Mengapa Masih Banyak Orang Bebal Saat Berduka?

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Duka harusnya jadi ajang kepedulian. (Ilustrasi: Haluan.co)

-

AA

+

Mengapa Masih Banyak Orang Bebal Saat Berduka?

Overview | Jakarta

Jumat, 10 April 2020 10:24 WIB


Mengapa susah sekali peduli dengan kesedihan orang lain?

PAGI ini Aku bangun dengan duka. Seseorang yang kamu sayang atau kagumi meninggal. Kamu berdoa, kamu berharap mereka baik-baik saja, dan ini cuma mimpi. Tapi kematian selalu nyata dan kehilangan selalu perih. Di media sosial kamu membagi duka, menyematkan kepedulian, dan menuliskan doa yang kamu percaya akan membawa kebaikan. Lalu orang-orang berkomentar;

"Ngga akan sampai, kan orangnya beda agama"

"Lho emang dia agamanya itu?"

Mengapa orang bisa demikian getir merespon duka? Bukankah kehilangan sama apapun agama kita? Mengapa kita tak pernah belajar bahwa di luar keyakinan akan adanya iman, kemanusiaan adalah yang paling menjelaskan keberadaan nurani? Aku berpikir bahwa mungkin setiap dari kita punya cara berbeda dalam merespon kehilangan. Ada yang berdoa, ada yang menangis, ada yang marah, dan ada yang diam. Tapi Aku tak pernah mengira ada yang merespon duka dengan merendahkan doa orang lain.

Orang-orang ini mengira Tuhan hanya milik satu kaum dan berdoa hanya dengan satu cara.

Mereka mengira menjaga kemurnian adalah cara paling mustajab dalam berdoa. Maka siapapun yang bukan kelompok mereka, doa tidak terdengar, terpental atau bahkan dibiarkan Tuhan. Aku tak mengerti mengapa kepedulian harus diukur dari sama atau tidak keyakinan kita?

Aku tidak paham, mengapa kepedulian harus didasari oleh iman yang sama. Apakah kita tak bisa mengerti bahwa kepedulian semestinya berasal dari kemanusiaan, rasa empati terhadap sesama manusia. 2020 menghadirkan banyak duka. Mulai dari kematian Kobe Bryant, Ashraf Sinclair, sampai Glenn Fredly. Bagi banyak orang mereka adalah bintang, tapi bagi beberapa orang mereka adalah inspirasi, keluarga, teman, sahabat dan seseorang yang dekat.

Selamat Jalan Glenn Fredly

Dalam buku menarik yang ditulis oleh Paul Bloom berjudul Againts Empathy. Bloom berargumen bahwa empati kadang bisa jadi parasit yang membuat kita gagal memahami kemanusiaan. Empati menurutnya adalah kemampuan untuk merasakan perasaan orang lain. Seperti, jika kamu berduka, maka aku akan ikut berduka. Jika kamu bersedih, maka aku akan ikut bersedih. Bloom menganjurkan orang untuk meninggalkan gagasan ini.

Menurut Bloom, empati adalah perasaan yang kompleks dan kadang orang-orang tak bisa ikut merasakan penderitaan orang lain. Maka ia menganjurkan kita bersikap welas asih daripada berempati. “Sikap welas asih memberi kita beban kepedulian. Aku menghargainya. Aku peduli padamu, tapi aku tak harus merasakan apa yang kamu alami,” kata Bloom.

Ini membuatku berpikir. Benarkah kita tak perlu memiliki empati? Bukankah empati adalah perasaan paling penting yang semestinya dimiliki manusia? Aku berduka saat Glenn Fredly meninggal bukan karena aku dekat atau menjadi kerabatnya, tapi karena aku bisa merasakan kehilangan. Aku pernah kehilangan dan kematian adalah kehilangan paling menyakitkan.

View this post on Instagram

Musisi Indonesia Glenn Fredly Deviano Latuihamallo, atau lebih dikenal sebagai Glenn Fredly, kelahiran Jakarta, 44 tahun lalu dikenal publik sebagai vokalis grup musik Funk Section di tahun 1995. Setahun setelahnya, single “Yang Pertama” dari Funk Section sempat berkibar di kancah permusikan tanah air.⁣ ⁣ Funk Section sendiri terbentuk dari beberapa dedengkot musik jazz era itu. Inang Noorsaid dan Mus Mujiono adalah dua orang di balik terbentuknya grup dengan genre funk-jazz ini. Dengan formasi Inang pada drum, Mus Mujiono pada Gitar, dua kibordis Ekka Bakti-Irfan Chasmala, dan basis Yance Manusama, Glenn dengan ciri khas vokalnya mampu membius blantika musik Indonesia di akhir 90-an.⁣ ⁣ Lagu Pantai Cinta menjadi salah satu lagu sendu dengan ketenangan yang menghanyutkan dalam album Funk Section. Dari sini kemudian Glenn dikenal sebagai penyanyi dengan cengkok vokal jazzy, soul, dan tentu RnB.⁣ ⁣ ⁣ Follow @haluandotco | @haluantv | @totalpolitik_ | @teknologi_id | @row.id | | @neuronchannel | @hipotesamedia⁣ ⁣ ⁣ #haluanmediagroup #beritadunia #beritahariini #haluandotco #haluan #infoupdate #viral #lagiviral #trendingtopic #trending #infotrending #infoterkini #heboh

A post shared by Haluan Media (@haluandotco) on

Bloom membuat argumen penting mengapa empati kadang bias terhadap latar belakang kehidupan seseorang. Kita bisa mudah berempati atau peduli pada mereka yang terkenal, lebih ganteng, lebih cakep, punya kedekatan personal, atau sosok yang menarik menurut kita. Di sisi lain, kepada mereka yang jauh, jelek, tidak kenal, atau bukan dari kelompok kita. Sikap bias ini membuat empati menjadi sesuatu yang sangat berbahaya.

Pagi ini aku bangun dengan mengira Tuhanku maha pengasih dan maha pemurah. Seperti rasulku yang berdiri memberi hormat saat pemakaman orang Yahudi, kukira kematian bagi siapapun adalah kehilangan yang perih. Doa adalah bentuk kepedulian. Aku tak tahu mereka menyembah tuhan yang macam apa. Tapi aku percaya Tuhanku memberi maha mencintai dan maha mengasihi. Al Fatihah.


0 Komentar