Mengenal Budidaya Kina, Obat yang Diyakini Mengatasi Corona

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Kina, Tanaman Obat Yang Diyakini Mampu Atasi Corona

Kina sebetulnya juga pernah digunakan pemerintah kolonial untuk memberantas penyakit. Tak hanya itu, kina bahkan dijadikan “ladang” untuk mencari untung.

MEREBAKNYA wabah corona di Indonesia yang setidaknya telah menginfeksi 579 orang per 22 Maret 2020 ini membuat pemerintah mencari obat penangkal virus Covid-19 itu.

Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa pemerintah sudah memesan obat untuk pasien Covid-19 yang berasal dari Negeri Tirai Bambu. Kata Presiden bakal ada dua jenis obat yang bakal didatangkan.

Obat tersebut, klaimnya, berasal dari riset dan pengalaman sejumlah negara yang terinfeksi corona. “Akan sampai kepada pasien yang membutuhkan melalui dokter keliling dari rumah ke rumah, melalui rumah sakit, dan puskesmas di kawasan yang terinfeksi,” kata Jokowi, sapaan akrabnya, dilansir Koran Tempo (21/3/2020).

Dua obat itu diklaim efektif dalam mengobati pasien terjangkit karena virus corona. Avigan atau favipiravir merupakan obat antivirus yang dikembangkan Toyama Chemical of Japan dengan aktivitas melawan banyak virus ribonucleic acid (RNA).

Pada Februari 2020, obat tersebut digunakan di China untuk percobaan pengobatan penyakit Covid-19 yang merebak di Kota Wuhan.

Secara medis, obat ini selain mampu melumpuhkan virus corona, juga mampu melawan virus influenza, virus West Nile, virus demam kuning, virus penyakit kaki-dan-mulut, serta virus flavivirus, arenavirus, bunyavirus, dan alphavirus lainnya.

Pemerintah mendatangkan obat avigan sebanyak 2 juta obat. Akan tetapi, pemerintah lebih banyak membeli obat klorokuin daripada avigan, yakni sebesar 3 juta obat.

Obat ini menarik. Sebab, obat ini berasal dari ekstrak kulit batang pohon kina, yang biasa dijadikan sebagai obat malaria, antiplasmodium.

Menilik masa lampau, kina sebetulnya juga pernah digunakan pemerintah kolonial untuk memberantas penyakit. Tak hanya itu, kina bahkan dijadikan “ladang” untuk mencari untung.

Perlu diketahui, tanaman kina merupakan salah satu jenis tanaman industri yang dibudidayakan di Jawa, selain kopi dan teh, pada masa kolonial. Tanaman ini bukanlah tanaman asli di Jawa, melainkan tanaman dari Amerika Selatan dengan nama Cinchona.

Hasil utamanya adalah kulit batang yang merupakan sumber kinine, zat efektif anti malaria. Kala itu, malaria adalah penyakit yang bisa memakan jutaan korban. Kina menjadi satu-satunya obat penangkal penyakit malaria.

Dijelaskan dalam Perkembangan Industri Kina di Jawa 1854-1940, pengembangan kina banyak terjadi di Jawa lantaran keadaan ekologi dan iklim pegunungan yang mendukung. Spesies kina sendiri menyukai daerah pegunungan dengan ketinggian lebih dari seribu meter di atas permukaan laut; tanah yang kaya humus; temperatur rendah; dan curah hujan tidak kurang dari 2,5 m/tahun.

Sejak obat kina diketahui manjur pada 1638, tanaman ini ditanam besar-besaran. Di Indonesia sendiri, menurut catatan pemerintah pada 20 Juli 1856, jumlah tanaman kina yang pernah hidup ada di Pegunungan Gede, Cibodas, dan Pegunungan Malabar, Cinyiruan.

Tahun 1854, tanaman kina yang didatangkan oleh seorang botanis, Hasskarl, mulai dibudidayakan pemerintah dalam bentuk perkebunan. Meskipun, penanaman awal Kina di Cibodas gagal lantaran ada ketidakcocokan tanaman.

Penanaman selanjutnya baru berhasil di Cinyiruan. Lalu, pemerintah kolonial mengembangkan kina di Cibereum, Riung Gunung, Kawah Ciwide, Nagrak, Ranca Bolang, Cibitung, Telaga Patengan, dan Lembang.

Karena penanaman berkembang, Pemerintah kolonial pada 1872 mulai berkinginan meraup untung dari kina. Karena itu, mereka melakukan penelitian-penelitian dan uji coba terkait kulit, penyakit, dan hama dari tanaman itu. Begitu pula pemupukan, pemerintah mencari metode pemupukan yang sesuai.

Pemerintah kemudian bekerja sama dalam mewujudkan tanaman kina yang unggul melalui berbagai cara. Dalam catatan kolonial, sejak 1872 hingga 1915, pemerintah memperoleh keuntungan bersih dari penjualan kina sebesar 7,9 juta gulden.

Keuntungan tersebut semakin membesar setelahnya. Sejak 1916 hingga 1930, tercatat keuntungan bersih pemerintah colonial melalui perkebunan kina sebesar 10,4 juta gulden.

Begitulah sepak terjang pemerintah kolonial. Bisa dikatakan, pemerintah kolonial pernah membudidayakan kina, meskipun harga kina turun seiring waktu lantaran terlalu banyak jumlah produksi.

Corona: Belajar dari Pemberantasan Cacar di Masa Hindia Belanda

Setelah sempat memonopoli tanaman tersebut, pemerintah kolonial membuka ruang untuk pihak swasta turut berkecimpung dalam budidaya kina, yang mengakibatkan kompetisi antar perusahaan swasta dan negara. Sehingga, jumlah produksi kina menjadi melimpah dan berefek kepada turunnya harga.

Dengan potensi pengembangan budidaya kina yang baik, terbukti dari catatan sejarah, pemerintah ke depannya harus bisa mengembangkan budidaya tanaman obat. Mengingat, wabah corona telah menyebar luas ke seluruh dunia.

Sebetulnya, jika dilihat dari sisi ekonomi, ini bisa menjadi keuntungan. Karenanya, penting untuk kembali mengembangkan riset khusus kina secara komprehensif dan mendalam. Orientasi kebijakan riset yang terarah sangat perlu dirumuskan oleh Pemerintah. (AK)


0 Komentar