta, dalam bahasa Minang setidaknya berarti nongkrong. Bukan hal baru bagi insan Jawa dan Sunda beradu tamak di sebuah warung masakan Minang. Namun hal yang saat itu tak bisa diterima dengan akal sehat adalah kawan Sunda ini memilih makan dengan sendok garpu. Aih amboi nian, macam perlente saja kawanku ini.

Bagi beberapa orang, rasanya tak tega melihat orang lain menikmati nasi padang dengan cara sendok-garpu seperti tadi. Hal ini semacam pelecehan kontekstual terhadap siraman kuah gulai, serundeng, dan sambal hijau yang biasa lumat bersamaan dalam secungkup jemari tangan. Dalam hati, tentu saja saya mengumpat,”Adat mana yang mengizinkan orang makan nasi padang pakai sendok garpu, woi!”.

Usut punya usut, ternyata tradisi makan pakai tangan atau tidak ini juga terpengaruh dari beberapa tradisi di nagari-nagari ranah Minang. Tentu, tak semua masyarakat punya adab makan yang sama. Meski secara umum kita seringkali sangsi jika ada beberapa makanan disantap tidak seperti biasa. Misalnya menyantap lalapan Lamongan dengan sendok garpu, atau memakan Rawon Malang dengan tangan kosong. Tidak tidak, bukan ini yang disebut edgy, anda sedang berkesenian debus saja.

Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Demikian semboyan adat Minang. Dan jika boleh ditambahkan, makan nasi padang bersendikan adat adalah ia yang menggunakan telapak tangannya. Bukan memakai alat bantu macam sendok garpu, apalagi sumpit. Namun ternyata di Minang sendiri tak serta merta anda boleh mengambil makanan seenaknya dengan tangan.

Di Minang sendiri dikenal cara makan yang disebut Barapak atau Bajamba. Di mana dalam satu kesempatan sejumlah orang makan bersama dengan sajian di atas sebuah talam. Dan tentu saja, tangan adalah alat utama dalam melaksanakan bajamba ini. Hanya orang iseng yang membawa bekal sendok garpu dalam acara makan seperti ini.

Dalam tulisannya berjudul Tradisi Makan Bajamba Dalam Alek Perkawinan Di Nagari Magek di Agam, Sumbar, Mita Gustina menjelaskan bahwa bajamba umumnya berasal dari tradisi perkawinan adat Minang. Pelaksanaan beralek atau perkawinan adat ini dilakukan berbeda tiap nagari. Atau dalam kesepakatan setempat disebut adaik salingka nagari. Yaitu adat dijalankan berbeda-beda tiap nagari atau tiap daerah, meski sama-sama berada di ranah Minang.

Proses beralek dengan tradisi makan bajamba ini juga dilakukan dengan aturan tertentu. Sehingga tidak seenaknya saja seseorang bisa meletakkan kaki saat makan bersama. Menurut catatan Gustina, cara duduk dalam bajamba ditentukan berdasarkan jenis kelamin. Yaitu basimpuah (bersimpuh) untuk perempuan dan baselo (bersila) untuk laki-laki. Proses makan bersamanya juga tak serta merta seorang bisa berpindah dari talam satu ke talam lain. Sebab, dalam bajamba sudah disiapkan talam-talam berisi makanan dalam kuantitas tertentu dengan orang yang mengitarinya kurang lebih tiga atau lima orang. Tujuannya adalah mempererat perkenalan dan persaudaraan.

Makan dengan cara bajamba juga diatur sedemikian detail dengan memerhatikan cara penyuapan ke dalam mulut. Cara ini dilakukan dengan tangan kanan menyuap ke mulut dengan teknik melempar, bukan meletakkan jemarinya masuk ke dalam mulut. Di sisi lain, tangan kiri siap menadah jika ada nasi atau makanan yang lepas dari mulut. Teknik melempar ini ditujukan untuk mengurangi adanya makanan jatuh ketika sudah masuk mulut. Sehingga memberi ruang bagi makanan untuk jatuh sebelum lemparan masuk ke mulut.

Makanan jatuh inilah yang lantas diamankan oleh tangan kiri. Dalam bajamba, hal ini dilakukan untuk menghormati para rekan yang sedang makan bersama kita dalam satu talam. Begitu aturan lain seperti menyuap dalam ukuran kecil, agar terhindar dari tumpahnya suapan menuju mulut. Hal ini mengajarkan setiap orang yang sedang melakukan bajamba untuk bersikap santun tanpa membuang makanan. Sebab menurut Gustina, orang Minang pantang dengan nasi yang terbuang.




Kisah Gustina tentang bajamba di Nagari Magek ini bisa jadi pembenaran bahwa secara adat memang makan menggunakan tangan sudah mendarah daging di Minangkabau.

Tapi, di Kubuang Tigo Baleh urusan mengambil makanan dengan tangan ini nampaknya tak sebebas itu. Witrianto dan Afrinal dalam Tradisi Dan Pola Makan Masyarakat Tradisional Minangkabau Di Kubuang Tigobaleh menyebut beberapa hal yang berbeda dengan bajamba di Magek.

