Mari Hijaukan Bumi Sejak dari Pelaminan
Melawan deforestasi adalah tugas kita, tapi memulainya dari hal kecil adalah cara cerdik. (Ilustrasi: Haluan)

Jika seorang lulusan kehutanan menjadi presiden tapi tak mampu juga melestarikan hutan di negeri ini, maka sudah waktunya rakyat bertindak dari arus bawah.

SELAIN bahaya pandemi penyakit seperti Covid-19, umat manusia perlu memikirkan pula bahaya-bahaya kehidupan lain yang berpangkal ada kesehatan lingkungan hidup. Tentu saja hal ini tak bisa selesai hanya dengan rajin menyapu lantai, membersihkan kamar mandi, menutup bak penampungan air, atau sekadar memblokir nomor mantan.

Tapi lebih dari itu, bahaya itu datang dari alam. Degradasi lingkungan bisa menjadi salah satu pemicu bencana. Baik bencana alam, pandemi penyakit, hingga bencana sosial.

Bencana alam menjadi salah satu hal yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Sebab, kedudukan Indonesia yang berada di jalur cincin api, patahan lempeng, hingga dikelilingi samudra adalah kunci dari terjadinya pelbagai bencana alam. Untuk yang ini, kita tak bisa mengelak. Karena bagaimanapun, kita hidup di tanah yang subur juga karena didukung penampakan geografis ini.

Tapi sadarkah kita bahwa negara ini berada di posisi ketiga pemilik hutan tropis terluas di dunia. Luasan ini sekitar 125.922.474 hektare (KLHK, 2018). Namun sayangnya, laju deforestasi atau hilangnya tutupan hutan di negeri ini juga masih tinggi. Meski dalam lima tahun belakangan ini Indonesia dipimpin oleh seorang lulusan fakultas kehutanan.

Menurut Forest Watch Indonesia dalam bukunya Deforestasi Tanpa Henti (2018) laju deforestasi pada tahun 2009-2013 adalah 1,1 juta hektare/tahun. Artinya dalam setahun saja, negara ini kehilangan luasan hutan lebih dari tiga kali luas provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang hanya seluas 318.600 hektare.

Bayangkan jika luasan yang hilang itu menggasak juga rumah Anda. Sebab, hilangnya hutan juga berarti menghilangkan sumber kehidupan masyarakat-masyarakat yang hidupnya bergantung pada hutan itu sendiri.

Sebab, masih berdasar data dari Forest Watch Indonesia, di Kalimantan Timur saja, pada tahun 2016 terdapat laju deforestasi sebesar 157.000 hektare/tahun. Lebih dari separuh luas provinsi DIY, atau dua setengah kali luas DKI Jakarta.

Melihat hal itu, lantas hal kecil apa yang bisa kita lakukan selain bacot di Twitter?

Dalam hemat saya sebagai insan yang pernah dibesarkan oleh utang beberapa gulung risoles di kantin Bu Icuk Fakultas Kehutanan UGM, tentu soal deforestasi ini bisa diakali dengan tindakan-tindakan kecil. Tenang, tak harus masuk fakultas kehutanan juga, ntar jadi presiden malah tambah susah hehehe....

Pertama-tama, kita bisa mendukung gerakan tanam pohon melalui basis kondangan nikah. Lho kok bisa?

Jadi begini, ide ini berasal dari salah seorang dosen saya di Laboratorium Teknologi Benih, FKT UGM. Bapak dan ibu dosen yang memang suami istri ini menjadikan bibit tanaman sebagai bingkisan bagi tamu saat pernikahan kedua anaknya.

Caranya tentu dengan menyemai bibit mandiri. Bisa dibeli di toko pertanian, atau jika mengetahui cara pembibitan lain, bisa digunakan. Dan lantas, bibit-bibit itu nantinya tinggal dibagikan melalui kupon undangan manten yang kadang nyemplungin amplop kosong itu.

Isi bibitnya apa saja?

Tentu bukan kayu ulin atau bulian yang baru saja diubah statusnya dari dilindungi menjadi komoditas eksploitasi. Entah ini orang-orang KLHK sebegitu manutnya sama pengusaha atau bagaimana, bisa-bisanya tanaman kayu keras kebanggaan Kalimantan yang butuh waktu ratusan tahun untuk tegakan sekitar dua puluh meter bisa dijadikan bahan komoditas.

Jika seorang lulusan kehutanan menjadi presiden tapi tak mampu juga melestarikan hutan di negeri ini, maka sudah waktunya rakyat bertindak dari arus bawah.

Ya, isinya bukan kayu ulin tentunya. Isi suvenir tadi adalah tanaman buah dari mangga, jeruk, nangka, hingga durian. Tentu saja, nama terakhir yang disebut menjadi rebutan para tamu. Justru inilah tujuannya, para tamu undangan jadi konsen berebut bibit tanaman.

