Masuk Kuliah Jalur Influencer, Biar Apa?

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Universitas Muhammadiyah Malang dan UPN Veteran Jakarta membuka jalur pendaftaran mahasiswa baru dengan syarat influencers, mantap. )(Ilustrasi: Haluan.co)

Di era digital yang amat mendominasi ini, influencer tak hanya dibutuhkan pada ranah ekonomi pasar atau hiburan saja. Tapi lebih dari itu, nampaknya influencer dianggap berperan penting untuk menularkan berbagai hal yang diperlukan oleh masyarakat.

DI tengah kewaspadaan kita terhadap Covid-19, ternyata masih ada saja pergunjingan di dunia maya. Hal ini menyusul pengumuman penerimaan mahasiswa baru oleh Universitas Muhammadiyah Malang. Apa yang salah? Kan cuma pengumuman biasa, bukan?

Uniknya adalah, universitas yang terkenal dengan sebutan Kampus Putih itu membuka jalur pendaftaran mandiri untuk para influencer. Tertulis pada kolom admisi kampus beralmamater warna merah itu bahwa dibuka jalur influencer dengan syarat YouTuber dengan minimal subscribers lima ribu dan Selebgram dengan minimal followers sepuluh ribu.

Hal itu termaktub dalam laman penerimaan mahasiswa baru UMM di sini. Tapi tentu saja ada ketentuan khusus bagi mereka yang memenuhi persyaratan ini, sebab hal ini tak bisa dipakai untuk mendaftar ke Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Kesehatan. Ya keleus bosss masuk kedokteran modal like and subscribes….

Jalur pendaftaran mahasiswa baru yang dipakai UMM ini sebelumnya juga dipakai UPN Veteran Jakarta. Dalam situs seleksi mahasiswa baru UPN Veteran Jakarta ini dijelaskan bahwa salah satu syarat masuk lewat jalur prestasi adalah content creator YouTube dengan subscribers minimal sepuluh ribu. Heyy yo gaessss, gua lagi ospek nih gaeesss, disuruh bawa rak piring ke kampus nih gaesss….

Menilik langkah UMM dan UPN Veteran Jakarta ini, nampaknya bisa jadi akan terjadi distorsi makna dari kata “prestasi” dalam proses seleksi penerimaan mahasiswa baru. Betapa tidak, bayangkan betapa sedihnya Yth. Bapak Marthen Kanginan sang begawan Ilmu Fisika yang namanya begitu masyhur di buku paket Fisika era SMA.

Bagaimana bisa seorang siswa jebolan olimpiade fisika disejajarkan dengan YoutTbers yang isi konten videonya mungkin lebih banyak berisi prank daripada edukasi.

Eh Bang, tapi Deddy Corbuzier kan edukatif?

Eh tong, emang Om Deddy mau ospek lagi? Pala opung kao yang diospek!

Jika dipikir-pikir, nampaknya jalur influencer ini cukup menguntungkan di Indonesia. Pertama, bisa jadi alat pemasaran kampus swasta di media sosial. Biar para artis itu beragam gitu loh, kagak cuma Binus sama LSPR doang. Kan keren, pemerataan artis pada kampus-kampus swasta di Indonesia. Sounds good sluuuur

Kedua, permintaan pasar terhadap sosok influencer juga tinggi. Hal ini dapat dikaji dari betapa banyak produk dari UMKM hingga pabrikan besar yang memakai jasa influencer dalam proses promosinya.

Dan ketiga adalah kebutuhan pemerintah dalam program propaganda. Wuik kok ngeri propaganda?

Bukan bukan, ini bukan soal propaganda kudeta politik, tapi lebih pada memasyarakatkan kebijakan. Hal ini sudah berjalan cukup lama ketika pihak-pihak dari pemerintahan menggaet YouTubers atau Selebgram untuk ikut mengkampanyekan peraturan publik maupun kebijakan publik yang perlu dipahami masyarakat luas.

Dalam hal ini, para influencers laiknya bagian humas dalam kantor-kantor pemerintahan. Nah, ini cocok bagi para calon mertua yang ingin punya menantu PNS. Sudah tenar di media sosial, tambah lagi ada kans untuk bikin konten YouTube pakai batik Korpri. Khanmaen galaknya bah!

Di era digital yang amat mendominasi ini, influencer tak hanya dibutuhkan pada ranah ekonomi pasar atau hiburan saja. Tapi lebih dari itu, nampaknya influencer dianggap berperan penting untuk menularkan berbagai hal yang diperlukan oleh masyarakat.

Entah nanti positif atau negatif, yang penting nular dulu lah ya. Sebab, ada flu di dalam kata influencer, artinya peran mereka ini bisa mewabah. Tapi tentu, yang diharapkan adalah wabah kebaikan dong.

Mungkin beberapa orang bisa masuk kuliah hanya dengan modal subscribers atau jumlah pengikut. Namun sesungguhnya, tugas mahasiswa adalah mengkaji, meneliti, dan menulis laporan penelitian. Meski ketiga hal itu bisa juga dilebur dalam satu konten video YouTube, tapi nampaknya kurang afdal jika tak merasakan merindingnya sidang skripsi. Atau, pusingnya bikin janji dengan dosen yang tiba-tiba sok sibuk saat kita sedang butuh.

Memang muncul jalur influencer ini cukup dicibir karena dianggap kurang relevan dengan kebutuhan ilmiah. Tapi, jika kita sadari lagi, memangnya pendidikan di negeri ini peduli soal ilmu? Toh, justru pendidikan tinggi dibuat untuk menghasilkan pekerja, bukan pemikir.

Jadi, rasanya sah-sah saja, lha wong penghasilan pembuat konten YouTube itu lebih banyak daripada peneliti semenjana di kampus-kampus negeri. Viral adalah urgensi yang mendatangkan cuan, sebab ilmu pengetahuan itu soal lain.

Eh Bang, kan ada tuh konten yang isinya ilmu pengetahuan macam penjelasan Fisika, Sejarah, dan lain-lain? Gak semua konten Youtube itu kan jelek Bang.

Nah, iya juga. Tumben lu bener Tong! Jadi mantap nih kalo ntuh skripsi diganti konten praktik hasil penelitian. Mantep gak tuh?

Sehingga, semoga dengan adanya jalur influencer dalam proses seleksi penerimaan mahasiswa baru ini, kita bisa terhindar dari konten-konten tak tentu arah macam keluarga bledhek dan prank ojol yang isinya naudzubillah itu.


0 Komentar