Mantap! Tiga KRI dalam Posisi Siaga Tempur di Laut Natuna Lawan China
Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan I (Pangkogabwilhan I) Laksamana Madya (Laksdya ) TNI Yudo Margono melihat kesiagaan pasukan tempur menjaga kedaulatan TNI di Natuna (Foto: Antara)

NATUNA, HALUAN.CO - Kapal Republik Indonesia (KRI) dalam posisi siaga tempur pengamanan laut Natuna di Kepulauan Riau (Kepri) dengan menempatkan tiga KRI, yakni KRI Tjiptadi, KRI Teuku Umar dan satu KRI akan menyusul. 

Penempatan tiga KRI di laut Natuna ini sebagai upaya penegakan kedaulatan negara dari klaim China atas Perairan Laut Natuna Utara.

"Ada dua KRI kita kerahkan dan ditambah jadi tiga menyusul besok, ini kita lakukan karena ada pelanggaran kedaulatan di Laut Natuna," kata Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan I (Pangkogabwilhan I) Laksamana Madya (Laksdya ) TNI Yudo Margono saat memberikan pengarahan kepada para prajurit di Paslabuh, Selat Lampa, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, Jumat (3/1.2019).

Ia menyebutkan, dalam pengawasan di wilayah itu dideteksi sebanyak 30 kapal ikan asing yang beroperasi di wilayah kedaulatan NKRI dengan dikawal oleh 3 kapal Coast Guard milik China.

"Melalui udara tadi pagi kita telah pantau, ada 30 kapal ikan asing dengan dikawal 3 kapal pengawas mereka, dan mereka sengaja menghidupkan AIS mereka, ini ada apa?" kata dia mempertanyakan.

KRI Teuku Umar dan KRI Tjiptadi diberangkatkan ke lokasi perairan tersebut. "Operasi ini kita melibatkan semua unsur, baik darat, laut dan udara," ujarnya menegaskan.

Dalam menjalankan operasi, ia mengingatkan kepada prajurit untuk tidak terpancing. Prajurit diminta untuk mengutamakan cara persuasif agar 30 kapal pencari ikan dan 3 kapal Coast Guard China keluar dari laut Natuna.


Indonesia Gelar Operasi Siaga Tempur di Natuna untuk Usir China

Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Retno Marsudi, mengatakan, hasil rapat tingkat menteri di kantor Menko Polhukam Mahfud MD Jumat (3/1/2019) menyoalkan untuk melakukan intensifikasi patroli di wilayah zona ekonomi eksklusif Indonesia di perairan Natuna.

"Dari rapat tadi juga persetujuan beberapa intensifikasi patroli di wilayah tersebut dan juga kegiatan perikanan yang memang merupakan hak bagi Indonesia untuk mengembangkannya di perikanan Natuna," kata Menlu Retno.

Menurut dia, telah terjadi perpindahan oleh kapal-kapal China di wilayah ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia di kapal Natuna.

"Kami baru saja melakukan rapat koordinasi untuk menyatukan dan mendukung Posisi Indonesia dalam menyikapi hubungan di Natuna. Dalam pertemuan ini kita harus mengembalikan, pertama telah dilakukan oleh kapal-kapal China di wilayah ZEE Indonesia," katanya.

Selanjutnya, kata Retno, wilayah ZEE Indonesia telah ditentukan oleh hukum internasional yaitu melalui persetujuan PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS).

"China merupakan salah satu pihak dari UNCLOS 1982, oleh karena itu merupakan kepentingan China untuk persetujuan implementasi dari UNCLOS 1982," katanya.

Indonesia, kata dia, tidak pernah akan mengakui sembilan garis putus-putus, klaim sepihak yang dilakukan oleh Tiongkok yang tidak memiliki alasan hukum yang diajukan oleh hukum internasional dan UNCLOS 1982.

Dengan mengacu pada Nine Dash-Line atau garis batas imajiner itu, , China berrkukuh mengklaim wilayah ZEE Indonesia. Kayakinan itu mendorong Cina melanggar garis batas ZEE Indonesia yang telah diakui oleh Konvensi Hukum Laut PBB atau United Nations Convention for the Law of the Sea (UNCLOS) 1982.


China Anggap Perairan Laut Natuna Bagian dari Negaranya