Mengenang Ribut Waidi, Sang Pencetak Gol "Emas" di Sea Games 1987
Ribut Waidi (berdiri dua dari kanan) bersama skuat Timnas Indonesia di Sea Games 1987. (FOTO: Republika)

JAKARTA, HALUAN.CO - Hari ini 57 tahun yang lalu, sang legenda sepak bola Indonesia, Ribut Waidi lahir, tepatnya pada 5 Desember 1962. Ia merupakan pemain andalan tim nasional Indonesia di era 1980 hingga 1990-an.

Nama Ribut Waidi mulai melambung ketika ikut mengantarkan PSIS Semarang meraih gelar juara perserikatan PSSI pada 1987. Dalam partai final, di Stadion Gelora Bung Karno, PSIS melibas Persebaya Surabaya dengan skor 1-0 melalui gol kemenangan yang dicetak oleh Tugiman.

Meskipun kala itu Ribut Waidi tidak mencetak gol di final, namun ia dinobatkan sebagai pemain terbaik di pertandingan tersebut.

Ribut Waidi sendiri mengawali karier sebagai pesepak bola bersama PS Sukun Kudus pada 1976 hingga 1980. Setelah itu, pemain yang bermain sebagai gelandang atau sayap kanan ini melanjutkan petualangannya bersama Persiku Kudus (1980), PS Kuda Laut Pertamina Semarang (1981-1984), dan PSIS Semarang (1984-1992).

Bersama PSIS Semarang, karier Ribut Waidi melejit. Ia pun dipanggil masuk skuat timnas Indonesia untuk SEA Games 1987 di Jakarta. Di pesta olahraga Asia Tenggara itu, nama Ribut Waidi semakin terkenal. Ia berhasil mengantarkan skuat Merah Putih meraih medali emas Sea Games. 

Nama Ribut Waidi langsung dielu-elukan di seantero Tanah Air setelah menjadi pahlawan Indonesia. Ia menjadi pahlawan berkat golnya pada menit ke-91 yang mengantarkan Indonesia meraih medali emas SEA Games cabang sepak bola.

Saat itu, Ribut dan kawan-kawan mengalahkan rival abadinya, Malaysia, di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta.

Yang lebih menegangkan lagi, gol "emas" Ribut Waidi itu terjadi pada menit ke-15 perpanjangan waktu pertama. Gol itu menjadi penentu tim nasional Indonesia untuk pertama kalinya meraih medali emas di cabang sepak bola sejak ikut SEA Games pada 1977.

Bagi Ribut, itu adalah kenangan yang paling tak terlupakan. Apalagi, saat lagu Indonesia Raya dikumandangkan. 

"Meski saya anak desa, saya sudah ikut memberikan yang terbaik bagi bangsa ini melalui sepak bola," kata Ribut kala itu, dikutip dari Medcom. 

Ribut Waidi memutuskan pensiun sebagai pemain pada 1992. Ia kemudian mendirikan sekolah sepak bola di Semarang, Jawa Tengah. 

Ribut Waidi meninggal pada 3 Juni 2012 di usia 50 tahun. Kepergian almarhum membawa duka yang mendalam istri dan tiga anaknya.

Untuk mengenang pengabdiannya dan jasa besarnya terhadap dunia sepak bola Tanah Air, Pemerintah Kota Semarang memutuskan untuk mendirikan patung Ribut Waidi sedang menggiring bola di Jalan Karangrejo, jalur utama menuju Stadion Jatidiri Semarang pada 2003 lalu.