Makin Aneh, Guru Tugaskan Siswa Karang dan Nyanyikan Lagu Tentang Corona

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Ilustrasi belajar bersama anak. (Foto: Shutterstock)

JAKARTA, HALUAN.CO - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengaku mendapat 213 pengaduan terkait keluahan siswa, selama pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), yang sudah berjalan empat pekan.

Mengapa ini penting: Dampak dari lonjakan kasus COVID-19 di Indonesia, membuat beberapa pemerintah daerah memutuskan untuk merumahkan siswa dan menerapkan metode belajar dengan sistem daring atau PPJ.

Konteks:

  • Tugas lewat daring yang diberikan guru kepada murid, ternyata makin berat, dari belajar tatap muka.
  • Kemendikbud, Kamis (9/4/2020) lalu, baru meluncurkan program Belajar dari Rumah, dengan megggandeng TVRI. Program itu digelar setiap hari dari Senin hingga Jumat, ada siaran pembelajaran untuk seluruh jenjang dari PAUD sampai SMA/SMK dan program untuk orang tua (parenting).
  • KPAI menerima pengaduan tertinggi berasal dari para siswa di jenjang SMA/SMK/MA.

Sumber pengaduan: Pengaduan PJJ mencapai 213 kasus dalam pelaksanaan kebijakan empat minggu siswa belajar dari rumah.

  • Pengaduan jenjang SMA sebanyak 95, SMK sebanyak 32, MA sebanyak 19, SMP sebanyak 23, MTs hanya 1, SD sebanyak 3 kasus dan TK hanya satu pengaduan.
  • Pengaduan terbanyak (sekitar 60 persen) berasal dari DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. adapun wilayahnya meliputi 14 provinsi dengan 45 kabupaten/kota.

Bentuk pengaduan:

  • Penugasan yang maha berat dan waktu pengerjaan yang pendek. Siswa ditugaskan menulis esai hampir di semua bidang studi.
  • Ada siswa SMP yang pada hari kedua PJJ sudah mengerjakan 250 soal dari gurunya.
  • Ada siswa SD di Bekasi yang diminta mengarang lagu tentang corona. Dinyanyikan disertai music dan dan harus di videokan.
  • Banyak tugas merangkum bab dan menyalin soal di buku.
  • Tugas yang paling tidak disukai anak-anak: merangkum bab materi dan menyalin soal di buku cetak.
  • Ada siswa SD yang mendapat tugas menyalin 83 halaman buku cetak sebagai bentuk penugasan dari gurunya.
  • Ada SD ditugaskan untuk menuliskan bacaan sholat, mulai dari bahas Indonesianya, latin dan arab. Padahal semuanya ada di buku cetak.
  • Banyak siswa yang mengaku dapat tugas menjawab soal, tetapi harus dituliskan soalnya padahal ada di buku cetak mereka.
  • Jam belajar kaku, seperti jam sekolah normal.
  • Tidak memiliki kuota dalam pembelajaran daring terutama untuk pengadu yang kepala keluarganya merupakan pekerja upah harian.
  • Pembelajaran daring ternyata juga dikeluhkan oleh anak-anak dari keluarga kurang mampu.
  • Tidak memiliki laptop/computer PC oleh sebagian siswa dari keluarga yang kurang mampu, sehingga kesulitan ujian daring yang akan dilaksanakan akhir April-Mei 2020.
  • Ada anak supir ojol yang mengaku gantian menggunakan handphone dengan ayahnya. Kalau siang dipakai bekerja, malamnya baru digunakan si anak untuk mengerjakan tugas.
  • Masalah sinyal juga menjadi kendala di beberapa daerah yang berbukit-bukit, akibatnya ada siswa yang setiap hari harus berjalan 10 KM untuk mendapatkan signal dan wifi.
  • Siswa mengaku lelah dan jenuh menjalankan PJJ, sementara Guru mengaku bingung mengelola PJJ
  • Penolakan membayar biaya SPP bulanan secara penuh karena siswa belajar dari rumah bersama orang tua.
Survei Kementerian PPPA: Mayoritas Anak Tak Suka Belajar di Rumah

Rekomendasi KPAI:

  • Proses pembelajaran di sekolah seharusnya tidak disamakan dengan jam belajar di sekolah.
  • PPJ jangan kaku menerapkan jam pertama sampai jam trerakhir, padahal mayoritas ganti jam, ganti mata pelajaran, berarti dapat tambahan tugas baru yang tak kalah berat.
  • Ragam media sosial perlu menjadi pilihan alternative untuk mengembalikan semangat siswa maupun guru.
  • Kemendikbud dan Kemenag harus segera menetapkan kurikulum dalam situasi darurat agar dinas-dinas pendidikan daerah dan Kanwil agama tidak melakukan tekanan terhadap para guru untuk menyelesaikan target kurikulum.
  • Kemendikbud harus segera menetapkan kurikulum sekolah dalam kondisi darurat.
  • Belajar jarak jauh maupun Penilaian Akhir Semester jarak jauh wajib mempertimbangkan kondisi siswa yang berbeda-beda, tidak bisa disamakan perlakuannya, karena ada anak yang orang tua tidak masalah dalam penyediaan kuota internet, namun ada orangtuanya tidak sanggup.
  • Mengingat ada kebijakan baru, dana BOS boleh digunakan untuk pembelian kuota internet siswa, karena selama 4 pekan ini para siswa membeli kuota internet sendiri dan sudah banyak yang merasakan terbebani.

0 Komentar