Mengapa Antrean Anda Dipotong di Instalasi Gawat Darurat?

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Antrean di Instalasi Gawat Darurat (Sumber: Freepik)

Instalasi Gawat Darurat (IGD) atau Unit Gawat Darurat (UGD) merupakan sebuah tempat di mana pasien-pasien dengan kondisi kritis perlu ditangani segera sebelum mengancam jiwa mereka. Namun, tidak jarang ada beberapa pasien yang diprioritaskan terlebih dahulu. Seberapa banyak dari Anda yang pernah mengunjungi Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan sudah mengantre namun malah “diserobot” antreannya oleh pasien lain?

Dilansir dari Time, sebanyak 1 dari 5 orang Amerika Serikat pernah mengunjungi IGD setiap tahunnya. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengeluarkan data pada tahun 2017 yang menyatakan bahwa sebanyak 139 juta orang mengunjungi IGD di mana sebanyak 40 juta orang mengunjungi IGD akibat kecelakaan.

Terdapat tiga alasan mengapa Anda tidak ditangani terlebih dahulu walau Anda datang terlebih dahulu ke IGD. Alasan yang pertama adalah kemungkinan besar penyakit Anda tidak begitu parah dibandingkan dengan pasien lain. Para tenaga medis mengerti bahwa mungkin Anda memiliki persepsi yang berbeda mengenai penyakit yang parah seperti batuk terus-menerus dengan kencang. Namun, terdapat sistem triase yang akan dijelaskan di bawah yang digunakan sebagai acuan para dokter.

Alasan yang kedua adalah kaidah bioetika yang perlu dianut oleh dokter-dokter, terutama kaidah non-maleficence. Bioetika merupakan nilai-nilai moral yang perlu dianut oleh tenaga medis baik secara klinis maupun dalam penelitian. Terdapat 4 kaidah bioetika namun yang perlu ditekankan dalam artikel ini adalah kaidah non-maleficence yang berarti “tidak melakukan hal yang membahayakan untuk pasien”. Atas dasar ini lah para dokter menolong pasien yang lebih berbahaya terlebih dahulu karena apabila tenaga klinis menolong pasien yang relatif tergolong stabil dibandingkan dengan pasien perdarahan hebat, maka tenaga klinis tersebut sudah dapat dikatakan melanggar kaidah bioetika non-maleficence ini.

Alasan ketiga merupakan alasan utama yaitu sistem triase. Sistem ini didefinisikan sebagai pengkategorian sebuah penyakit atau luka berdasarkan derajat urgensi untuk menentukan urutan pengobatan pada situasi di mana terdapat banyak pasien atau korban.

Terdapat beberapa sistem klasifikasi triase tergantung yang standar operasional protokol (SOP) dari setiap rumah sakit namun sistem triase yang dasar dibagi menjadi tiga yaitu klasifikasi resiko rendah (hijau), resiko menengah (kuning), resiko sangat tinggi (merah).

Resiko rendah atau dilambangkan dengan warna hijau merupakan pasien-pasien yang mendapatkan prioritas terakhir pada IGD dikarenakan pengobatan dapat ditunda tanpa menimbulkan efek samping yang berarti. Contoh pasien-pasien pada kategori ini adalah pasien dengan sakit kepala kronis, gejala selesma, keseleo, dan ruam-ruam yang tidak disebabkan oleh sesuatu yang berbahaya.

Resiko sedang yang dilambangkan dengan warna kuning merupakan untuk pasien-pasien yang memerlukan perhatian segera atau urgent di mana pasien dalam kategori ini memerlukan penanganan segera namun tidak akan mengakibatkan kehilangan nyawa atau anggota gerak apabila tidak ditangani dalam beberapa jam. Contohnya adalah nyeri perut, sakit dada yang bukan disebabkan oleh penyakit jantung, fraktur multipel, laserasi dan nyeri akibat batu ginjal.

Mari Mengenal Asma

Resiko tinggi merupakan pasien-pasien yang biasanya membutuhkan perhatian segera karena statusnya yang gawat darurat atau emergent di mana perhatian dibutuhkan segera atau bila tidak dapat mengakibatkan kehilangan nyawa. Contohnya adalah henti jantung dan nafas, sesak nafas berat, luka bakar berat, trauma mayor, perdarahan masif yang tidak berhenti, koma, dan kejang yang tidak berhenti.

Para klinisi tentu saja ingin melakukan yang terbaik bagi Anda namun disaat yang bersamaan dalam situasi IGD di mana setiap detik sangat berarti untuk menyelamatkan nyawa, terdapat prioritas yang perlu dilaksanakan untuk memastikan segala hal yang terbaik dapat dilakukan.

Penulis : Gilbert Sterling Octavius

Instagram : @NeuronChannel; @gilbertsterling

Youtube : Neuron Channel


0 Komentar