Mengapa Jokowi Tak Berani Turunkan Harga BBM?

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Ilustrasi SPBU Pertamina. (FOTO: Haluan.co/Fajar AM)

JAKARTA, HALUAN.CO - Harga minyak mentah dunia terus melemah seiring turunnya permintaan dunia akibat pandemi virus corona atau COVID-19. Ditambah lagi, adanya perang dagang yang dilakukan Rusia dan Arab Saudi. Anjloknya minyak mentah dunia itu diikuti dengan turunnya harga-harga bahan bakar minyak di berbagai dunia. Bahkan, di Amerika Serikat sudah terjadi perang harga. 

Dilansir dari The Drive, harga bensin regular beroktan 87 dibanderol dengan harga US$0,62 (Rp9.797) per gallon (3,8 liter). Artinya, jika dihitung per liter maka bensin itu hanya dihargai sekitar Rp2.578 per 1,26 liter. Jauh dari harga yang ada di Indonesia. Di Indonesia sendiri, BBM dengan oktan 88 yakni premium masih dihargai Rp6.550

Meski minyak dunia anjlok, pemerintah hingga kini belum juga mengambil sikap soal harga BBM. Padahal, berbagai negara di dunia, termasuk di ASEAN, ramai-ramai menurunkan harga BBM di negaranya.

Mengapa ini penting:

  • Pemerintah Indonesia mestinya mengikuti komitmen harga minyak dunia dengan menurunkan harga BBM. Apalagi, negara-negara lain di dunia sudah menurunkan harga BBM di negaranya, termasuk negara-negara ASEAN. Bahkan, harga BBM di Malaysia untuk Ron 95 atau setara Pertamax adalah 1,25 Ringgit, atau Rp4.500 per liter.
  • Pemerintah harus mengalkulasi secara tepat dampak dari penurunan harga minyak di tengah pandemi virus corona atau COVID-19. Dalam posisi yang normal saja (tidak ada corona) sudah berdampak terhadap pendapatan negara bukan pajak. Namun mestinya harga BBM disesuaikan dengan minyak mentah dunia karena memengaruhi biaya di sektor-sektor lain.

"Ini juga akan memberi dampak bagus juga kepada sektor-sektor lain kalau harga (BBM) diturunkan," kata anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Sartono Hutomo, kepada Haluan.co, Kamis (16/4/2020).

Konteks:

  • Harga minyak dunia anjlok seiring turunnya permintaan akibat pandemi virus corona atau COVID-19. Ditambah lagi, adanya perang dagang yang dilakukan Rusia dan Arab Saudi. Dilansir dari Antara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei, turun 0,24 dolar AS atau 1,19 persen, menjadi menetap pada 19,87 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. WTI mencatatkan penutupan terendah sejak Februari 2002.
  • Sementara minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni, turun 1,91 dolar AS atau 6,45 persen menjadi ditutup pada 27,69 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange. Permintaan minyak global diperkirakan akan turun dengan rekor 9,3 juta barel per hari (bph) secara tahun ke tahun pada 2020.
  • Harga jual BBM Non Subsidi Pertamina di SPBU saat ini adalah Pertamax Turbo (RON 98) Rp9.850/liter, Pertamax (RON 92) Rp9.000/liter, Pertalite (RON 90) Rp7.650/liter, Pertamina Dex (CEN 53) Rp10.200/liter, Dexlite (CEN 51) Rp9.500/liter.

Analisa penyebab BBM di Indonesia belum juga turun:

  • Pemerintah tidak paham strategi menghadapi masalah ini sehingga tidak bisa mengambil tindakan yang penting dan efektif untuk membenahi struktur ekonomi di bawah. Struktur biaya dan lain-lain mestinya bisa dikurangi sekarang agar bisa bergairah kembali dan berproduksi kembali.
  • Ada kemungkinan sekarang ini menjadi modus untuk menghapus utang pemerintah di Pertamina terkait selisih harga. Ketika harga BBM masih di atas asumsi APBN, pemerintah banyak utang ke Pertamina; utang subdisi, utang BBM penugasan, utang BBM satu harga. Maka di saat penurunan harga minyak dunia, pemerintah tidak mau mengubah kebijakan mereka.
  • Kemungkinan lain adalah formula BBM-nya belum mau dirumuskan karena pemerintah masih mengharap pajak-pajak dari barang impor ini, seperti Pertamax. Walaupun harga impornya turun, tapi formulanya tidak mau diubah.
  • Asumsi lain, adanya dugaan beberapa pihak pengambil kebijakan bahwa harga minyak mentah akan naik lagi, sehingga mereka takut menaikkan harga kalau sudah diturunkan.

"Kalau hitungan saya itu (harga BBM) mestinya bisa turun antara 20-30 persen ya. Misalnya yang harganya Rp6000 bisa turun ke harga menjadi Rp4500-5000. Kalau yang Rp9000 seperti Pertamax itu bisa turun menjadi Rp6000, turun Rp3000. Harusnya bisa begitu," kata Direktur Eksekutif Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Salamuddin Daeng, kepada Haluan.co.

COVID-19 di Tangan Pemimpin Perempuan

Ojek online dapat diskon 50 persen:

Sartono Hutomo: Pertamina harus melakukan kajian yang komprehensif, termasuk melibatkan seluruh elemen terkait, agar tidak ada tumpang tindih kebijakan. Harapannya saat kebijakan itu direalisasikan tidak menimbulkan efek kesenjangan, karena ini terkait dengan keberpihakan kepada masyarakat miskin. Maka harusnya tidak hanya ojol yang mendapatkan cashback tersebut. Tapi ojek pangkalan, supir angkot dan lain-lain.

"Belum lagi menjadi aneh, karena peraturan pemerintah terkait ojol masih maju mundur, kita belum tahu bagaimana skema retribusi dari ojol ini. Maka ada baiknya supaya tidak ada kecemburuan sosial. Dibicarakan secara seksama dulu," kata Sartono.

Salamuddin Daeng: Mestinya pemerintah memikirkan sektor transportasi secara keseluruhan, tidak hanya ojek online. Sektor transportasi secara keseluruhan harus didukung dalam rangka mobilisasi barang-barang dari kampung-kampung, dari petani-petani, itu bagus sekarang mengambil momentumnya. Salah satu instrumennya energi BBM dan solar termasuk UKM-UKM bisa digerakkan dengan instrumen yang namanya harga bahan bakar gas LPG.

"Jadi pemerintah harus menggunakan akal pikiran yang paling bagus melihat keadaan sekarang. Jangan terpengaruh oleh analisis-analisis global tentang resesi keuangan dan lain sebagainya. Kita fokus melihat ekonomi nasional kita," ujar Salamuddin.

Penulis: Tio Pirnando


0 Komentar