Membuka 2020 dengan Umpat Benci dan Caci Maki

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Banjir di Jakarta tidak hanya menyusahkan tetapi juga menjadi bahan lelucon (Haluan.co)

Jadi, mau sampai kapan kita banjiri media sosial dengan umpatan dan caci maki atas nama pilihan politik, khususnya di DKI. Sedangkan rumah kita terus kebanjiran. Mari bertanggung jawab bersama-sama dong. 

SELAMAT datang di tahun 2020, kaum sambat Indonesia!

Pagi pertama di dekade baru nampaknya langsung diwarnai berbagai umpatan. Khususnya sobat sambat Jabodetabek yang disambut banjir sehabis hujan semalaman lepas tengah malam. Jakarta dan sekitarnya tumbang atas banjir yang datang. Itu pun masih hujan awal bulan Desember.

Sebab, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprakirakan bahwa puncak musim hujan baru akan tiba antara bulan Maret atau April. Lantas, apakah ini banjir yang sesungguhnya?

Bukan, ini bukan banjir. Kita menyebutnya “antrean air”, atau water queues. Biar gak kelihatan membosankan. Dan edgy

Jadi, dalam semalam saja, ibu kota dan daerah outer DKI seperti Tangerang, Depok, dan Bekasi hingga Bogor terkena musibah meluapnya beberapa sungai besar. Setidaknya ada 13 sungai yang melintasi ibu kota negara itu.

Namun, tentu saja yang paling diperhatikan adalah Sungai Ciliwung. Dan seperti biasa, warganet hampir tak membahas bagaimana morfologi sungai dan kaitannya dengan proses terjadinya banjir. Sebab, ya mereka sedang tak berada dalam ruang kelas mata kuliah Pengantar Hidrologi I.

Justru, pembahasan krusial tetap sama seperti banjir-banjir sebelumnya, yaitu membandingkan AnBas dan Ahoque. Dua tokoh yang laiknya Tom and Jerry-nya Jakarta.

Pertama, pembahasan seputar banjir selalu mengilas balik pidato AnBas saat kampanye Pilgub DKI lalu. Di mana ia menjelaskan bahwa air hujan itu tak boleh dialirkan langsung ke laut. Sebab, menurut kitab suci, air hujan harus diresapkan ke dalam tanah.

Tentu saja hal ini sontak diungkit-ungkit oleh para masyarakat yang kontra dengan AnBas. Meski, secara akademis, saya setuju dengan asumsi AnBas. Sebab dalam ilmu hidrologi memang proses presipitasi (hujan) merupakan awal dari sikulus hidrologi. Dan run-off atau melajunya air pada permukaan tanah harusnya bisa ditekan dan karena itulah kita membutuhkan daerah resapan air. Sayangnya, memang daerah resapan air ini yang kemudian nampak terlupa oleh Yth. Kanda AnBas. Idenya bagus, realisasinya remedi.

Beredar Jokes Anies Harus Dicopot

Kedua, dari banyaknya caci maki kepada Yth. AnBas tentu tak sah jika tidak ada pembandingan antara beliau dan Yth. Ahoque. Ya, perbandingannya adalah soal “tutur kata”. Sebab di bagian itulah keduanya sangat berbeda. AnBas dinilai memiliki tutur kata yang bijak dan indah. Sedangkan nama Ahoque sendiri sudah menjadi padanan kata dari “mulut comberan”.

Saling serang juga terjadi dalam membandingkan proses kerja normalisasi Kali Ciliwung yang menurut Menteri PUPR adalah sepanjang 33 kilometer. Sedangkan, yang sudah tergarap baru 17 kilometer. Pun, masih ditambah caci maki terhadap AnBas yang dinilai tak secerdas dan setangkas Ahoque dalam menangani banjir. Padahal kan, dari era Jokowi jadi gubernur sampai sekarang juga masih banjir. Hanya saja, kebetulan daerah-daerah yang tak pernah kena banjir seperti Menteng, baru kenalan dengan banjir ya di masa Yth. AnBas.

Ketiga, perasaan tak terima atas datangnya banjir di awal tahun menjadi sumber konten bagi Sobat Gabut Jabodetabek. Mungkin, golongan ini sudah lelah saling mencaci dan mengumpat. Atau sudah bosan saja dengan pemaksaan korelasi banjir dan hasil Pilgub DKI 2017. “Omong kosong politik! Kampung gua kebanjiran bangke!”, mungkin begitu ujar mereka yang bosan dengan banalitas polarisasi politik di DKI.

Alhasil, muncul beberapa video gabut seperti memancing di jalanan depan rumah yang berubah jadi sungai. Memancing ikan gabus dari atas kasur di dalam rumah. Hingga mewawancarai tikus yang kebetulan menjadi penyintas banjir. Ya, Anda bisa dengan mudah menemukan video-video singkat penuh makna ini di jagad shitposting baik di Facebook maupun Twitter.

Nah, lantas kenapa sih bos-bosque ini masih gemar sekali ngatain orang? Ya oke memang siapa pun pemimpinnya memang harus dikritik agar ada perubahan dan kemajuan. Tapi, ya kalau kritiknya musiman dan hanya karena dalih tak suka, tidak etislah ya.

Padahal, ada pilihan lain lho untuk mengatasi banjir menahun di Jakarta dan sekitarnya ini. Salah satunya adalah integrasi warga. Bagaimana itu? Ya dari satuan terkecil warga, seperti rukun tetangga (RT) bisa menginisiasi adanya pengerukan selokan atau pembersihan selokan dari sampah sebelum musim hujan tiba.

Atau, menata kampung dengan menambahkan tanaman-tanaman sederhana. Atau, minimal kalau kurang kreatif, ya tidak usah bacot membandingkan ini dengan itu. Cukup, tidak buang bungkus deterjen atau plastik cilok ke sungai. Pasti susah kan? Ya mau dikata apa, pendidikan kita masih jauh dari kesadaran bertanggung jawab.

Jadi, mau sampai kapan kita banjiri media sosial dengan umpatan dan caci maki atas nama pilihan politik, khususnya di DKI. Sedangkan rumah kita terus kebanjiran. Mari bertanggung jawab bersama-sama dong.

Atau, agar impas dan berimbang, begini saja, kita hitung saja tiap satu umpatan pada gubernur ada satu sampah yang kita pungut dari sungai atau jalanan. Ah terlalu susah sepertinya, begini saja, boleh mengumpat tapi sambil kerja bakti bebersih selokan di sekitar rumah. Masih susah?

Ya, memang di mana-mana menyalahkan lebih mudah daripada bertindak. Memaki lebih mudah daripada mencari solusi. Mau gubernurnya siapa pun kalau tasa benci sudah mendarah daging ya agak susah sih. Atau begini saja, nanti tahun 2022 kita usung saja Yth. AnBas dan Yth. Ahoque jadi pasangan dalam Pilgub DKI. Tugasnya satu, menahan laju banjir caci-maki antarwarga DKI dan sekitarnya.

Lho Mas, ini kok banjir di Bekasi, Depok, dan Tangerang tidak dibahas?

Waduh, setahu saya, kita tidak sedang membahas tentang ilmu astronomi.


Penulis: Algonz Dimas B. Raharja


0 Komentar