Mengapa Harus Takut Virus Korona? Pemerintah Seharusnya Subsidi Rempah

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Virus corona membuat warga panik dan tidak rasional (Ilustrasi: Haluan)

Lagi-lagi kita tidak bisa mengatakan seberapa berbahaya virus corona ini hanya dari angka statistika yang kita dapatkan.

KITA sudah pernah dihebohkan dengan keberadaan penyakit SARS, Flu Burung, MERS dan Ebola, tapi saat berita soal virus korona baru (Covid-19) memasuki kota, kita mulai tindakan antisipasi berlebihan seakan seisi kota telah diinvasi oleh zombie.

Saat rasa takut dan panik menguasi kita, sadar atau tidak sadar, akal sehat kita akan tertinggal di belakang. Orang akan rela berebut masker dan obat-obatan, mereka langsung mengunjungi dokter saat merasa badan mereka sedikit saja terasa tidak sehat.

Tidak tercela, tapi kita malah merampas hak untuk seseorang yang seharusnya lebih prioritas untuk mendapatkannya. Masyarakat perlu mengerti terlebih dahulu apa yang sedang mereka hadapi ketimbang hanya mendengar bagian terburuknya dan menjadi begitu panik.

Virus korona bukan pertama kali ditemukan baru-baru ini. Baik MERS maupun SARS, keduanya merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus korona. Virus ini ditularkan dari hewan ke manusia. Covid-19 merupakan jenis virus corona terbaru yang mungkin telah bermutasi.



Virus ini dianggap ditularkan dari kelelawar ke manusia karena virus pada manusia ditemukan memiliki banyak kesamaan secara genetik dengan virus korona di kelelawar. Beberapa peneliti juga mengatakan bahwa ada kemungkinan terjadi kombinasi antara virus korona pada kelelawar dan virus korona pada trenggiling, yang juga banyak digunakan sebagai obat tradisional di Cina, menghasilkan strain virus yang dapat menginfeksi manusia.Menurut beberapa ilmuwan, virus korona mungkin lebih berbahaya dari virus SARS karena telah menyebar lebih dari 28.000 orang hanya dalam beberaap minggu. Nyatanya, menurut para dokter di Singapura, yang saat ini sudah ditemukan lebih dari 80 kasus di sana, mengatakan bahwa penyakit ini tidak jauh lebih mematikan dibandingkan SARS.

Hingga kemarin, ada lebih dari 90.000 kasus virus korona dan 4.000 lebih diantaranya mengalami kematian. Dari total 4.000 tersebut, kebanyakannya adalah warga Wuhan.

Infeksi virus korona mungkin tidak separah dan semenakutkan yang kita bayangkan, hanya saja penderita bisa menjadi cukup sakit. Beberapa orang mungkin telah terinfeksi tetapi karena gejala awal yang mirip dengan flu dan waktu penyembuhan dari tubuh mereka lebih cepat, mereka tidak perlu repot-repot mendatangi rumah sakit.



Lagi-lagi kita tidak bisa mengatakan seberapa berbahaya virus ini hanya dari angka statistika yang kita dapatkan - Karimah Bachmid

Virus korona menyerang orang-orang yang memiliki sistem imun lemah, seperti pada orang tua dan orang-orang yang telah memiliki riwayat penyakit sebelumnya. Untuk anak-anak mungkin tak perlu terlalu dikhawatirkan. Menurut data dari China yang dilampirkan oleh BBC Inggris, virus korona yang menyerang anak-anak hanya menunjukan gejala ringan bahkan tidak ada.

Lagi-lagi kita tidak bisa mengatakan seberapa berbahaya virus ini hanya dari angka statistika yang kita dapatkan. Pemerintah bisa mulai berhenti untuk hanya memberikan kabar berapa orang yang sudah terserang. Dibanding hanya terpusat pada itu, pemerintah bisa beralih ke strategi mitigasi seperti yang sudah dilakukan di Inggris.

Strategi ini berjalan dengan menyehatkan masyarakat mengingat arus penyebarannya yang cepat. Misalnya saja, subsidi rempah-rempah yang sekarang harganya sedang melonjak di mana-mana.

Boleh waspada tetapi jangan panik berlebihan. Hal ini dapat mengunci akal sehat kita, membuat kita melakukan hal-hal yang tidak perlu, bahkan pada tahapan terburuknya, mendatangkan penyakit yang sebenarnya tidak ada. Semoga kita selalu sehat dalam segala keadaan.


Penulis: Karimah Bachmid


0 Komentar