Mendengar dan Melukis Surabaya Melalui Lagu-lagu Silampukau
Jalanan Surabaya berbaur antara yang sakral, profran, rindu dan cinta. (Ilustrasi: Haluan.co)

Memang, tidak semua lagu Silampukau akan saya bahas di sini. Karena sisanya biar Anda sendiri yang mendengar. Album “Dosa, Kota, dan Kenangan” adalah satu-satunya album musik yang saya beli dengan uang sendiri, tanpa gratisan promo ayam goreng, relasi teman, atau hadiah ulang tahun.

TIDAK ada kata terlambat untuk membahas kesenian di Surabaya. Karena kita semua tahu, seni dan Surabaya memiliki hubungan yang cukup kering di dua dekade belakangan. Dan tentu, tidak ada kata terlambat untuk membahas kelompok folk semi keroncong terbitan Surabaya, Silampukau.

Kelompok ini pertama berdiri tahun 2008, hingga mengeluarkan sebuah entitas pendek berjudul “Sementara Ini” pada tahun 2009, tahun terakhir saya duduk di bangku sekolah menengah pertama. Apa yang Anda bayangkan ketika musik folk muncul di Surabaya pada tahun-tahun itu? Sedangkan di kalangan remaja bisa dibilang tahun-tahun itu adalah tahun berbahaya bagi selera musik, karena diracuni oleh banyaknya acara musik pagi yang yo wes lah kon ngerti maksudku rek.

Bahkan, seingat saya, saat itu Surabaya masih diperkuat beberapa kelompok musik berat macam Devadata, Blingsatan dan lainnya.

Tapi, Silampukau berani lahir di masa itu, meski vakum sampai setengah dasawarsa berikutnya. Hingga, tahun 2015 mereka muncul kembali dengan album utuh bertajuk “Dosa, Kota, dan Kenangan”, sebuah persembahan khusus untuk Kota Surabaya. Dari saat itu, burung kepodang (Mly: Silampukau) itu kian serta dalam setiap kerinduan terhadap Surabaya.

Silampukau adalah persatuan dua ide utama, dari Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening. Kharis, adalah seorang lulusan Sastra Indonesia, maka hal itu tergambar dari lirik-lirik magis yang dibuatnya. Sedangkan Eki, seorang lulusan Psikologi, yang sedikit banyak membawa kita secara pikiran, untuk masuk ke dalam lagu-lagu mereka. Coba dengarkan lagu mereka yang berjudul “Malam Jatuh di Surabaya”.

“… gelanggang ganas 5.15 di Ahmad Yani yang beringas. Sinar kuning merkuri, pendar celaka akhir hari, malam jatuh di Surabaya. Maghrib mengambang, lirih dan terabaikan, Tuhan kalah di riuh jalan. Orkes jahanam, mesin, dan umpatan, malam jatuh di Surabaya”

Pertama kali mendengar lagu ini, yang tergambar dalam benak saya adalah keruwetan jalan A.Yani baik ke arah Waru atau dari arah Cito. Kebetulan, saya pernah ber-KTP Wonocolo dan tinggal di nJemursari, maka pemandangan tiap sore saat hendak berbelok di Taman Pelangi, selalu akrab dengan berbagai bebunyian, dari suara klakson dan suara pisuhan.

Silampukau berhasil melukis memori-memori itu saat orang-orang yang memiliki kenangan soal jalanan laknat itu sudah tak lagi tinggal di Surabaya, tapi memorinya tetap tinggal serta. Bayangkan saja, frasa “Tuhan kalah di riuh jalan”, hal ini benar adanya. Bagaimana suara umpatan, klakson, hingga azan maghrib menjadi satu perpaduan antara sakral dan profan dalam satu ruas jalan.

Tidak hanya sudut jalanan, Silampukau juga memasuki gang-gang kecil di kawasan nJarak. Melalui lagunya “Si Pelanggan”, Silampukau mampu membawa memori tentang Dolly, sebuah lokalisasi yang pernah didaulat menjadi yang terbesar di Asia Tenggara, made in Putat Jaya.

Generasi mendatang mungkin hanya akan melihat Don Dong Pub & Karaoke sebagai bangunan, tapi tidak dengan apa yang ada di sekitar tempat itu sekian tahun yang lalu. Tapi Silampukau, mampu mendokumentasikan Dolly dengan sedemikian elegan. Coba kita melihat lukisan itu dalam lirik berikut.

“Dolly, yang menyala-nyala di puncak kota, yang sembunyi di sudut jalan jiwa pria Surabaya. Dulu, di temaram jambon gang sempit itu, aku mursal masuk-keluar dan utuh, sebagai lelaki

… Dolly, suaka bagi hati yang terluka oleh cinta, oleh seluruh nelangsa hidup yang celaka. Dolly, tempat mentari sengaja ditunda, di mana cinta tak musti merana dan banyak biaya

… di dasar kerat-kerat bir yang kutenggak dalam kafir. Di ujung ceracau malam yang lingsir. di dengung hambar aspal yang terus bergulir, di lubang-lubang nyinyir ranjang matrimoni, kupertanyakan nasibmu Dolly, oh Dolly”

Sengaja, hampir semua lirik saya sertakan, karena dalam setiap baitnya menyublim beberapa gambaran tentang Dolly yang tak bisa serta-merta hilang dari ingatan.

Silampukau mampu mengambil sudut pandang lain soal Dolly. Melihat dari perspektif pria Surabaya yang bermasalah dalam hubungan perkawinannya melalui frasa “di lubang-lubang nyinyir ranjang matrimoni” adalah secuil gambaran betapa hubungan matrimonial atau perkawinan tidak selamanya berjalan indah dan lancar tentunya.