Kubuang Tiga Baleh sendiri adalah sebuah luhak atau konfederasi dari tiga belas nagari berbeda yang meliputi kabupaten dan kota Solok. Wilayah luhak ini merupakan yang termuda setelah luhak-luhak lainnya seperti Tanah Data, Agam, dan Limopuluah. Kubuang Tiga Baleh atau Kubung Tiga Belas sendiri menempati wilayah di sekitaran kaki Gunung Talang. Sedangkan Nagari Magek tadi berada di Luhak Agam.

Dalam tulisan Witrianto dan Afrinal, kegiatan makan secara adat di Kubuang Tigo Baleh dilakukan atas dasar penghormatan kepada yang lebih tua. Dalam hal ini, pengambilan makanan didahulukan bagi mereka yang lebih tua dan urang sumando (menantu laki-laki). Kedua pihak ini akan mendapatkan bagiannya yang disisihkan meski tak sedang berada di rumah saat kegiatan makan bersama dilakukan.

Berbeda dengan talam dalam tradisi makan bajamba, di Kubuang Tigo Baleh ini wadah untuk menaruh makanan adalah cambuang. Alat ini digunakan sebagai tempat nasi. Sedangkan untuk makanan selain nasi diletakkan di wadah berbeda sesuai dengan bentuknya, berkuah atau tidak berkuah. Semua wadah makanan tadi diberi sendok dan tidak dipindah-pindahkan dari satu wadah ke wadah lainnya.

Mengambil makanan dengan tangan dianggap sebagai sesuatu yang tidak sopan oleh masyarakat setempat. Itu sebabnya, semua piring dan mangkuk dan tempat makan masing-masing diberi sendok. Sedangkan cara mengambil makanan adalah dari pinggir ke tengah, bukan sebaliknya. Meski begitu, untuk menyuap makanan biasanya menggunakan tangan, sedangkan sendok atau alat lain dipakai untuk makan bubur atau kolak. Sehingga keluwesan tangan seseorang dalam kegiatan makan hanya dibatasi untuk urusan piring pribadi saja.

Selebihnya, cara duduk tradisional dalam kegiatan makanan di Kubuang Tigo Baleh masih sama yaitu bersimpuh dan bersila. Umumnya kegiatan makan dilakukan di atas tikar, dan sewaktu makan, piring tempat nasi juga harus diletakkan di atas tikar. Sebab, mengangkat piring dengan sebelah tangan dianggap sebagai kelakuan tak sopan di tempat itu. Begitu pula setelah makan, dilarang untuk mencuci tangan terlebih dahulu jika yang lain belum selesai. Hal ini dilakukan untuk menghormati insan lainnya agar tak merasa malu dan merasa makannya terlalu banyak. Tentu saja, hal ini disiasati dengan memperlambat tempo makan.

Urang sumando mendapat tempat istimewa saat kegiatan makan bersama pada masyarakat Kubuang Tigo Baleh. Hal ini ditunjukkan dengan adanya hidangan terbaik yang disajikan untuk urang sumando. Makanan ini tidak boleh dimakan oleh anak-anak sebelum urang sumando selesai makanan. Sebabnya, hidangan ini umumnya berbumbu banyak dan cenderung pedas, sehingga dikhawatirkan tak cocok dengan perut anak-anak. Meski di sisi lain memang kedudukan urang sumando dalam kegiatan makan lebih diutamakan.

Dari kedua tradisi makan di ranah Minang di atas nampak bahwa sebenarnya tak ada esensi khusus bagi seseorang untuk makan nasi padang dengan tangan. Hanya saja memang kebiasaan adat setempat makan bersama dengan menggunakan tangan sebagai alat bantu utama. Sedangkan sednok dan alat lainnya digunakan untuk sekadar mengambil lauk-pauk, sayur, atau hidangan lain di luar piring pribadi.

Meski begitu, kita telanjur taklid pada habitus umum bahwa makan nasi padang itu tidak enak kalau tak menggunakan tangan. Dan tentu akan aneh jika kebetulan makan dengan seseorang yang tertib memakai sendok-garpu. Namun, menurut hemat saya sebagai insan asal kenyang, tentu menggunakan tangan adalah metode untuk menjemput kulminasi nikmatnya nasi padang.

Sama halnya seperti membeli nasi padang dengan dibungkus. Di mana semua bumbu, kuah gulai, sambal, dan segala hal yang ada bercampur jadi satu dalam bungkusan berbentuk balok. Sudah pasti, ketika bungkus dibuka, sebuah ekstase klimaks akan membuncah pada lidah. Apalagi, jika tak perlu repot-repot memakai sendok-garpu. Telapak tangan nan entah mengandung apa saja itu justru menjadi pelengkap sempurna dari sebuah nasi padang bungkus.

Meski tak jarang pula yang memilih makan di tempat sebagai kenikmatan kelas wahid. Namun, bisa dipastikan para penikmat nasi padang jenis ini sudah siap dengan dompet tebal dan siap menghajar semua menu. Sedangkan insan bungkus adalah insan semenjana yang mengharapkan porsi nasi lebih besar bercampur-baur dengan kuah gulai. Sebab sesungguhnya, cara menikmati nasi padang adalah kesunyian masing-masing. Tak ada yang berhak merasa lebih sempurna, karena nasi padang mengajarkan kita untuk senantiasa sederhana.


0 Komentar