Marak Kekerasan Terhadap Anak, KPAI Minta Warganet Setop Penyebaran Video

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Ilustrasi perisakan (Foto: Haluan.co)

-

AA

+

Marak Kekerasan Terhadap Anak, KPAI Minta Warganet Setop Penyebaran Video

Nasional | Jakarta

Jumat, 14 Februari 2020 11:35 WIB


JAKARTA, HALUAN.CO - Aksi perundungan antara sesama murid kembali terjadi. Aksi kekerasan tersebut diketahui dari adanya video yang viral di media sosial berdurasi 28 detik. Dalam video, itu tampak tiga orang siswa laki-laki merundung seorang siswi perempuan. 

Mereka menendang dan bahkan memukul si korbannya dengan gagang sapu. Korban yang tampak tidak berdaya hanya menundukkan kepala di mejanya sambil menangis. Diduga, korban adalah anak berkebutuhan khusus (ABK). Diketahui, peristiwa perundungan itu terjadi di salah satu SMP swasta di Puworejo, Jawa Tengah.

Terkai itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyampaikan keprihatinan atas peristiwa perundungan antara sesama siswa yang korbannya seorang siswi berkebutuhan khusus.

"KPAI juga menyayangkan perundungan terjadi di lingkungan sekolah saat masih jam sekolah, di dalam kelas dan tidak ada pengawasan oleh pihak sekolah, misalnya guru piket. Anak lain di sekitar anak pelaku dan anak korban juga tidak ada yang melaporkan pada guru piket atau guru wali kelas. Tidak ada juga cctv di dalam kelas, sehingga tidak dapat dideteksi oleh pihak sekolah," ujar Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Lystiarti dalam keterangannya, Jumat (14/2/2020).

KPAI, kata Retno, mendorong para orang tua untuk ikut mengawasi medsos anak-anaknya, sambil melakukan edukasi bagaimana menggunakan medsos secara aman dan sehat.

Menurut Retno, kekerasan fisik maupun kekerasan verbal di kalangan sesama pelajar dengan pelaku dan korban anak memang marak akhir-akhir ini, termasuk cyber bully. Hal tersebut juga dipicu dengan era digital dan media sosial saat ini, dimana anak-anak milienial adalah pengguna aktif.

KPAI juga mendorong sekolah memiliki sistem pengaduan yang melindungi anak korban dan pelaku ketika mengadu. Retno menilai, kekerasan di dunia pendidikan kerap terjadi karena sekolah tidak memiliki sistem pengaduan yang melindungi anak korban dan anak saksi.

"Sistem pengaduan juga seharusnya tidak fisik berbentuk ruangan, tetapi seharusnya menggunakan daring. Sehingga, anak nyaman mengadu dan fleksibel secara waktu untuk melakukan pengaduan," imbuhnya.

KPAI Sesalkan Guru SMA 'Gebuk' Siswanya karena Tak Pakai Ikat Pinggang

"Namun yang lebih penting, sekolah menindaklanjuti setiap laporan dengan tetap melindungi pelapor/pengadu. Penanganan yang tidak melindungi korban, akan berpotensi kuat kalau pengadu/korban akan makin di bully fisik karena pelaku tidak terima kalau perbuatannya di laporkan kepada pihak sekolah seperti terjadi dalam kasus perundungan di Purworejo ini," sambungnya.

Terakhir, KPAI juga berharap orang dewasa di sekitar anak memiliki kepekaan terhadap para siswa-siswi anak yang mengalami perundungan.

"Jangan menganggap remeh dampak perundungan. Karena, dapat menganggu tumbuh kembang anak. Anak juga harus dididik berani bicara, berani menolak, speak up!" tukasnya.


0 Komentar