Menikmati Lezatnya Katupek Pitalah Khas Minangkabau

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Katupek atau Ketupat dalam bahasa Indonesia dicampur gulai sayur nangka. (Foto: Milna Miana)

PADANG, HALUAN.CO - Katupek atau Ketupat dalam bahasa Indonesia dicampur gulai sayur nangka atau yang dikenal dengan sebutan katupek pitalah merupakan salah satu makanan favorit untuk sarapan pagi. Namun dewasa ini, sesuai kebutuhan, katupek pitalah juga disantap pada siang dan malam hari.

Katupek pitalah adalah satu dari sekian banyak makanan tradisi yang masih terawat turun-temurun hingga kini oleh masyarakat Minangkabau.

Pitalah adalah sebuah nagari yang terletak di Kecamatan Batipuah, Kabupaten Tanah Datar. Letaknya tak jauh dari Kota Batusangkar. Uniknya, katupek pitalah ini, begitu melegenda di Kota Padang Panjang.

Katupek pitalah terdiri dari ketupat ukuran agak besar dibanding dengan ketupat biasa. Ketupatnya bukan pulut tapi beras. Saat disajikan, gulai sayuran yang terdiri dari rebung, nangka, juga lobak, yang kuahnya kental serta agak pedas.

Biasanya, gulai sayur ini dimasak dalam talenang atau belanga yang terbuat dari tanah liat yang dibakar. Ini yang membuat gulai katupek pitalah menjadi beda rasanya dengan yang dimasak di kuali.

Di Kota Padang, pedagang katupek pitalah cukup banyak yang hadir di berbagai ruang publik yang ramai dikunjungi dan pasar-pasar satelit, misal Pasar Pagi Padang, Lubuk Buaya, Tabiang, dan lain sebagainya.

Namun, jika Anda salah seorang yang suka berajojing di ruang publik GOR Agus Salim Padang pada Minggu, bisa sarapan selepas olahraga dengan katupek pitalah ini.

Pedagang katupek pitalah ini akrab dipanggil Uni Mirah berjualan di sekitar GOR Agus Salim sejak 6 bulan lalu. Sebelumnya, ia sudah berdagang juga sekitar tempat tinggalnya.

"Saya jualan setiap hari Minggu di GOR Agus Salim ini. GOR ini ramainya sekali sepekan pada hari Minggu karena banyak yang berolahraga di sini," kata Uni Mirah, Minggu (8/12/2019).

Setiap Minggu, Uni Mirah warga Tanah Datar ini, bisa menjual 200 porsi dengan harga satu porsi Rp8.000. "Kami buka dari pukul 06.00-10.00 WIB," ujar Uni Mirah.

Menurut Uni Mirah, katupek pitalah yang jual tetap mempertahankan keasliannya. Dia mengaku tak melakukan perubahan dan modifikasi rasa. Baginya, katupek pitalah yang ia warisi dari orangtuanya, tak perlu lagi diubah rasa dan cara membuatnya, termasuk menyajikannya ke pelanggannya.

Dalam mengolahnya, katupeknya harus menggunakan beras kualitas baik. Begitu juga dengan sesayurannya.

"Semua harus yang terbaik. Santan kelapanya harus kental. Dimasak dalam balango, bukan pakai kuali. Ketupat yang disajikan ke pelanggan tak perlu dipotong-potong. Dalam piring, ia tetap utuh," sebut Uni Mirah.

Uni Mirah jelaskan, untuk membuktikan asli atau tidak katupek pitalah itu, dapat dilihat cara pedagang menyajikannya ke pembelinya. "Jika dipotong-potong ketupatnya itu namanya lontong," selorohnya.


Penulis: Milna Miana


0 Komentar