Hal itu berarti mereka punya kesadaran untuk menanam pohon, bukan atas dasar disuruh atau sekadar ikut acara reboisasi. Justru ini yang efektif, membuat orang sadar untuk menanam. Sedangkan reboisasi umumnya hanya dilakukan sementana untuk gelaran acara bersama tokoh-tokoh tenar, tapi setelahnya tanaman tak dirawat dan slogan “sejuta pohon” pun hanya menyisakan kentut saja. Dan tentu, patok dengan nama orang tenar tadi.

Tujuan dari menjadikan bibit pohon sebagai suvenir nikahan adalah menumbuhkan semangat menanam bagi siapa pun. Sebab, bagaimana pun masyarakat kita nampaknya punya sense of belonging terhadap kegiatan menanam ini. Apalagi, jika tanaman tersebut menghasilkan buah.

Jadi nih sob, jika Anda-anda ini hendak menikah dan sekalian ingin mendukung kelestarian lingkungan, ide suvenir bibit tanaman buah ini bisa dipakai. Tentu saja, tidak lupa dengan menyertakan selembar kertas berisi penjelasan cara menanam dan merawat, bagi mereka yang awam. Sebab, kalau dipikir-pikir buat apa juga suvenir jika hanya gelas, kipas lipat, hingga spatula, kagak bisa ditanem brooo. Selain itu juga tidak menguntungkan secara jangka panjang.

Coba kalau Anda dapat bibit mangga misalnya, ditanam dengan baik dan dirawat. Tinggal menunggu bulan September sejak pohon itu bisa berbuah saja Anda bisa untung. Bisa untung karena ada asupan buah gratis buat keluarga di rumah, atau jika sisa dan Anda memang pemburu cuan, tentu hal ini bisa jadi komoditas ekspor antar tetangga. Bukan main bukan? Sederhana, tapi mantap.

Tak bisa dibayangkan jika ada seratus pasangan nikah baru di sebuah kecamatan punya ide serupa. Tanpa butuh anggaran negara, penghijauan sudah terlaksana dengan sporadis. Bahkan influenccer yang dibayar jutaan pun akan melongo dengan gerakan ini.

View this post on Instagram

#NandurBareng #SobatHijau, tak kurang dari 5000 relawan terlibat dalam penanaman 6000 bibit, sebagai salah satu ikhtiar untuk mengembalikan keasrian gunung Merbabu pasca kejadian bencana Puting Beliung triwulan akhir tahun 2019 yang lalu. . Lebih dari 93 organisasi relawan terlibat dalam kegiatan penanaman ini. Sebelum melakukan penanaman seluruh relawan menyaksikan hiburan topeng ireng dari Desa Pogalan. . Dirjen @konservasi_ksdae , Ir. Wiratno mengatakan, ini mengajarkan kita untuk berterimakasih kepada pohon, karena sudah memberikan berjuta manfaat kepada umat manusia. Kita harus merawatnya dengan sepenuh hati, sebagai bentuk terimakasih kita kepada pohon pohon yang ada. . Terimakasih yang tidak terhingga kepada seluruh potensi relawan yang sudah mensukseskan kegiatan Merbabu Nandur 02 02 2020 di Lokasi Wisata Alam Grenden. #SobatHijau, kalian sudah menanam berapa pohon? #Merbabunandur #merbabunandur02022020 #ayoketamannasional #ayokemerbabu #ayonandur #gunungmerbabu

A post shared by Kementerian LHK (@kementerianlhk) on

Sebab sudah saatnya, acara kawinan tidak hanya menghasilkan sampah sisa makanan dan gerutu para tamu karena katering yang tak nikmat. Nikahan 4.0 harusnya juga peka terhadap persoalan lingkungan. Tentu suvenir bibit pohon ini hanya salah satu ide. Masih ada bejibun ide lainnya untuk mendukung lestarinya lingkungan negeri ini.

Jika para pengusaha perusak hutan memakai basis lobi-lobi pada pemerintah sebagai senjata, maka kita sebagai rakyat harusnya tak mau kalah. Kita boleh kalah di tingkat kebijakan, tapi kita bisa balas di liga dangdut akar rumput. Jika seorang lulusan kehutanan menjadi presiden tapi tak mampu juga melestarikan hutan di negeri ini, maka sudah waktunya rakyat bertindak dari arus bawah.

Selain pelaminan, kita bisa mencontoh Filipina yang sudah mendahului kita soal ide brilian dengan mengeluarkan sebuah UU yang mewajibkan seorang anak menanam minimal sepuluh pohon sebelum lulus di setiap jenjang pendidikan. Jangan mau kalah dong sama pinoy, kuy tandur kuy....