Mengenang Yunahar Ilyas, Ulama Muhammadiyah Asal Bukittinggi
Ketua PP Muhammadiyah yang juga Wakil Ketua Umum MUI, Yunahar Ilyas. (FOTO: Muhammadiyah.or.id)

YOGYAKARTA, HALUAN.CO - Kabar duka menyelimuti Muhammadiyah dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Yunahar Ilyas, yang merupakan Ketua PP Muhammadiyah dan Wakil Ketua Umum MUI, meninggal dunia pada Kamis (2/1/2020) pukul 23.47 WIB di RS Sarjito Yogyakarta. 

Yunahar adalah salah satu sosok ulama yang dianggap berdedikasi tinggi terhadap dakwah islam. Ia merupakan Ketua PP Muhammadiyah yang membidangi Tarjih dan Tabligh.

Yunahar merupakan putra Bukittinggi kelahiran 22 September 1956. Ia menjadi anggota Muhammadiyah sejak tahun 1986.

Menamatkan pendidikan dasar di Padang, dua gelar S1 diperoleh di Fakultas Usluhuddin Universitas Ibnu Riyadh (1983) dan Fakultas Tarbuyah IAIN Imam Bonjol tahun 1984.

Adapun S2 dan S3 Yunahar diselesaikan di Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga pada 1996 dan 2004.

Selama di Muhammadiyah, Yunahar pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus PP Muhammadiyah periode 2000-2005 dan pada periode 2005-2010 menjabat sebagai Ketua PP Muhammadiyah.

Di luar muhammadiyah, tercatat sebagai salah satu unsur ketua di Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sehari-hari, ia bekerja sebagai dosen dan Guru Besar di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sejak 1987.

"Saya telah lama berkawan dan berinteraksi secara intens dengan Prof Yunahar sejak tahun 1980an, banyak teladan yang baik yang dapat diambil dari beliau. Penguasaan ilmu agama yang mendalam khususnya di bidang tafsir, kepiawaian dalam bertabligh yang mudah dicerna umat, ramah dan mudah bersahabat, serta kehati-hatian dalam bersikap sehingga seksama dan bijaksana," kata Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, Jumat (3/1/2020).

Innalillahi... Ketua PP Muhammadiyah Yunahar Ilyas Meninggal Dunia

Haedar mengatakan, Muhammadiyah sungguh kehilangan figur ulama yang santun dan menjunjung akhlak mulia seperti Yunahar.

"Beliau rutin mengajar tafsir di gedung PP Muhammadiyah Yogyakarta dan Jakarta serta dikenal ringan hati untuk memberi pengajian ke manapun," ucap Haedar.

Selain itu, almarhum Yunahar juga meninggalkan sejumlah buku penting dan menulis tarikh di majalah internal, Suara Muhammadiyah secara rutin.

"Semoga semuanya menjadi amal jariyah yang terus mengalir baginya, almarhum khusnul khatimah dan diterima di sisi Allah SWT," harapnya.