Sedangkan dalam frasa “di mana cinta tak mesti merana dan banyak biaya” saya kira hal ini ditujukan pada pria Surabaya yang belum menikah dan sedang menjalin hubungan hingga kalut memperhitungkan biaya pernikahan, padahal biaya pacaran saja sudah menggerus dompet.

Maka dari itu, Dolly menjadi pelarian pada masanya, di mana cinta tak butuh banyak biaya, dan bertele-tele. Tidak semua frasa hendak saya selami, karena memang disisakan untuk orang-orang yang punya memori begitu dalam terhadap Dolly saja.

Selain kedua tempat tadi, Silampukau juga mampu menggambarkan Taman Remaja Surabaya. Melalui lagu “Bianglala”, Silampukau mampu melukis bagaimana masyarakat menengah ke bawah menjadikan Bianglala sebagai tempat berlibur yang murah.

Selain itu, para remaja tanggung juga kerap menjadikan tempat ini sebagai “lahan basah” atau boso aluse iku “Berkebun”. Sedangkan, lagu “Bola Raya” sedemikian rupa ditulis seolah-olah untuk menggambarkan kerentanan anak-anak Surabaya yang dulu kerap bermain bola di lapangan kampung atau lahan kosong di sudut-sudut kampung, terpaksa harus beralih ke jalan raya dan bergawang sandal. Hal itu tentu saja menggambarkan bagaimana pembangunan di Surabaya yang mau tak mau menggilas lahan bermain anak-anak yang dulu bisa dinikmati secara gratisan, beralarmkan suara azan maghrib.

BACA JUGA: Jalan Raya Tempat Kita Melihat Kualitas Pendidikan di Indonesia

Kini, lahan-lahan itu sudah menjadi gedung tinggi, dan bermain bola pun tak bisa seluwes dahulu, anak-anak harus menyewa lapangan futsal atau bagi yang berduit bisa masuk sekolah sepak bola, sedang yang tak bisa keduanya, hanya bisa menikmati bakat bermain bolanya, hingga hilang ditelan zaman.

Dan, yang utama dan terutama. Surabaya tidak akan bisa hilang dalam benak mereka yang pergi atau berpisah di kota ini. Bahkan konon, logat Suroboyoan iku ngak bakal ilang, mbok atene kon urip nang Uganda kono. Untuk perpisahan ini, Silampukau menulis lagu “Puan Kelana” yang berisi tentang perpisahan dua pemuda-pemudi, sepertinya keduanya anak sastra. Sang Pemudi itu hendak pergi ke Prancis untuk melanjutkan studi, sedangkan Sang Pemuda hanya bisa meratapi kepergian itu sambil membuat pledoi bahwa Paris dan Surabaya tidak ada bedanya.

“… kita tak pernah suka air mata. Berangkatlah sendiri ke Juanda. Tiap kali langit meremang jingga, aku ‘kan merindukanmu. Ah, kau Puan Kelana mengapa musti ke sana? Jauh-jauh Puan kembara, sedang dunia punya luka yang sama. Mari, Puan Kelana, jangan tinggalkan hamba. Toh, hujan sama menakjubkannya, di Paris atau di tiap sudut Surabaya. Mari, Puan Kelana, jangan tinggalkan hamba. Toh, anggur sama memabukkannya, entah Merlot entah Cap Orang Tua. Aih, Puan Kelana, mengapa musti ke sana? Paris pun penuh mara bahaya dan duka nestapa, seperti Surabaya”

Lirik di atas berisi pembelaan Sang Pemuda yang tidak rela ditinggalkan. Di mana dia tak suka air mata dan memilih untuk tidak mengantar kepergian kekasihnya dari Bandara Juanda. Sang Pemuda merajuk kekasihnya, sebab baginya tidak ada perbedaan antara Paris dan Surabaya, semua sama saja, baik menakjubkannya hujan, memabukkannya anggur, hingga marabahaya dan duka nestapa. Seolah, Sang Pemuda hendak berkata bahwa tidak usahlah ada kepergian, karena semua kota di dunia itu sama saja, dan tentu beratnya kerinduan akan sebuah kepergian juga sama saja di dunia ini.

Memang, tidak semua lagu Silampukau akan saya bahas di sini. Karena sisanya biar Anda sendiri yang mendengar. Album “Dosa, Kota, dan Kenangan” adalah satu-satunya album musik yang saya beli dengan uang sendiri, tanpa gratisan promo ayam goreng, relasi teman, atau hadiah ulang tahun.

Lantas, album ini pula yang membuat saya kembali berkunjung ke Surabaya setelah lulus kuliah, meski sudah tidak ada sesiapa lagi di sana. Suasananya sudah banyak berubah sejak terakhir kali tinggal di sana tujuh tahun sebelumnya.

Turun di Gubeng, berjalan tengah malam menuju depan Monkasel dan duduk di bangku-bangku tepian trotoar, sambil mendengarkan kembali lagu-lagu Silampukau. Jika bicara Jogja, Bandung, Jakarta, dan kota-kota besar lain kita seringkali masih bisa melukiskannya. Entah lewat berita, musik, cerita, hingga latar sinetron. Tapi, di Surabaya, segala umpatan kemacetan dan memori saling berpeluk menjadi satu. Ia lantas menjadi jemu dan rindu dalam satu waktu.


Penulis: Algonz Dimas B. Raharja